KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 39 Simulasi UN


__ADS_3

Hari-hari berlalu, aku mulai memfokuskan diri untuk menghadapi UN. Mengunjungi perpustakaan nasional, membeli buku kisi-kisi UN dan mempelajarinya. Hampir tiap hari aku belajar dengan giat, menyingkirkan segala masalah yang selalu berkeliaran di pikiranku.


1 minggu sebelum UN berlangsung, sekolah kembali mengadakan simulasi ujian sekaligus memastikan kembali apakah laptop-laptop yang dipakai untuk UN bekerja dengan baik. Aku mendapatkan jadwal simulasi di pagi hari, aku merasa melegakan mendapatkan jadwal simulasi di pagi hari karena biasanya di pagi hari otak cenderung bekerja dengan baik.


"Bismillah." Aku meng-klik tanda mulai, laptop menampilkan soal-soal yang hendak dijawab oleh masing-masing peserta simulasi UN.


30 menit awal, semua berjalan lancar, aku bisa menjawab dengan baik. Sebelum kemudian, kepalaku terasa berat, badanku berkeringat dingin padahal dalam ruangan ber-AC, pandanganku buram, aku tidak bisa melihat dengan jelas layar laptop, aku terus mengusap-usap kedua mataku.


"Arsyana, kamu kenapa?" tanya Pak Burhan, memegang bahuku.


Aku mendonggakkan wajahku dengan mata yang terasa berat untuk membuka lebih lebar.


"Nggak, Pak. Saya nggak kenapa-napa." Aku berusaha menyakinkan Pak Bruhan bahwa aku baik-baik saja.


"Kalau sakit kasih tahu Bapak."


"Iya, Pak."


Pak Burhan berlalu, ia kembali berkeliling melihat murid yang sedang melaksanakan simulasi ujian.


"Syan, fokus!" Aku menasehati diriku sendiri, sambil memukul pelan kepalaku sendiri.


Aku merasa ada yang mengalir dari hidungku, aku mengelapnya dengan jariku, mataku terbuka lebar begitu melihat darah di jariku, aku mimisan. Aku berusaha mengabaikan darah di jemari tanganku, aku kembali melaksanakan ujian tapi darah terus mengalir dari hidungku membuat lengan kemejaku berlumuran darah karena aku mengelap darahku disana. Pak Burhan sepertinya sadar dengan gerak-gerikku yang tidak seperti biasanya, ia mendekatiku.


"Astagfirullah, Syana!" Pak Burhan terkejut melihat darah di lengan kemejaku, ia berteriak cemas.


Pak Burhan membantuku untuk berdiri, tapi aku tetap memaksakan untuk tetap duduk dan melaksanakan ujian.


"Syana, kamu lagi sakit. Kesehatan kamu lebih penting sekarang!" Pak Burhan memaksaku untuk berdiri.


"Ujian." Aku berkata pelan, sambil menjawab soal.


Pak Burhan melihat ke monitor komputer yang ada di hadapan ku.


"Jawaban-jawaban kamu udah tersimpan, jangan khawatir. Kita ke UKS sekarang."

__ADS_1


"Nggak, Pak. Saya harus selesaikan ini."


"Syana, ini cuma simulasi! Kamu nggak harus maksain diri kamu yang lagi sakit!"


Aku menghiraukan perkataan Pak Burhan, aku terus menjawab soal-soal yang tersisa. Pandanganku semakin kelabur, tiba-tiba pandanganku gelap tapi aku masih bisa mendengar orang-orang yang berteriak memanggil namaku.


"Syan, maafin Mama nggak bisa jagain kamu." Aku sayup-sayup mendengar suara Mama.


Perlahan aku membuka mataku, aku terbaring dengan lampu-lampu yang menyilaukan mataku. Aku melihat Mama yang duduk di samping ranjang tempat aku berbaring, sambil tertunduk menggenggam jari-jariku serta Bang Aksa yang sedang memijat-mijat kakiku.


"Ma." panggilku, pelan.


"Syan, akhirnya kamu bangun. Mama khawatir banget begitu dapat kabar kamu pingsan di sekolah." Mama mengelus rambutku.


Aku kembali teringat dengan simulasi ujian yang sedang berlangsung, aku memaksakan diriku untuk bangkit.


"Syana! Kamu mau kemana? Jangan bahayain diri kamu, kamu lagi di infus." Bang Aksa memintaku untuk tidak banyak bergerak.


Aku mengambil kantong infus, aku membawanya bersamaku.


“Bisa nggak sekali aja kamu dengerin orang lain?” tanya Bang Aksa padaku, yang hendak meninggalkan bangsal rumah sakit.


“Syana harus selesaiin ujian, Bang.” Suaraku bergetar.


Bang Aksa mendekatiku, ia memegang bahuku.


