KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 4 Bang Aksa


__ADS_3

Brooklyn tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, aku pun bergegas menuju kamarku yang ada di lantai atas kemudian mengambil kotak kecil yang aku letakkan di atas laci samping kasur lalu kembali ke lantai bawah.


“ Sayang, tutup matanya coba “ pinta ku, sambil menuruni tangan, menyembunyikan kotak kecil di belakang punggung.


Brooklyn pun mengiyakan dan menutup matanya, aku bergegas mendekati Brooklyn.


“ Tadaaa! “ seru ku, menyodorkan kotak kecil berwarna hitam ke hadapan Brooklyn.


Brooklyn tersenyum lalu membuka matanya.


“ Apa ini? ” tanya Brooklyn, yang mengambil kotak kecil berwarna hitam itu.


Aku tersenyum dan memberikan isyarat agar Brooklyn membuka kotak itu.


“ Jam!“ seru Brooklyn, setelah membuka kotak yang aku berikan padanya.


Brooklyn memelukku.


“ Makasih sayang “ lanjutnya, Brooklyn terlihat sangat senang.


Aku melepaskan pelukkan Brooklyn.


“ Mau aku pakein nggak?” tanyaku, menawarkan diri untuk memasangkan jam tanganku di tangan Brooklyn.


Brooklyn menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, ia menyodorkan tangannya di depanku, menyetujui tawaranku untuk memasangkan jam di tangannya.


“ Kamu tahu nggak?” tanya Brooklyn padaku, yang sedang memasangkan jam tangan di tangan kirinya.


“ Tahu apa?” aku balik bertanya.


“ Aku sayang banget sama kamu “ ungkap Brooklyn, matanya terlihat berkilau saat mengungkap perasaannya padaku.


Aku menatap Brooklyn, terlihat rona bahagia terpancar pada matanya yang kecoklatan.


“ Aku juga, aku sayang sama kamu.“ balas ku, tersenyum menatap Brooklyn.


Jam tangan yang aku berikan pada Brooklyn kini sudah terpasang ditangan kirinya.


“ Udah!” seru ku, mengetuk jam tangan yang sudah terpasang di tangan Brooklyn.


“ Makasih.”

__ADS_1


Aku membalas ucapan terima kasih Brooklyn dengan senyuman di wajahku.


“ Oh iya, nanti malam kita dinner yuk.” Ajak Brooklyn, yang terlihat excited.


“ Kemana?” tanyaku, penasaran.


“ The Hour Cafe.” sahut Bang Aksa, yang baru saja turun.


The Hour Cafe adalah Cafe yang di dirikan oleh Bang Arsa, disana memang selalu ramai dikunjungi oleh anak-anak seusia kami, lebih tepatnya anak-anak remaja dan dewasa muda.


“ Bang Aksa! Syana nanya sama pacar Syana ya, bukan sama Bang Aksa!” ketus ku, yang jengkel oleh Bang Aksa.


Aku kembali melihat Brooklyn.


“ Dinner dimana sayang? “ tanya ku, sekali lagi.


aku melirik Bang Aksa yang seolah coba menguping percakapan kami.


“ Iya, kita di Cafenya Abang kamu aja.” Jawab Brooklyn, setelah beberapa saat.


Aku melirik Bang Aksa yang tersenyum lega kemudian membuka kaleng soda yang akan dia minum.


“ Yaudah kalo gitu aku ganti baju dulu ya, casual aja kali ya.... ntar kalo heboh dimarahi Om Aksa lagi.” Pungkas ku, dengan suara yang sedikit dikeraskan agar terdengar oleh Bang Aksa yang sedang berada di dapur.


“ Yuk.” Ajak ku, begitu kembali menemui Brooklyn yang masih duduk ditempat semula.


“ Mau pergi sekarang?” tanya Brooklyn, beranjak dari sofa sambil merapikan pinggir bajunya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, sambil tersenyum.


“ Tapi kan masih sore.” Brooklyn sepertinya ragu mau pergi sekarang, aku bisa melihat dari raut wajahnya yang mengerutkan keningnya.


“ Gapapa, kita kan bisa jalan-jalan bentar.”


“ Oke, deh. Mama kamu mana?” tanya Brooklyn, melihat ke dapur.


“ Mama lagi berkebun di halaman belakang, kenapa?”


“ Mau pamitan.”


“ Bentar, aku panggilin dulu ya.”

__ADS_1


Aku berjalan menemui Mama yang sedang berkebun di halaman belakang rumah, di mana sudah banyak sekali tanaman yang Mama tanam, mulai dari sayuran hingga buah-buahan.


“ Ma.” Panggilku, begitu duduk di dekat Mama.


“ Iya, kenapa sayang?” sahut Mama, sembari menanam bibit yang berbentuk lonjong dan berwarna hitam, aku tidak tahu itu bibit apa.


“ Syana sama Brooklyn mau izin pergi, boleh?”


Mama melihatku yang sudah rapi.


“ Boleh tapi pulangnya jangan malem ya, pokoknya jam 8 harus ada di rumah.” tutur Mama, kembali menggali tanah untuk menanam bibit yang dia pegang.


“ Siap Bu Komandan! “ seruku, aku menempel ujung jari telunjukku di pelipis.


Aku hendak meraih tangan Mama tapi mengurungkan niatku ketika melihat tangan Mama yang kotor oleh tanah, aku kemudian mencium pipi Mama.


“ Syana jalan ya, Ma.”


“ Iya hati-hati.”


Aku tersenyum menatap Mama kemudian beranjak. Di dapur aku bertemu dengan Bang Aksa, dia sedang mengaduk-aduk mie instan yang dia masak.


“ Bang, Syana jalan dulu ya. Jasnya Bang Aksa ada di kamar Syana, makasih udah dipinjamin.” kata ku, sembari berlalu


“ Tunggu!” Bang Aksa mencoba menghentikan langkahku.


“ Apa lagi sih, Bang?” tanyaku, membalikkan badanku agar kembali bisa melihat Bang Aksa.


Bang Aksa mengaduk-aduk mie yang sudah dia tiriskan dan dia tuangkan dalam piring.


“Salim, kok lupa.” Kata Bang Aksa, menyodorkan tangan kanannya padaku sementara tangan kirinya sibuk mengaduk-aduk mie agar menyatu dengan bumbunya.


“Kirain kenapa, tahunya cuma nyuruh salim doang.” Aku menggerutu sambil meraih tangan Bang Aksa.


“ Yaudah sana jalan, udah ditungguin tuh.” Kata Bang Aksa setelah aku mencium tangannya, untuk berpamitan.


Aku tersenyum jahil sambil melirik mie instan Bang Aksa yang sudah teraduk dengan rata, kemudian mencomot mie instan Bang Aksa kemudian berlari.


“Makasih mienya, Bang.” Pekikku, sambil berlari karena takut Bang Aksa marah.


“Syana!” pekik Bang Aksa, suaranya menggema di setiap sudut rumah.

__ADS_1


Aku hanya tertawa, terkekek-kekek karena berhasil menjahili Bang Aksa yang terkenal mencintai kebersihan itu.


“Yuk, sayang.” Aku menarik tangan Brooklyn untuk keluar rumah.


__ADS_2