
Aku melihat Bang Aksa di tangga, ia berjalan menghampiri kami yang sedang makan di meja makan, ia menarik kursi yang ada di samping Bang Arsa, Bang Aksa duduk tepat di hadapanku. Bang Aksa duduk sambil meletakkan handphonenya di atas meja makan.
“Kamu harus ngasih ruang buat diri kamu sendiri, aku harus benar-benar pulih dulu baru bisa ke sekolah, jadi tolong dengerin perkataan Abang sekali ini aja.”
“Iya, Syana nurut Bang Aksa aja.” aku mengiyakan permintaan Bang Aksa untuk mengambil cuti sekolah selama satu minggu.
Aku melihat ke arah kamar Mama.
“Papa mana, Ma?” aku bertanya pada Mama mengenai keberadaan Papa setelah menyadari kalau sejak tadi aku tidak melihat Papa di rumah.
“Papa di luar kota, katanya ada urusan kantor.” Aku memerhatikan Mama saat hendak menjawab pertanyaan, Mama melirik Bang Aksa sebelum dia menjawab pertanyaanku.
Aku menganggukkan kepalaku, Papa memang sering pergi ke luar kota untuk urusan kantor.
“By the way, Bang Aksa bilang apa soal alasan kenapa Syana minta cuti selama seminggu?” aku kembali teringat mengenai cuti sekolah dan alasan Bang Aksa saat meminta izin ke wali kelasku.
“Bilang.” Jawab Bang Aksa, singkat.
“Apa? Bang Aksa nggak ceritain hal yang sebenarnya kan?” tanyaku, aku takut murid-murid lain tahu mengenai semuanya dan berargumen negatif tentang ku.
Aku menatap wajah Bang Aksa dengan serius.
“Syana baru aja mengalami kejadiaan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh salah satu siswa sekolah Bapak.”
“Terus wali kelas kamu nanya, kejadiaan apa?” lanjut Bang Aksa
“Terus gimana?” tanyaku, yang sudah sangat khawatir.
“Sebentar ya, kamu jangan motongin penjelasan Bang Aksa.” Bang Aksa memelankan suaranya.
“Oke, oke.”
Bang Aksa melanjutkan penjelasannya.
“Bang Aksa bilang kalau kamu hampir mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brooklyn, awalnya wali kelas kamu nggak percaya tapi setelah Bang Aksa ngirim foto Brooklyn yang ditahan, wali kelas kamu baru percaya.” Jelas Bang Aksa.
Aku mencengkram tanganku sendiri.
“Bang Aksa kok bisa punya foto Brooklyn di sel tahanan?” tanyaku, yang penasaran.
“Bang Aksa minta tolong sama Arief.”
Aku mengangguk, mengerti bahwa Bang Aksa meminta Bantuan temannya untuk mendapatkan foto Brooklyn di sel tahanan.
“Bang, Syana takut.”
__ADS_1
“Takut kenapa?” Bang Aksa dan Bang Arsa bertanya secara bersamaan, yang membuat mereka saling melihat satu sama lain untuk sepersekian detik karena terkejut dengan suara mereka sendiri.
“Apa yang kamu takutin?” tanya Bang Aksa, raut wajahnya mendadak serius.
“Syana takut orang-orang ngomongin yang enggak-enggak tentang Syana.”
“Kamu jangan takut, kamu nggak salah. Lagian ngapain dengerin perkataan orang lain tentang kamu sih, mereka nggak tahu apa yang kamu alami.” Pungkas Bang Aksa.
“Iya, apalagi kalau misalnya yang ngejelekin kamu itu perempuan. Abang nggak abis pikir sih sebenarnya, gimana bisa seorang perempuan menjatuhkan perempuan yang lainnya, harusnya sebagai sesama perempuan mereka paham betul bahwa korban harus diberikan dukungan agar bisa melawan pelaku yang sudah berbuat seperti itu.” Bang Arsa menimpali perkataan Bang Aksa.
“Udah, Syana jangan takut ya. Inget kamu nggak sendirian, ada Abang di belakang kamu.” Lanjut Bang Arsa, yang tersenyum menatapku.
“Kamu pake handphone Bang Aksa dulu, ya. Biar kalo ada apa-apa, kamu bisa nelpon Mama atau Bang Arsa.” Bang Aksa meletakkan handphonenya di depanku.
“Terus kerjaan Bang Aksa, gimana?”
“Gampang, nanti Bang Aksa bisa hubungin pihak rumah sakit dari telepon rumah. Mereka juga tahu kok nomor telepon rumah kita.” Bang Aksa menyakinkan aku kalau dia bisa menghandle perkerjaannya.
