KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 19 Gelas Pecah


__ADS_3

“Gimana caranya? Gimana caranya ngelupain orang yang sudah menjadi bagian dari hidup Syana selama 4 tahun terakhir ini?” aku menatap sendu kedua mata Bang Aksa, emosional.


Aku melihat kedua kelopak mata Bang Aksa bergetar, matanya bersinar, Bang Aksa menghela napas berat.


“Sekarang Bang Aksa mau nanya sama kamu. Setelah kamu tahu bahwa Brooklyn seorang pecandu narkoba, apa kamu masih merasa nyaman atau justru kamu takut di dekat dia?”


Sekali lagi pertanyaan Bang Aksa membuatku terdiam, tak berkutik.


“Abang tahu kamu takut buat dekat sama dia, Abang tahu kamu punya prinsip untuk tidak berurusan sama orang yang terbukti mengkonsumsi obat terlarang seperti itu. Abang tahu betul jauh di dalam hati kamu, kamu mau menghindar dari dia.” Bang Aksa menatap mata ku.


“Sekali ini aja,nsekali ini aja kamu dengerin kata hati kamu.” Suara Bang Aksa terdengar bergetar.


Bang Aksa beranjak, ia mendekatiku.


“Abang sayang banget sama kamu, Abang nggak mau kamu kenapa-napa.” Bang Aksa menepuk-nepuk pundakku kemudian berlalu meninggalkan kamarku.


Aku hanya menatap tubuh Bang Aksa yang berjalan meninggalkan kamarku.


“Lyn, gue nggak tahu harus bagaimana sekarang.” Aku berkata pelan, kepalaku yang tertunduk di tertutupi oleh rambut.


Esoknya, di sekolah. Aku dan Khenzie sedang berjalan di koridor sekolah, kemudian Karin menghampiri kami dengan napas yang terengah-engah, sepertinya dia baru saja berlari dengan jarak yang jauh.


“Syan!” Karin memegang tanganku, ia berusaha mengatur napasnya.


“Kenapa, Rin? Kenapa lo ngos-ngosan gitu?” tanyaku, penasaran.


“Lo harus liat ini.” Karin berbicara dengan napasnya yang masih tidak teratur, ia menyalakan handphone nya.


“Apa?” aku mendekatkan wajahku dengan layar ponsel milik Karin, begitu pun dengan Khenzie, membuat Karin di apit oleh kami berdua.


Jari Karin mengarahkan ponselnya pada aplikasi instagram, lalu dia menunjukkan vidio saat Brooklyn menciumku di mobil saat kami di parkiran mobil dan vidio saat Brooklyn mencoba menciumku di samping perpustakaan. Kedua mataku terbuka lebar dan tak berkedip begitu melihat vidio yang sudah ditonton lebih dari dua juta orang dalam waktu 6 jam.


“Siapa yang udah nyebarin vidio ini?” aku berusaha menahan sesak di dalam dadaku, tubuhku bergetar, dadaku seolah di tekan benda berat.


“Gue nggak tahu akun @lovechocho ini milik siapa, Syan. Tapi vidio ini bahkan udah tersebar di seluruh murid sekolah kita dan unggahan ini menandai akun resmi milik sekolah kita.” Kata Karin, cemas.


Kakiku terasa lemas, aku hampir saja jatuh untungnya Khenzie langsung sigap menangkap tubuhku yang terhuyung ke belakang.

__ADS_1


“Mending lo sekarang kirim massenge ke orang ini, terus minta orang itu men-take down vidio lo.” Karin memintaku mengirimi pesan pada pemilik akun @lovechocho dan memintanya menghapus vidio itu.


“Percuma! Gue yakin vidio itu udah nyebar dari orang ke orang, daripada memintanya menghapus vidio itu, gue lebih baik tahu dulu siapa orang yang udah bertindak seperti ini sama gue.” Aku bisa merasakan debaran jantung yang berdetak dan aliran darah yang membuncah di tubuhku.


“Brooklyn, udah dateng blom?” aku bertanya pada Karin.


“Udah, tadi gue lihat dia lagi di kelasnya.”


Aku pun langsung berjalan menuju kelas Brooklyn, Karin dan Khenzie mengikutiku dari belakang. Sepanjang aku berjalan menuju kelas Brooklyn, setiap orang yang aku lewati menatap tajam ke arahku, aku sedikit menunduk dan menutupi wajah ku dengan telapak tangan.


