KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 14 Teguran dari Bang Aksa


__ADS_3

Sepuluh menit setelahnya, Bang Aksa pun keluar dari kamar Mamanya Elina. Aku terkejut, aku buru-buru menutupi wajahku dengan rambut lalu menundukkan kepala.


“Kondisi pasien saat ini sudah stabil, detak jantungnya pun sudah kembali normal tapi untuk sekarang pasien sedang dalam pengawasan karena dikhawatirkan akan terjadi serangan selanjutnya, untuk itu saya sarankan supaya pasien di rawat inap.” Bang Aksa menjelaskan mengenai kondisi Mamanya Elina saat ini dan menyarankan agar Mama Elina di rawat inap.


“Ini, saya sudah resepkan obat yang harus di minum oleh pasien.” Sepertinya Bang Aksa memberikan Elina selembar kertas yang sudah dia tuliskan resep obat yang harus di beli oleh Elina.


“Makasih, dok.”


“Mengenai rincian biaya yang harus dibayar, silakan temui resepsionis, mereka akan menjelaskan secara langsung.”


“Iya, makasih sekali lagi dok.”


“Sama-sama, kalau begitu saya izin kembali ke ruangan.”


“Iya, dok. Terima kasih.”


Bang Aksa melangkah, baru dua langkah ia berjalan melewatiku tapi dia sudah menghentikan langkahnya, dia mundur dua langkah dan berhenti tepat di depanku.


“Syana, ikut Abang bentar.” Pinta Bang Aksa, membuatku terkejut bagaimana bisa dia tahu bahwa sejak tadi aku ada disini.


“Iya.” Aku melipat bibirku, kemudian beranjak dan mengikuti Bang Aksa dari belakang.


Bang Aksa membawaku ke ruangannya, ruangannya ada di lantai yang sama dengan ruangan di mana Mamanya Elina di rawat.


“Ngapain disini?” Bang Aksa langsung bertanya padaku begitu ia duduk di kursi kerjanya, sedangkan aku duduk di sofa yang ada di ruangnya.


“Jenguk Mamanya Elina, nggak mungkin aku main istana boneka di sini kan?.” Jawabku, sambil melihat setiap sudut ruangan Bang Aksa.


Aku mendengar Bang Aksa menghela napas, tapi aku mengabaikannya, aku melihat foto-foto wisuda Bang Aksa di pajang di atas laci serta foto keluarga kami


“Kamu pikir Bang Aksa nggak ngenalin kamu, ya? Pake acara ngumpet segala lagi.”


Aku cengengesan, melihat Bang Aksa.


“Bang Aksa kok bisa sih ngenalin aku?” aku bertanya karena penasaran


“Tas kamu dan mainnya, mana bisa Abang nggak ngenalin itu... orang Abang yang beli.” Mainan tas yang dimaksud Bang Aksa adalah boneka pooh kecil yang sengaja aku jadikan gantungan kunci untuk assesoris tas ku.


Saat Bang Aksa mengatakan bahwa dia mengenali aku dari tas yang aku pakai, aku langsung memegang tas yang masih aku gendong di punggung dan tersenyum hingga mataku menyipit melihat Bang Aksa.


“Kalo Bang Aksa udah ngenalin aku sejak awal, kenapa Abang nggak manggil aku tadi? Biar Syana nggak repot-repot nutupin muka Syana.” Protesku pada Bang Aksa, memajukan bibir bawahku seolah sedang merajuk.


“Abang tadi kan lagi kerja, urusan pribadi itu nggak boleh di campur aduk sama kerjaan.” Jelas Bang Aksa, memberitahuku alasan kenapa dia tidak menegur sejak awal dia menyadari kehadiranku.


Aku menganggukkan kepalaku, mengerti.


“Hem... iya deh, Pak dokter.” kata ku, tersenyum lebar.


“Kamu udah makan?”


“Belom.”


Aku menepuk perutku hingga terdengar suara “Puk” memberitahu Bang Aksa kalau perut masih kosong.


“Mau makan nggak? Abang temanin ke kantin.”

__ADS_1


“Enggah ah, nanti aja di rumah makannya... lagian masa Syana makan sendiri terus Khenzie sama Elina, gimana?”


“Ya ajak aja, Abang traktir.”


“Nanti aja deh, Bang.”


“Yaudah kalo emang belom mau.”


“Bang, Syana nemuin Elina lagi ya.” Aku beranjak.


“Iya.”