Pagi hari, hari pertama aku tidak berangkat ke sekolah. Handphoneku (Yang di pinjam Bang Aksa) berdering tepat di jam 7, yang membuatku terbangun. Aku melirik handphoneku yang ada di atas laci samping kasurku, kemudian jantung berdebar sangat kencang hingga aku kesulitan bernapas begitu melihat panggilan masuk dari Brooklyn, aku berteriak sekencang yang aku bisa.
“Syana kamu kenapa?” tanya Bang Aksa dari luar kamar, suaranya terdengar panik.
Handphone tidak berhenti berdering tepat begitu Bang Aksa memanggilku, panggilan itu terus berulang, aku menutupi kedua telingaku menggunakan telapak tanganku yang bergetar.
“Syana!” pekik Bang Aksa, dari luar ruangan.
Badanku penuh dengan keringat, tanganku bergetar hebat, tenagaku seperti terkuras habis dan jantungku berpacu dengan sangat cepat sampai aku bisa merasakan detak jantung ku.
“Syana kamu jangan mendekat ke pintu!” pekik Bang Aksa, dari luar kamar.
Bang Aksa mendobrak pintu kamarku dengan dibantu oleh Bang Arsa, mereka berhasil masuk ke kamarku. Bang Aksa, Bang Arsa dan Mama berlari mendekati ku.
“Kamu kenapa, Syana?” tanya Mama, Mama menangis melihat keadaanku. Mama memegang tanganku yang menutupi telinga ku sendiri.
“Maaf Ma, Aksa mau ngasi pertolongan pertama buat Syana.” Pinta Bang Aksa pada Mama, Bang Aksa meminta Mama untuk memberikan tempat untuknya memeriksa keadaanku.
Mama mengikuti permintaan Bang Aksa. Bang Aksa memintaku untuk duduk di lantai, Bang Aksa duduk di hadapanku.
“Syan, kamu bisa dengerin Bang Aksa?” tanya Bang Aksa, menatap mataku dengan tatapan serius.
aku mengangguk pelan sambil tertunduk.
“Ikutin Abang, ya.” pinta Bang Aksa.
“Kamu pejamin mata kamu, kamu tarik napas dalam-dalam terus hembus dari mulut kamu, lakuin secara perlahan.”
__ADS_1
Aku mengikuti setiap instruksi yang diberikan oleh Bang Aksa.
“Terusin sampe kamu ngerasa napas kamu udah nggak berat lagi.” Pinta Bang Aksa padaku.
Bang Aksa membuka tanganku yang mengenggam sangat erat.
“Gimana udah lebih tenang sekarang?” tanya Bang Aksa, menatap mataku.
Aku mengangguk pelan.
“Dada kamu masih nyeri?”
“Sedikit.” Jawabku, pelan.
“Sa, kamu panasin mobil. Kita ke rumah sakit sekarang.” Bang Aksa meminta Bang Arsa untuk memanaskan mobil.
Bang Arsa beranjak dan bergegas ke garasi.
“Kamu kenapa bisa kayak gini?” tanya Bang Aksa, mengelus rambutku.
Aku menunjuk handphoneku (Yang di pinjam Bang Aksa padaku) yang ada di atas laci samping kasurku, Bang Aksa melihat arah yang aku tunjukkan. Bang Aksa mengambil handphoneku lalu ia membuka Handphoneku.
“Panggilan tak terjawab dari Khenzie.” Gumam Bang Aksa, setelah melihat handphone ku.
Bang Aksa terdiam sejenak, ia mendongakkan kepalanya lalu menghelakan napas.
“Kita ke psikiater, sekarang.”
Bang Aksa menggendongku sampai ke mobil, Bang Aksa membuatku duduk di kursi tengah mobilnya.
“Mama di rumah aja, ya.” Bang Aksa meminta Mama untuk tetap di rumah.
“Enggak! Mama harus tahu kondisi Syana.”
“Sa, tolong kunciin rumah.” Bang Aksa meminta Bang Arsa untuk mengunci rumah.
“Iya, sebentar.”
Bang Arsa berlari ke dalam rumah.
“Kami berangkat!” pekik Bang Aksa pada Bang Arsa, yang hendak memasuki rumah.
“Tunggu!” Bang Arsa seperti ingin ikut ke rumah sakit.
“Buruan!”
__ADS_1
Setelah mengunci rumah Bang Arsa bergegas memasuki mobil, Bang Arsa duduk di sebelah Bang Aksa yang menyetir sementara Mama duduk di dekatku. Begitu keluar pagar rumah, Bang Aksa langsung menacap gas mobilnya.