
Aku melihat Mama, Bang Arsa dan Papa berdiri di depan kamarku, mereka masuk ke dalam kamarku. Aku beranjak dari tempat dudukku, aku menatap Papa dengan tatapan tajam.
“Berhenti disana.” Aku meminta Papa untuk tidak masuk ke dalam kamarku, ia pun menghentikan langkahnya di bawah bingkai pintu.
Aku berjalan mendekati Papa.
“Papa begitu mencintai Elina?” tanyaku pada Papa, setelah berdiri dihadapannya.
“Iya.” jawab Papa, tanpa ragu.
Aku mendengus.
“Kalo gitu ceraiin Mama.” Aku sebenarnya enggan berkata seperti ini tapi hatiku terlanjur sakit saat mendengar jawaban langsung dari mulut Papa.
“Papa sendirikan yang bilang kalo hubungan kalian bertahan karena kami, jadi aku minta saat ini juga Papa ceraiin Mama, Mama berhak bahagia dan terlepas dari belenggu yang nyakitin Mama selama ini.” Lanjutku.
Papa mengangguk, pelan.
“Papa tahu nggak, apa yang terjadi sama Syana satu bulan yang lalu?” tanyaku, menatap serius wajah Papa.
Papa terlihat mengernyitkan keningnya. Aku tersenyum, mengerti.
“Makasih, makasih karena Papa sudah menunjukkan kalau Syana nggak pernah berarti dihidup Papa.” Suaraku bergetar.
“Kejadian sebulan yang lalu? Kejadiaan apa maksud kamu?” Papa memegang tanganku, aku menepisnya.
“Syana hampir gila, Pa. Papa nggak tahu kan? Iyalah, Papa sibuk berbulan madu dengan Elina.”
“Maksud kamu?” Papa bingung.
“Post Traumatic Stress Disorder, Syana didiagnosis terkena gangguan itu.” ucap Bang Aksa, membantuku menjelaskan pada Papa mengenai kondisiku.
Papa memegang tanganku.
“Trauma? Apa penyebabnya, Nak.” tanya Papa, menatap lirih mataku.
“Udahlah, Pa. Udah basi!”
Aku berlalu meninggalkan semua orang, aku turun ke bawah dan mengambil minum ke dapur.
“Syana, Papa belum selesai bicara.” Papa mengejarku.
Semua orang berkumpul di dapur, aku menuangkan air ke gelas kemudian meminumnya dan tak menanggapi Papa yang terus bertanya.
“Kenapa semua orang diam aja? Aksa, kasih tahu Papa apa penyebab Syana mengalami depresi?”
Bang Aksa hendak menjawab pertanyaan Papa tapi aku mencegahnya.
“Jangan kasi tahu, udah terlambat buat Papa tahu.”
Papa berjalan mendekatiku, mataku tertuju pada pisau yang ada di dekat bak cuci piring, aku mengambilnya dan mengarahkan pisau itu di urat nadiku.
“Keluar dari rumah ini atau aku iris pergelanggan tanganku.” Aku mengancam Papa.
__ADS_1
Semua orang berteriak kaget melihat aku memegang pisau dan menempelkan pisau itu di pergelangan tanganku.
“Mas, tolong dengerin Syana.” Mama memohon pada Papa.
“Syan, jangan macem-macem!” Bang Arsa mencoba mendekatiku.
“Jangan kesini, Bang! Syana ga main-main kali ini.”
“Syana, kita bisa ngobrol dengan kepala dingin. Kamu jangan gegabah ya, Dek.” Bang Aksa membujukku untuk menyingkirkan pisau itu dari pergelangan tanganku.
“Pergi, Pa. Tolong ikutin Syana sekali ini aja.” Pinta Bang Aksa pada Papa.
“Papa nggak akan pergi sebelum kalian kasih tahu apa maksud dari perkataan Syana.” Papa bersikeras tidak ingin pergi sebelum tahu penyebab stressku satu bulan lalu.
“Papa belum puas ngancurin hidup Syana? Sekarang Papa juga mau Syana mati?!” teriak Bang Arsa, kesal.
“Enggak, Nak. Papa nggak mau kehilangan kalian.”
Aku tersenyum menyeringai.
“Papa udah kehilangan aku hari ini, setelah aku tahu wajah asli Papa.”
“Keluar sekarang!” aku berteriak sejadi-jadinya, badanku terasa sangat lemah, pandanganku tiba-tiba buram.
Aku membuka mataku, aku terbaring di kamar tapi bukan kamarku. aku melihat semua orang berkumpul di dekatku dengan raut wajah yang khawatir tapi aku tidak melihat Papa.
“Syan, tadi kamu pingsan. Jadinya, Bang Aksa bawa kamu ke kamar tamu.”
“Kamu pusing?” tanya Mama padaku, melihat aku yang mengerutkan keningku.
