KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 5 Jealous


__ADS_3

Aku dan Brooklyn pun akhirnya melaju meninggalkan rumah, di dalam perjalanan Brooklyn bertanya mengenai kedekatanku dengan Bang Aksa.


“ Rumah kamu kayaknya seru, ya.“ Ucap Brooklyn, yang melirikku yang duduk disamping kirinya.


“Seru gimana, maksud kamu?”


“Yah, seru aja ngeliat kedekatan kamu sama Bang Aksa, dia juga melindungi kamu banget keknya.” Jelas Brooklyn, yang tersenyum melirikku.


Aku tersenyum sambil mengingat-ingat perlakuan Bang Aksa dan Bang Arsa selama ini.


“ Abang-abang aku emang kayak gitu dari aku kecil, aku tahu mereka sesayang itu sama aku.” Tutur ku, tersenyum mengingat perlakukan baik Bang Aksa dan Bang Arsa.


“ Kamu belum pernah ketemu Papa sih, Papa lebih sweet dibandingkan Bang Aksa dan Bang Arsa tahu. Dia suami terbaik dan Papa terbaik buat kami semua.” lanjut ku, yang tanpa sadar membanggakan keluargaku sendiri.


“ Berarti kalo aku nyakitin kamu.... aku bakalan abis dong dikeroyok sama tiga orang.” Kata Brooklyn, bergurau.


Aku tertawa mendengar perkataan Brooklyn.


“Nggak bakal habis sih, cuma badan kamu aja yang nggak utuh lagi.” Sahutku, menanggapi perkataan Brooklyn sambil tertawa.


‘Iya, deh.”


Hening.


“ Kalo kamu gimana?” tanyaku pada Brooklyn.


Brooklyn mengernyitkan dahinya, ia nampak belum mengerti apa yang sedang aku tanyai.


“ Kamu sama keluarga kamu, gimana?” tanya ku, yang tiba-tiba saja merasa canggung.


Brooklyn terdiam, aku sebenarnya ragu dengan pertanyaan yang aku ajukkan pada Brooklyn tapi sudahlah, aku sudah terlanjur menyampaikan pertanyaan ku.


“ Kita mau jalan-jalan, kemana?” tanya Brooklyn, terlihat jelas sedang mengalihkan pembicaraan.


Aku mencengkram pinggir bajuku sambil memejamkan mataku dengan paksa. Aku merasa bersalah karena menanyakan tentang keluarganya.


Sejak awal kami berpacaran, Brooklyn memang terkesan menutupi identitas keluarganya, tak pernah sekalipun dia membahas tentang keluarganya di dekatku. Aku tidak tahu kenapa dia tidak mau bercerita mengenai keluarganya dan jika bertanya lebih lanjut, aku takut itu justru melukai hati Brooklyn.


“ Mall aja, yuk. Aku mau beli lipstik bentar.” jawab ku, berusaha menyingkirkan perasaan bersalahku pada Brooklyn.


“ Oke .” Brooklyn mengambil jalan ke kanan, mengarah ke Mall.


Setibanya di parkiran Mall, aku langsung melepaskan seat belt.


“ Yuk turun.” Ajak Brooklyn, yang sudah membukakan pintu mobil untukku.


Aku memandangi wajah Brooklyn sejenak, lalu keluar dari dalam mobilnya.


“ Sayang, maafin aku. Maafin aku karena udah nanya hal yang mungkin melukai hati kamu.” Ungkap ku, sembari menggenggam tangan Brooklyn.


Brooklyn tersenyum menatapku.


“ Udah ya... nggak usah dipikirin, aku gapapa kok.” tutur Brooklyn, mengelus rambutku.


Saat di store make up, aku tidak sengaja bertemu dengan Elina. Elina adalah sahabatku sejak kelas satu SMA, dia sering dipanggil “Perempuan Idaman“ oleh teman laki-laki di sekolah kami, wajahnya yang cantik, senyumannya yang cerah dan postur tubuhnya yang sangat menawan membuat dia pantas mendapatkan julukkan itu.


__ADS_1


📷: Pinterest


“ Elina!“ seruku pada Elina, yang sedang melihat-lihat make up.


Seruan ku otomatis membuat Elina menoleh ke belakang, tempat dimana aku dan Brooklyn berdiri. Elina melambaikan tanganya sambil tersenyum, membalas sapaan ku.


Aku mendekati Elina.


“ Lu sama siapa?” tanyaku, sambil memilih lipstik.


“ Sendiri.” Jawab Elina, singkat.


“ By the way, rok lu mini banget gila.” Bisikku pada Elina, sambil melirik Brooklyn yang sedang melihat-lihat parfum.


Elina memakai rok mini khaki beige bodycon yang dia padukan dengan kemeja hitam yang sedikit transparan.



📷: Pinterest


“ Nggak.” Bisik Elina di telingaku, aku bisa merasakan tarikan napasnya yang panas.


Elina menarik roknya ke atas, membuat roknya semakin pendek.


“ Kayak gini baru mini.” Sambungnya, memperlihat kakinya yang jenjang dan mulus.


Aku sontak melihat-lihat sekitar, untunglah Brooklyn sedang berada cukup jauh dari kami.


