
Di busway, aku duduk bersandar sambil memejamkan mataku dengan kedua tangan yang aku lipat di depan dada, berusaha menghilangkan energi negatif yang menyerap ke dalam tubuhku.
“Woi!” suara Khenzie, melengking menusuk rongga telingaku, yang membuatku sontak menutupi kedua telingaku.
Aku melihatnya sejenak kemudian kembali memejamkan mataku, Khenzie duduk di sebelahku dan dia malah terlihat kesal karena sikap acuh yang aku tunjukkan padanya.
“Masih pagi, jangan ngajak berantem.” Kataku pada Khenzie, tanpa sedikitpun melihat ke arah Khenzie.
“Mata lo kenapa?” tanya Khenzie, penasaran.
“Nggak kenapa-napa, gue cuma mau mejemin mata bentar.”
“Bukan, maksud gue kenapa kelopak mata lo bengkak kek gitu? Semalem lo abis nangis ya?”
Aku membuka mataku, melirik Khenzie sejenak.
“Nggak, tadi abis di gigit tawon.” Aku berusaha menyangkal.
“Lo pikir gue percaya gitu aja, nggak ya!”
“Gue tahu lo abis nangis.” lanjut Khenzie.
“Kata siapa?” tanyaku, menatap serius mata Khenzie.
“Syan, lo harus kasih tahu orang lain kalo lo lagi nggak baik-baik aja. Orang lain nggak akan tahu keadaan lo kalo lo diam aja, jangan menanggung beban sendirian terus. Lo nggak sendirian di dunia ini, gue siap dengerin kesedihan lo kapanpun lo mau.” tutur Khenzie, menatap wajah ku dengan tatapan lembut.
Aku melirik Khenzie sejenak kemudian kembali memejamkan mataku.
“Berisik, diam! Gue lagi ngumpulin energi ni.” aku meminta Khenzie untuk diam.
Di halte, sekolah. Begitu turun dari busway, aku langsung mengambil kacamata hitam yang sengaja aku bawakan untuk menutupi mataku yang bengkak karena menangis semalaman, aku tidak mau Elina melihat keadaan ku sekarang.
“Lo mau ke sekolah apa mau libur, hei?” tanya Khenzie, yang heran melihatku menggunakan kacamata hitam.
“Berisik! Ini buat nutupin mata gue yang bengkak, gue nggak mau Elina ngeliat mata gue, gue nggak mau dia ngerasa menang.” Kataku, melangkah menuju gerbang sekolah dengan badan yang tegap.
__ADS_1
Di kelas, saat Pak Burhan hendak membagikan kertas ujian, dia menyadari bahwa aku menggunakan kacamata hitam.
“Syana, lepas kacamata kamu. Ini sekolah bukan pantai.” perkataan Pak Burhan, sontak membuat murid di kelas tertawa.
“Mata saya lagi iritasi, Pak.” Aku beralasan pada Pak Burhan, agar tidak menyuruhku melepaskan kacamataku.
“Nggak usah bohong kamu.”
"Syana nggak bohong, Pak. Kalo ga percaya tanya aja Khenzie." Aku menendang kaki Khenzie pelan, dari kolong meja.
“Iya, Pak. Mata Syana memang lagi sensitif sama cahaya.” Pak Burhan memang lebih mempercayai Khenzie, daripada murid-muridnya yang lain.
“Oke, saya percaya.”
Aku menghela napas lega, Khenzie menoleh ke belakang untuk melihat ku sementara aku mengangkat alisku sambil tersenyum.
Pak Burhan pun membagikan lembar soal dan kertas kosong untuk kami. Aku berusaha memusatkan pikiranku pada soal-soal itu, aku ingin mendapatkan hasil yang terbaik meskipun ini hanyalah ulangan simulasi menuju UN.
“Oke, fokus. Kita pernah ngerjain soal-soal kayak gini. Kita bisa, bisa!” aku bergumam, menyemangati diriku sendiri.
“Mau ngapain lo?” aku bisa merasakan Elina tidak nyaman dengan kehadiranku.
Aku tersenyum menatapnya.