“Murahan.” Ujar salah satu murid, yang berkata pelan begitu aku berjalan melewatinya meskipun dia mengatakannya pelan tapi aku masih bisa mendengarkannya.


"Apa kata lo?!" Khenzie menarik kerah baju siswa itu, matanya memerah.


Rupanya Khenzie juga mendengar perkataan siswa itu yang dia tujukan pada ku, siswa itu tersenyum sinis menatap Khenzie. Aku menarik tangan Khenzie, meminta Khenzie untuk tidak terbawa emosi.


Aku memilih untuk menghiraukannya karena tujuanku sekarang bukanlah membungkam mulut murid itu tapi mencari siapa yang sudah merekam dan menyebarkan vidio itu di media sosial.


“Brooklyn!” seruku, memanggil Brooklyn begitu berdiri di bingkai pintu kelasnya.


“Kenapa, sayang?” Brooklyn bertanya dengan senyuman manis di bibirnya, sepertinya dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh banyak orang di sekolah ini.


Aku membuka instagram dari ponselku dan menunjukkan vidio itu pada Brooklyn.


“Itu kita?” tanya Brooklyn, setelah melihat vidio itu.


“Kamu kan, yang udah nyebarin vidio ini?” aku menatap tajam kedua mata Brooklyn, yang berdiri di depanku.


Aku menggenggam erat handphone ku, tangan ku menjuntai ke bawah.


“Kok aku? Bukan aku, lagian apa untungnya aku nyebarin vidio itu di media sosial.” Brooklyn menyangkal dugaanku yang menuduhnya menyebarkan vidio itu.


“Terus siapa?”


“Aku nggak tahu, lagian kenapa harus diributin sih? Ini kan cuma vidio ciuman doang.” Brooklyn bersikap seolah hal itu sudah biasa baginya.


Aku mendengus kesal begitu mendengar perkataan Brooklyn, sudut kanan bibirku terangkat begitu mendengar Brooklyn yang menganggap enteng permasalahan ini.

__ADS_1


“Percuma ngomong sama orang yang nuraninya udah rusak kayak kamu.” Aku menggerutu kesal sambil berlalu.


Brooklyn mengejar ku.


“Aku tahu siapa orangnya.” Tutur Brooklyn, yang terlihat yakin dengan ucapannya.


“Siapa?” tanyaku, penasaran.


Brooklyn menarik tanganku, ia membawaku menuju kelasku. Di kelas, Brooklyn tanpa basa-basi langsung memukul wajah Redana, saat Redana sedang asyik membaca buku yang aku pinjamkan padanya, pukulan Brooklyn membuat hendak tersungkur ke lantai, buku ku terlempar.


“Brooklyn! Apa-apaan sih, kamu?!” pekik ku, menahan tangan Brooklyn.


Aku membantu Redana untuk kembali berdiri, Redana memegang pipinya yang dipukul oleh Brooklyn.


“Dia!” Mata Brooklyn terlihat memerah, aku bisa melihat ada amarah disana.


Brooklyn menunjuk tepat di depan wajah Redana.


“Dia yang udah nyebarin vidio itu di instagram.” Tutur Brooklyn.


Aku secara otomatis menatap Redana yang berdiri di samping kananku, begitupun dengan Redana. Redana menggeleng, menatap wajahku dengan serius.


“Apa buktinya?” tanya Redana, meminta Brooklyn untuk membuktikan tuduhan Brooklyn padanya.


“Lo sendirikan yang bilang sama Syana, kalo lo ngeliat gue sama Syana di Mall tempat vidio itu di rekam.”


“Iya, emang gue ngeliat lo sama Syana disana waktu itu...” Redana mengiyakan pernyataan Brooklyn bahwa dia melihat aku dan Brooklyn di Mall waktu itu, Redana juga sempat bercerita pada ku mengenai hal itu.


“Akhirnya lo ngaku juga.” Brooklyn tersenyum puas.


“Gue belum selesai ngomong ya! Gue emang liat kalian tapi itu di lift bukan di parkiran seperti yang ada di vidio itu.” Redana kembali menjelaskan perkataannya dengan lantang.


Brooklyn mendengus, memalingkan wajahnya.


“Alasan!” Brooklyn menatap Redana dengan sinis.


“Lo bisa cek ponsel gue kalo emang lo nggak percaya.” Redana menyodorkan handphonenya pada Brooklyn.

__ADS_1


__ADS_2