“ Lo gila ya!” aku berseru pelan.


“ Lo mau kemana sih sebenarnya? “ tanya ku pada Elina, penasaran.


Elina mengalihkan pandangannya, ia tidak menjawab pertanyaan ku. Elina membuka lipstik lalu memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah hati, menambah kesan seksi di wajahnya yang merona.


“ Jawab gue, lo mau kemana?” tanya ku, sekali lagi.


Elina tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku.


“ Secret, baby girl.” bisik Elina, mendesah.


“ Apaan sih?! Bilang nggak!”


Aku memegang tangan Elina, Elina hanya tersenyum.


“ Sampai ketemu besok.” tutur Elina, berlalu meninggalkan ku.


Aku sangat penasaran Elina mau pergi kemana tapi yasudahlah aku tidak mau terlalu ikut campur urusan orang lain. Aku menemui Brooklyn yang sedang melihat-lihat parfum.


“ Sayang, aku bayar dulu ya.”


Setelah membayar lipstik, aku mengajak Brooklyn untuk membeli es krim, di store milik sahabatku sejak kecil.


“ Kita beli eskrim, yuk.” Ajak ku.


Brooklyn tersenyum mengiyakan.


Aku memegang tangan Brooklyn, mengajaknya ke store es krim.

__ADS_1


“ Sore Khenzie.” Sapa ku, begitu melihat Khenzie yang sedang melayani pengunjungnya.


...As Khenzie...



Sc 📷: Pinterest


Khenzie dan aku sudah berteman sejak kecil, aku pertama kali bertemu dengannya begitu menghadiri pesta pernikahan sepupunya, saat itu kami baru berusia empat tahun dan kebetulan sekali Mamaku dan Mamanya Khenzie sudah bersahabat sejak mereka SMA, kami pun sering bertemu setelah itu. Mengenai Khenzie, dia laki-laki yang baik dan pekerja keras, terbukti dengan kemandiriannya yang sudah mendirikan store es krimnya sendiri padahal orangtuanya adalah pengusaha terkenal, dia pekerja paruh waktu untuk mendapat modal bisnis dan memulai semuanya dari nol.


Khenzie punya senyuman yang sangat manis, senyuman Khenzie semakin manis dengan lesung pipi di sebelah kiri pipi Khenzie, wajahnya yang rupawan menjadikan dia rebutan bagi setiap perempuan disekolahku atau bahkan diluar sekolah kami, apalagi tahun lalu dia sempat menjabat sebagai ketua OSIS SMAN Sebangsa Jakarta tepatnya di tahun 2017.


“ Pacaran muluk, nggak bosen?” tanya Khenzie, pelan.


Aku meminta Khenzie untuk mendekat ke wajahku, dengan isyarat tangan, Khenzie pun menurut.


“  Makanya cari pacar dong.” ledekku, sambil menahan untuk tidak tertawa karena pengunjungnya sedang ramai.


Khenzie melihatku dengan wajah yang datar, lalu menjauhkan wajahnya dari dekat wajahku.


“ Mau es krim apa?” tanya Khenzie, tanpa melihat ku.


“ Gue?” aku balik bertanya, sambil celingak-celinguk melihat ke sekeliling.


“ Bukan lo! Gue nanya Brooklyn.” pungkas Khenzie, dengan nada yang kesal.


“ Gue juga mau pesen kali” kataku, menarik sudut bibir ku ke atas.


“ Gue tahu es krim kesukaan lo apa, jadi nggak usah disebutin.” Ungkap Khenzie, berdalih agar aku tidak kesal padanya.


“ Gue mau es krim yang sama kayak Syana.” tutur Brooklyn, raut wajahnya tampak serius.


“ Oke.”


Khenzie pun mulai menyiapkan es krim kami.


“ Setelah ini kita dinner, ya” tutur Brooklyn, aku melihat matanya melirik Khenzie.


Aku tersenyum mengiyakan.


“ Dua es krim crunhcy cocoa, buat teman gue dan pacarnya.” kata Khenzie, memberikan dua es krim dalam cup kepada aku dan Brooklyn.


“ Teman? “ tanya Brooklyn pada Khenzie, seketika membuat suasana terasa canggung.


Khenzie mengangkat alisnya dan tak menjawab pertanyaan Brooklyn, ia menggeleng sambil tersenyum.


“ Silakan Mbak, mau pesen es krim apa?” tanya Khenzie pada pengunjung di belakang kami, yang membuat aku menarik tangan Brooklyn untuk bergeser.


Setelah aku membayar es krim di meja kasir, aku dan Brooklyn pun berlalu meninggalkan store es krim Khenzie, kami turun menggunakan lift lalu kembali ke parkiran.


“ Kamu kenapa sih sama Khenzie?” tanyaku pada Brooklyn, sembari memasang seat beltku.


“ Aku nggak suka dia tahu semuanya tentang kamu “ jawab Brooklyn, menatapku serius.


“ Dia itu sahabat aku, wajar dong kalo dia tahu banyak soal aku.”


“ Tetep, aku nggak suka dia.... jadi tolong kamu jangan dekat-dekat lagi sama dia.”

__ADS_1


__ADS_2