“Gue nggak akan nyakitin lo.” pungkas ku, begitu melihat Elina mendorong kursi untuk sedikit menjauh dari ku, aku menarik kursi Elina agar lebih dekat dengan ku.
“Merayu Brooklyn di belakang gedung sekolah, merekam vidio saat Brooklyn nyium gue di parkiran Mall lalu disebarin, ngasih Brooklyn ide untuk melecehkan dan gue beruntung karena Khenzie berhasil nyelamatin gue, ga cuma itu... lo juga tidur sama Bokap gue. Semua perbuatan itu, lo lakuin buat ngancurin hidup gue?” Aku menatap wajah Elina, yang tersenyum sinis menatapku.
“Lo sadar nggak kalo lo sejahat itu?” Lanjutku.
Elina tak menjawab pertanyaanku, ia hanya mengangkat alis kanannya sambil menatapku dengan tatapan dingin.
“Lo mau tahu alasannya? Karena kehadiran lo ngebuat gue nggak bisa dapatin cinta Khenzie.” Ucap Elina, yang menyalahkanku atas penolakkan Khenzie padanya.
Aku mendengus, membuang muka sejenak.
__ADS_1
“Kenapa pelaku selalu bertingkah seolah dia adalah korban? Seolah-olah dia lah yang paling tersakiti, tanpa sedikitpun meminta maaf kepada orang yang sudah dia sakiti.” ucap ku, tak habis pikir dengan perkataan Elina.
“Lo yang lebih dulu nyakitin gue. Lo tahu betul kalo gue cinta sama Khenzie tapi kenapa lo selalu bertingkah baik di depan dia, ngebuat Khenzie cinta sama lo dan nggak pernah melihat gue sedikit pun.” nada suara Elina meninggi.
“Cinta? Nggak! Itu bukan cinta namanya, lo terobsesi buat ngedapatin Khenzie.” Kataku pada Elina, mataku tiba-tiba tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Elina.
“Lo bahkan berusaha merubah tampilan lo supaya mirip gue, mengerikan!”
Aku melepaskan cincin milikku, dan meletakkannya di hadapan Elina.
“Gue nggak sudi punya satu pun beda yang sama kayak punya lo.”
Aku beranjak dari tempat dudukku, Elina menghentikanku dengan perkataanya.
“Gue akan ninggalin Bokap lo tapi sebagai gantinya, lo harus menjauh dari hidup Khenzie. Gimana?” Elina mencoba melakukan tawar-menawar denganku.
Aku yang semula hendak pergi, kembali mendekati Elina, mataku menatap tajam wajahnya yang tersenyum.
“Gue nggak akan ninggalin Khenzie, satu detik pun. Gue akan membuat lo semakin nggak waras dengan melihat kedekatan gue sama Khenzie, gue mau tahu sampai sejauh mana lo bisa bertahan. Dan yah, lo nggak pantes buat dapetin Khenzie.” Aku tersenyum menatap mata Elina, yang kesal dengan perkataanku.
“Syan, kantin yuk.” Ajak Khenzie, yang tersenyum berdiri di bingkai pintu.
Sontak aku terkejut begitu mendengar suara Khenzie, aku tidak tahu sejak kapan Khenzie ada disana.
“Yuk.” Aku melingkarkan tanganku di tangan Khenzie, lalu tersenyum melihat Elina yang masih duduk.
Di kantin, aku berulang kali tertangkap oleh mata Khenzie saat sedang menatapnya tapi aku selalu memalingkan wajahku.
“Kenapa? Ada yang mau lo sampein?” Khenzie bertanya padaku sambil tersenyum.
Aku menatap Khenzie, yang sedang menyantap mie instan kesukaannya. Aku mengambil mangkuk mie dan menjauhkannya dari hadapan Khenzie, membuat mie Khenzie terjuntai di mulutnya dan langsung Khenzie lahap.
“Syana!” Khenzie kesal padaku, ia mengambil kembali mangkuk mienya.
“Gue mau ngomong bentar boleh nggak?” aku bertanya pada Khenzie dengan nada serius, membuat Khenzie menatapku lekat.
__ADS_1
“Lo denger pembicaraan gue sama Elina?” tanyaku pada Khenzie.