“Dengerin Bang Aksa, sekali ini aja. kamu perlu istirahat, tubuh kamu lagi nggak baik-baik aja. Mengenai ujian, sebelum pingsan kamu sudah menjawab semuanya dan sudah berhasil tersimpan di server sekolah.” Bang Aksa menghaluskan nada suaranya saat menjelaskan semuanya padaku.


“Kata siapa?” tanyaku, tak yakin dengan penjelasan Bang Aksa.


“Pak Burhan, saat dia anter kamu ke rumah sakit.”


“Nggak, Syana nggak percaya.” Aku menyingkirkan tangan Bang Aksa yang memegang bahuku, kembali melangkah meninggalkan bangsal rumah sakit.


“Kenapa kamu jadi kayak gini sih sekarang? Kenapa sulit banget buat kamu percaya sama orang lain? Kenapa Bang Aksa ngerasa udah nggak kenal sama kamu lagi, Bang Aksa udah kehilangan kamu yang dulu. Arsyana yang selalu memandang dunia dengan sudut pandang yang menawan, warna-warna cerah yang dia tunjukkan selalu berhasil memukau setiap orang, Arsyana yang selalu...”

__ADS_1


“Arsyana itu sudah mati setelah warna gelap yang diberikan oleh orang kepercayaannya.” Aku menyela perkataan Bang Aksa, aku langsung menatap ke mata Bang Aksa yang berkaca-kaca.


Aku mendengus kesal, lalu kembali membaringkan diriku di ranjang rumah sakit.


Mama mengelus rambutku, kelopak matanya terlihat basah. Bang Aksa mendekatiku, ia berdiri di samping Mama. Aku memiringkan badanku, membuat Mama dan Bang Aksa tidak melihat wajahku, air mata mengalir melewati mataku.


“Maafin Syana.” Aku berkata dalam hati sambil menyeka air mataku.


17 April 2018, satu minggu setelah UN selesai dilaksanakan. Saat sedang makan bersama di meja makan, aku mendapat kabar dari Pak Burhan melalui What’s App, ia mengirimkan sebuah foto screenshoot.


“Syana, selamat kamu berhasil lolos SNMPTN dengan jurusan hukum. Selamat sekali lagi, Arsyana. Bapak bangga sama kamu!” tulis Pak Burhan, setelah mengirimkan foto screeanshoot yang menyatakan aku lulus SNMPTN.


Begitu selesai membaca chat dari Pak Burhan, aku langsung beranjak dan membuat kursiku terdorong ke belakang.


“Kamu kenapa?” tanya Bang Arsa, yang duduk di sebelahku.


Semua orang menatapku, heran. Aku tersenyum bahagia menatap semua orang yang ada di meja makan lalu menunjukkan chat yang aku terima dari Pak Burhan.


“Bacain, Sa. Kamu tahu sendiri Mama udah rabun.” Mama meminta Bang Arsa untuk membacakan chat dari Pak Burhan.


Bang Arsa tersenyum melihatku, sepertinya dia sudah sempat membaca chat itu karena Pak Burhan menulis ‘LULUS SNMPTN’ dengan huruf besar. Bang Arsa beranjak, ia berdiri di sebelahku, sebelum membaca chat itu dengan keras, Bang Arsa berdehem terlebih dahulu lalu membaca chat itu dengan keras. Mama dan Bang Aksa yang duduk bersebelahan, terkejut sekaligus senang begitu mendengar bahwa aku lulus SNMPTN.


Bang Aksa hendak memelukku tapi Bang Arsa langsung menyalipnya, Bang Aksa menarik rambut Bang Arsa hingga membuat Bang Arsa berteriak.


“Selamat ya, Adikku tersayang.” Kata Bang Arsa, mengucapkan selamat sambil memelukku.


“Gantian dong.” Bang Aksa menarik tangan Bang Arsa, membuat Bang Arsa melepaskan pelukkannya dariku.


Bang Arsa mengarahkan kepalan tangannya ke kepala Bang Arsa, meskipun itu hanya bentuk gertakkan darinya.


“Keren, selamat ya.” Bang Aksa mengelus rambutku.


Mama tersenyum menatap kami.


“Mama nggak mau ngasih selamat ke aku?” tanyaku pada Mama, sambil merentangkan tanganku.

__ADS_1


“Syan, selamat untuk pencapaian kamu. Mama bangga sama Syana, Syana bisa menentukan jalan hidup Syana dengan baik.” Suara Mama bergetar, ia memelukku dengan sangat erat, aku mengelus pundak Mama sambil tersenyum lebar.


“Makasih, Ma. Mama udah mendidik Syana dengan sangat baik, apa yang Syana capai hari ini adalah buah dari do’a-do’a yang Mama langitkan.”


__ADS_2