KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 10 Cincin


__ADS_3

Aku tiba-tiba teringat dengan cincin yang Elina pakai.


“ Oh iya, gue tadi liat cincin punya lo.... cincinnya mirip banget sama punya gue.”


“ Cincin ini?” Elina memperlihatkan cincin yang melingkar di jarinya padaku, mendekatkan jari-jari lentiknya di samping pipinya.


“ Iya."


Aku memanggil Khenzie, menanyakan cincinku yang dia temukan.


“ Khen, gue izin ambil cincin gue di tas lo ya.” pekik ku pada Khenzie, yang ada sedang membaca buku di samping Diego.


“ Iya.” Sahut Khenzie, tanpa melihat ke arah kami.


“ Kok cincin lo bisa ada sama Khenzie?” tanya Elina, penasaran.


“ Iya, jadi kemaren gue beli es krim di tempatnya Khenzie. Terus tanpa sengaja gue ngejatuhin cincin ini dan untunglah Khenzie yang nemuin di dekat store dia.” Jelasku pada Elina, yang penasaran.


“ Oh.” Elina mengangguk.


Setelah menemukan cincin itu aku langsung memakainya lalu menarik tangan kanan Elina dan mendekatkan jariku pada jari manis Elina, yang melingkar cincin yang sama dengan punya ku.


“ Tuh kan sama banget.”


“Ih kok bisa mirip banget, ya.” Elina terkejut begitu menyadari cincin kami yang begitu mirip.


Aku tersenyum sambil memegang cincin yang sudah tertaut di jari manis ku.


“ Ini tuh cincin pemberian Bokap gue tahun lalu, di ulang tahun gue yang ke 17 tahun. Lo datengkan waktu itu?”


“Iyalah, lo nggak inget gue keraokean sama Diego di ulang tahun lo tahun lalu?”


Aku mengernyitkan keningku, berusaha mengingat kenagan di ulang tahunku tahun lalu.


“Ah, iya! Gokil sih, kalian berdua.” Aku berhasil mengingat kenangan menyenagkan itu, saat Elina dan Diego tiba-tiba menggelar konser mendadak di acara ulan tahunku.


“Gue juga liat waktu Bokap lo ngasih kotak kecil warna putih gitu terus pas lo buka ternyata isinya cincin ini, lo keliatan bahagia banget hari itu. Bokap lo sweet banget, ya.” Ungkap Elina, yang tersenyum memandangiku, aku bisa merasakan raut wajahnya yang bahagia saat mengingat moment itu.


“ Iya, dia pria selalu memenuhi gue dengan kasih sayangnya. Nggak pernah sekalipun gue kecewa sama perlakuan Papa sama kami.” Aku tersenyum dengan wajah yang berbinar-binar begitu mengingat Papa yang selalu memberikan kami cintanya.


Elina tersenyum bahagia mendengar ceritaku, kemudian Pak Rahmat pun masuk ke kelas kami. Pak Rahmat adalah guru mata pelajaran sejarah, ia dikenal sangat tegas.

__ADS_1


“ Pagi, anak-anak “ sapa Pak Rahmat, begitu masuk ke kelas.


“ Siap! Berdiri! Beri Salam!” perintah Khenzie, mengintruksi semua murid di kelas kami untuk memberi salam pada Pak Rahmat, Khenzie menjabat sebagai ketua kelas kami.


“ Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarahkatuh.” Kami mengucapkan salam kepada Pak Rahmat, secara bersamaan.


“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarahkatuh.” Balas Pak Rahmat, kemudian mempersilakan kami untuk kembali duduk.


Saat Pak Rahmat hendak mengambil spidol dari dalam tasnya, tiba-tiba matanya tertuju pada Khenzie dan Diego.


“ Khenzie, kenapa kamu duduknya sama Diego?” tanya Pak Rahmat, yang baru menyadari kalau Khenzie duduk di samping Diego.


“ Lagi mau duduk disini aja, Pak.” Jawab Khenzie, yang terlihat santai.


“ Nggak, nggak boleh! Kamu pindah sekarang, kalau duduk sama Diego ntar kamu di ajarin nonton film dewasa bukannya belajar.” Gerutu Pak Rahmat, meminta Khenzie kembali duduk di tempatnya.


“ Ini juga cewek dua ini, kembali ke meja kalian masing-masing.” Lanjut Pak Rahmat, ia meminta aku dan Elina untuk kembali duduk di meja kami masing-masing.