Aku menggelengkan kepalaku. Mama mengambil gelas yang sudah berisi air minum, memberikannya padaku.
“Minum dulu.”
Aku mendorong gelas itu, pelan.
“Syana nggak haus, Ma.”
Bang Aksa meletakkan bantal di belakang punggungku, membuatnya berada diantara punggungku dan sandaran ranjang.
“Dengerin Bang Aksa, Syana nggak boleh kalah sama Elina. Inget, tujuan Elina untuk menghancurkan Syana dan kalau dia melihat kondisi Syana sekarang dia pasti bakalan bahagia.” Bang Aksa menasehatiku dengan suara lembut, seolah ia mengatur ritme bicaranya.
“Iya, Bang.” Sahutku, tersenyum menatap Bang Aksa.
“Kamu boleh numpahin semua kekesalan kamu di rumah, tapi jangan dihadapan Elina.” sambung Bang Aksa.
“Iya Bang, iya.” Aku memegang tangan Bang Aksa, sambil tersenyum menatapnya.
Bang Aksa ikut tersenyum.
“Gitu dong, ini baru Adik aku.”
“Aku?” tanyaku, meledek Bang Aksa.
__ADS_1
“Cute banget, aku.”
Bang Aksa mengacak-acak rambutku.
“Bang Aksa!” teriakku jengkel.
Malamnya, saat waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB, aku menghampiri Mama yang sedang ada di kamarnya, aku mengetuk pintu kamar Mama yang seperti biasanya tidak dikunci, Mama membolehkan aku memasuki kamarnya.
“Ma, aku tidur disini ya. Boleh nggak?” tanyaku, pada Mama yang sedang mengoles skincare di wajahnya.
“Boleh dong, sayang.” jawab Mama, sambil bercermin.
Aku duduk di ranjang sambil melihat Mama, Mama melihatku dari cermin sambil tersenyum, setelah selesai akhirnya Mama ikut naik ke atas ranjang. Kami merebahkan tubuh sambil menatap lelangit kamar.
“Ma” aku memanggil Mama, yang ada di sampingku.
Aku melihat Mama.
“Dulu sebelum aku tidur Mama selalu bacain dongeng buat aku, kisah cinta cinderalla yang dinikahi oleh pangeran tampan. Mama selalu bilang bahwa kisah cinta mereka berakhir indah, aku menyetujuinya saat itu tapi setelah beranjak dewasa aku mendapatkan beragam kisah cinderalla yang lainnya Ma... aku menemukan sisi gelap dari dongeng itu. Dan saat ini tahu, kalo nggak ada pangeran yang mau membuang-buang waktunya untuk mencari sepatu kaca dan kisah cinta tak selalu berhasil manis. Aku yakin, cerita dongeng semacam itu dibuat untuk menutupi fakta menyakitkan dari cerita yang sebenarnya terjadi di dunia nyata.”
Mata Mama terlihat berkilau, Mama mengelus rambutku.
“Syan, ada banyak hal yang bisa berubah di hidup ini. Salah satunya cinta, ada sebagian orang yang tidak bisa mempertahankan cintanya hingga akhir. Kita tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi tapi kita bisa mengontrol apa yang kita pikirkan mengenai apa yang sedang terjadi.”
“Mama harap kamu bisa berdamai dengan keadaan ini, Papa kamu sudah berberapa kali mengkhianati Mama...”
Aku tersentak kaget dengan pengakuan Mama, aku menyalip perkataan Mama.
“Kenapa Mama diam aja?”
Mama tersenyum menatapku.
“Mama diam karena Mama mau menyelamatkan pernikahan Mama, Syan. Hati Mama memang sakit saat pertama kali Mama tahu Papa kamu selingkuh, Mama berulang kali menyalakan diri Mama sendiri.”
Aku memegang tangan Mama.
“Ma, Mama nggak salah.”
“Mama berusaha keras untuk menjadi istri yang Papa kamu inginkan tapi semua usaha Mama sia-sia, Papa sudah tidak mencintai Mama lagi. Setelah kedua kalinya Mama tahu perselingkuhan Papa, hati Mama seolah sudah tidak mengenal perasaan kecewa itu lagi, Mama sudah mulai menutup mata dengan pengkhianatan yang Papa kamu lakukan.”
“Kamu tahu kalau saat itu Mama belum mempunyai kalian, mungkin Mama akan mengakhiri hidup Mama.”
Aku semakin erat menggenggam tangan Mama.
“Mama nggak boleh kayak gitu, jangan sakitin diri Mama karena dia.” Aku berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
Mama menyeka air mataku.
“Kamu juga, jangan kayak tadi lagi. Mama nggak bisa kalau kehilangan kalian, bahkan salah satu dari kalian pun.”
Aku memeluk Mama erat.
“Iya, Syana janji Ma.”
__ADS_1