
Esok harinya, jalanan pagi isi terasa lenggang, cuaca pun begitu sejuk. Lalu lintas begitu kondusif, sampai akhirnya sebuah mobil mewah berwarna biru tua mendadak menyalip busway dengan kecepatan tinggi yang menyebabkan supir busway tiba-tiba mengerem paksa. Suara mendecit membuat ngilu dada, penumpang tersentak tidak mampu menahan keseimbangan, beruntung Bapak supir berhasil mengendalikan busway.
Tubuhku berhasil ditahan oleh Khenzie, Khenzie membantuku untuk kembali tegak. Aku melihat mobil itu, mobil yang melaju dijalur busway, mata ku terbelalak begitu melihat kalau mobil itu ternyata mobil milik Brooklyn.
"Brooklyn." Gumam ku, setelah menyadari bahwa mobil itu milik Brooklyn.
Di sekolah, lima siswa di panggil menghadap operator sekolah untuk mendaftarkan SNMPTN. Salah dua dari lima orang itu adalah aku dan Khenzie.
"Lo mau ngambil jurusan apa, Khen?" aku dan Khenzie berjalan menuruni tangga, menuju ruangan operator sekolah yang berjarak 200 meter dari kelas kami.
"Manajemen Bisnis."
Khenzie memang menyukai hal-hal yang berbau bisnis sejak lama, terbukti dengan bisnis ice cream yang sedang dia kembangkan.
"Lo?" Khenzie bertanya padaku.
"Hukum, lo tahu sendiri betapa cintanya gue sama hukum." Aku menyebab pertanyaan Khenzie dengan mata yang berbinar.
"Lo tahu kan kalo hukum indentik dengan keadilan meskipun pada kenyataannya justru sebaliknya, sebuah tempat terlihat suci dan bersih namun ternyata di dalamnya hanyalah tempat yang kotor."
Aku tersenyum simpul, menatap lurus ke depan.
"Dan lo juga tahu kan, gue bukanlah orang yang bersih tapi untuk menjadi bersih... gue hanya perlu sedikit bersih diantara kotoran-kotoran itu."
Aku berhenti melangkah, Khenzie mengikuti ku. Aku menatap mata Khenzie dengan serius.
"Nggak ada orang yang benar-benar bisa adil, Khen.... yang ada hanyalah orang yang berusaha menegakkan keadilan... lo percaya kan kalo gue bisa menegakkan keadilan itu?" aku bertanya pada Khenzie, yang berdiri di depanku, mata ku mencari jawaban dari tatapan matanya.
Mata Khenzie terlihat sedang berbicara, ia menatapku dengan seksama.
"Percaya! Gue mungkin nggak akan selalu berjalan dijalan yang sama, sama lo. Tapi, sesulit apapun yang akan lo perjuangkan... gue yakin lo selalu mencari jalan untuk berhasil. Lo orang yang hebat, lo harus percaya itu." Khenzie memegang pundak ku.
"Gue udah terlalu gera sama hukum warisan yang selalu mengedepankan orang-orang penting."
Khenzie tersenyum menatapku, memberikanku energi positif.
"Syana!"
Suara itu terdengar dari bawah, aku melihat ke pangkal anak tangga untuk memastikan siapa yang memanggilku.
"Brooklyn." Gumam ku, melihat Brooklyn yang berjalan mendekati aku dan Khenzie.
Khenzie membalikkan badannya, ia melihat Brooklyn.
"Aku mau ngomong bentar." Brooklyn memegang tanganku, aku menarik tangan ku.
"Silakan, disini aja."
__ADS_1
Brooklyn melihat Khenzie sekilas.
"Aku mau ngomong berdua." Tanpa persetujuan dari ku Brooklyn langsung menarik tanganku ke bawah tangga.
"Lepasin nggak! Aku bisa jalan sendiri." Aku berseru kesal, pergelangan tanganku terasa sakit di tariknya.
“Mau ngomong apa?”
“Jangan daftar SNMPTN.”
Aku yang semula melihat ke arah lain, begitu mendengar ucapan Brooklyn membuatku langsung menatapnya dengan tatapan serius.
“Kamu tahu kan... aku udah belajar mati-matian selama sekolah buat ikut jalur SNMPTN ini, dan sekarang kesempatan aku udah terbuka... terus kamu dengan gampangnya minta aku nggak ikut? Enteng banget ya mulut kamu!” Dari nada bicaraku, aku yakin Brooklyn menyadari bahwa aku sedang kesal padanya.