“ Baik Pak.”


...     Jung Jae-hyun As Diego



...


Kami pun kembali ke kursi kami masing-masing, kursi aku dan Elina bersebelahan.


“ Keluarin buku kalian, buka halaman 65... hari ini kita belajar mengenai ‘Perkembangan Politik Masa Demokrasi Liberal’.” Pinta Pak Rahmat, sambil membuka buku paket miliknya.


“Baik, Pak.” Sahut semua murid di kelas, secara bersamaan.


Di jam istirahat, semua murid pergi menuju kantin sekolah begitupun dengan kami bertiga, baru saja aku hendak keluar kelas, aku melihat Brooklyn sudah menunggu di depan pintu sambil tersenyum.


“ Ke kantin, yuk.” Ajak Brooklyn, tersenyum seolah kejadiaan pagi tadi tidak pernah terjadi.


“ Gue duluan, ya.” Kataku pada Khenzie dan Elina, yang ada di belakangku.


Aku dan Brooklyn pun berjalan menuju kantin, di kantin aku memesan bakso daging sedangkan Brooklyn memesan nasi goreng telur.


__ADS_1


📷: Pinterest


“ Udah nggak jealous lagi ni?” tanyaku pada Brooklyn, yang sedang menyantap nasi gorengnya.


Brooklyn tersenyum sembari meletakkan sendoknya ke piring.


“ Selama kamu pacar aku, aku nggak akan jealous sama siapapun.” Jawab Brooklyn, mengelus pipiku.


“ Gitu dong.”


Aku tersenyum lega mengetahui Brooklyn sudah tidak cemburu lagi melihat kedekatanku dengan Khenzie, walaupun sebenarnya aku percaya diri mengatakan bahwa hubunganku dan Khenzie tidak lebih hanyalah sebatas hubungan persahabatan.


“ Sayang.” Brooklyn memanggilku, yang sedang menegak es teh.


“ Iya?” tanyaku, meletakkan gelas ke meja.


“ Aku kayaknya harus ke kelas deh, soalnya tadi aku belum selesai ngerangkum dan tugasnya mau di kumpulin pas lonceng masuk kelas. Aku duluan, ya. Gapapa kan, sayang?” Jelas Brooklyn.


“ Iya duluan aja, gapapa.”


“ Makasih ya, aku bayar dulu.” tutur Brooklyn, beranjak sambil menyendok nasi goreng dan melahapnya, untuk suapan terakhir.


Brooklyn kemudian membayar makanan yang kami beli di kantin, aku hanya tersenyum, menatap punggung Brooklyn yang berlaku meninggalkan kantin.


                          Epilog (2)


Di belakang gedung sekolah, seorang perempuan dengan sepatu hitam yang terlihat sedikit bordirannya tengah berbicara dengan Brooklyn, perempuan itu terlihat mendekatkan tubuhnya pada Brooklyn.


Aku kembali ke kelas, sampai di kelas aku tak melihat seorang pun, mungkin anak-anak yang lain masih ada di kantin, aku menarik tas ku yang ada di laci meja lalu membawanya ke atas meja, aku merogoh novel yang selalu aku bawa setiap kali aku pergi, untuk mengisi kekosongan.


“Syan.” Panggil seseorang dari arah belakang, aku tidak tahu sejak kapan dia datang karena pintu masuk untuk murid ada di belakang.


Aku menoleh ke belakang, aku mengenali orang yang memanggilku itu, ia tersenyum menyapa ku. Dia duduk di samping, aku masih memegang novel dan membacanya.


“Gue liat lo jalan sama Brooklyn, di mall kemaren.” Katanya, memberi tahu kalau dia sempat melihat aku dan Brooklyn yang pergi bersama di Mall kemarin.


Aku memiringkan tubuhku, agar bisa melihat wajahnya, aku meletakkan novel yang aku baca di atas meja.


“Oh iya, gue sama Brooklyn emang ke Mall kemaren sore tapi gue kok nggak liat lo, Ren?” aku bertanya pada Redana.


Redana menarik napas, lalu membuangnya.

__ADS_1


“Gimana lo mau liat gue, orang lo aja lagi berantem sama Brooklyn.” Jelas Redana.


“Iya, emang tuh anak kadang suka ngeselin.” Kataku, sambil mengingat Brooklyn.


__ADS_2