Brooklyn meraih tanganku, ia memegang tanganku.
“Aku nggak mau kamu terlihat dalam hukum, aku nggak mau! “
“Aku mau kamu ngambil jurusan dokter, biar kita selalu bisa sama-sama.” Lanjut Brooklyn.
Aku tersenyum, sudut kanan bibirku terangkat.
“Itu impian kamu, jangan tarik aku ke dalam hal yang sama sekali nggak aku minati.” Aku berjalan satu langkah ke belakang, melepaskan tanganku dari pegangan Brooklyn.
“Kamu punya impian untuk menjadi dokter dan aku juga punya impian untuk menjadi pengacara, nggak ada yang baik ataupun nggak.... kita hanya berbeda dalam memilih takdir yang akan kita gapai.” Lanjutku.
“Tapi, aku pengen kita...”
“Kamu cuma pacar aku, jadi jangan pernah mencampuri impian dan cita-citaku dan ya... aku nggak pernah ngasih kamu hak untuk ngelarang aku itu.” Tegas ku, menatap Brooklyn dengan tatapan serius.
Aku mendongak, menarik napas perlahan.
“Aku rasa kita perlu memikirkan ulang tentang hubungan kita.” Aku mengatakannya sambil berlalu meninggalkan Brooklyn.
Di kelas, saat semua anak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Elina tiba-tiba bertanya padaku mengenai Brooklyn.
“Syan, gue tadi nggak sengaja ngeliat lo sama Brooklyn di samping gedung... maaf ya, tapi gue ngerasa kayaknya kalian lagi terlihat ngobrolin hal yang serius. Kalian berantem?” tanya Elina.
Aku menghela napas berat.
“Dia minta gue buat nggak daftar SNMPTN, gue kesal banget El.”
“Terus gimana, lo nggak daftar?” Elina terlihat penasaran
“Daftarlah! Dia nggak berhak ngatur hidup gue lebih dalam, apalagi mengenai impian gue.” tegas ku, kesal.
Elina mengangguk, mengerti.
__ADS_1
“Ehmm... lo sama Khenzie satu jurusan?” Elina bertanya dengan hati-hati, suaranya sengaja ia pelankan.
Aku melihat Elina yang duduk di sampingku.
“Nggak, dia ngambil jurusan manajemen bisnis tapi....”
“Tapi apa?” Elina menyela penjelasan ku.
“Kami memilih tiga universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda.”
“Enak banget lo bisa bareng sama Khenzie terus.” Perkataan Elina terdengar seperti bentuk protesnya.
Aku tersenyum melihat wajah Elina yang cemberut.
“El, bisa aja nanti gue sama Khenzie diterima di universitas yang berbeda... kan ini baru daftar doang.” Aku mencoba menghibur Elina
Elina hanya mengangguk.
“Iya,iya.” Tutur Elina, yang terdengar pasrah.
“Syan!” seru seorang siswa, yang berdiri di bingkai pintu kelas kami.
Aku sontak melihat ke sumber suara.
“Kenapa?” tanya ku, dengan kelopak mata yang melebar.
“Di panggil Brooklyn.” Kata siswa itu, sepertinya dia teman Brooklyn walaupun aku tidak begitu yakin karena aku belum pernah melihat mereka bersama.
Aku dengan berat hati beranjak, mengikuti siswa itu dari belakang.
“Kemana?” aku bertanya karena kami baru saja melewati kelas Brooklyn, semula aku mengira Brooklyn memanggilku ke kelasnya tapi setelah melewati kelasnya pikiranku berubah, tebakan ku salah.
Siswa itu diam, tidak menjawab pertanyaanku.
“Gue nggak akan jalan kalo lo nggak jawab pertanyaan gue.” Aku mengancamnya, aku berhenti mengikutinya.
Siswa itu melihat ke belakang, yang dimana ada aku disana. Ia ikut menghentikan langkahnya.
“Warung di ujung sekolah.” Ia menjawab pertanyaanku dengan singkat, seolah memberikanku teka-teki.
Aku mengernyitkan kening, alisku seolah hendak menyatu.
“Ngapain Brooklyn disana?” nada suaraku berubah, aku terkejut mengetahui Brooklyn ada disana.
Warung di ujung sekolah terkenal sebagai tempat basecamp murid-murid yang nakal di SMAN Sebangsa Jakarta.
“Dia pingsan.” Jawab siswa itu.
__ADS_1
Kedua mataku terbuka lebar, aku tersentak mendengarnya.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?!”