Aku pun berjalan meninggalkan ruangan Bang Aksa, saat aku hendak menutup pintu tiba-tiba Bang Aksa memanggilku.


“Syan.”


“Iya, kenapa Bang?” aku bertanya sambil memegang gagang pintu, agar tidak tertutup dengan sendirinya.


“Kamu harus berhati-hati kalo memilih teman, ya.” Ungkap Bang Aksa, yang terasa sangat tiba-tiba, membuatku mengerutkan hidungku,  meskipun tidak mengerti dengan pasti Bang Aksa sedang membicarakan teman yang seperti apa tapi aku tetap mengiyakan perkataannya.


“Iya, Bang.” Aku tersenyum menatap Bang Aksa, kemudian menutup pintu.


Aku kembali menemui Elina dan Khenzie, di depan ruangan aku melihat Khenzie yang sedang duduk sembari membaca buku, aku celingak-celinguk melihat ke sekeliling tapi mataku tak menemukan adanya Elina bersama Khenzie.


“Khen, Elina mana?” aku bertanya setelah duduk di samping Khenzie.


Aku kembali menemui Elina dan Khenzie, di depan ruangan aku melihat Khenzie yang sedang duduk sembari membaca buku, aku celingak-celinguk melihat ke sekeliling tapi mataku tak menemukan adanya Elina bersama Khenzie.


“Khen, Elina mana?” aku bertanya setelah duduk di samping Khenzie.


“Tadi gue liat dia nangis setelah dari bagian resepsionis.” Khenzie menceritakan kalau Elina menangis begitu selesai menemui resepsionis.


“Kenapa?”


Khenzie mengangkat bahunya, ia tak melihatku sedikitpun, matanya terus memandang lembar buku yang sedang dia baca.


“Gue juga nggak tahu pasti, soalnya dia langsung ke dalam ruangan Mamanya.”


“Lo nggak ikut dia ke resepsionis?”


“Gue diminta nunggu di sini, yaudah gue nggak ikut.” Terang Khenzie, mengenai dia yang tak pergi bersama Elina saat Elina menemui bagian resepsionis.


Dua menit berlalu, aku merasa sangat bosan karena Khenzie hanya sibuk dengan bukunya. Elina keluar sambil membawa selembar kertas, sorot mata Elina terlihat sendu.


“El, kenapa?” aku menghampiri Elina.


Elina terdiam, menatap lantai rumah sakit.


“El, lo kenapa?” aku bertanya sekali lagi sambil memegang lengannya.


Elina menatap mataku, ia memberikanku selembar kertas yang ada di tangannya. Aku melihat Elina sejenak, sambil menerka apa yang hendak Elina sampaikan padaku melalui selembar kertas itu.


“El, 60 juta!” Kedua mataku terbelalak, begitu melihat dengan seksama selembar kertas itu di mana tertulis bahwa Elina harus membayar sebesar 60 juta untuk biaya rumah sakit.


“Gimana dong, Syan? Gue nggak punya uang sebanyak itu dan ngeliat keadaan nyokap gue sekarang rasanya nggak mungkin kalo gue ngerawat nyokap di rumah.” Suara Elina terdengar lirih, air mata di kelopak matanya mulai terkumpul.

__ADS_1


“Dan mereka minta biayanya segera di lunasi hari ini, Syan.” Lanjut Elina, cemas.


Aku melirik Khenzie yang sejak tadi hanya duduk sambil membaca buku.


“Lo punya uang segitu nggak, Khen?” tanyaku pada Khenzie, aku yakin dia mendengarkan ucapan Elina meskipun dia tidak memperhatikan kami.


Khenzie mendonggak untuk melihatku, ia menutup bukunya.


“Punya, tapi besok gue mau beli perlengkapan bulanan sama bayar gaji karyawan.”


Aku kembali berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang 60 juta dalam waktu cepat, aku berpikir keras sampai akhirnya aku teringat bahwa aku bisa mengandalkan Papa dalam kondisi ini.


“Papa.” Gumam ku, setelah berhasil menemukan solusi.


Aku buru-buru mengambil ponselku dan menelpon Papa.


“Assalamu’alaikum, Pa.” Aku memberi salam begitu panggilanku diterima oleh Papa.


“Wa’alaikumussalam, kenapa sayang?” sahut Papa.


Aku mengigit jariku, seketika aku ragu dengan tindakan yang aku ambil.


“Pa, Syana boleh minta tolong nggak?”


“Boleh dong, minta tolong apa?”


“Teman sekolah Syana, Mamanya masuk rumah sakit terus biaya yang harus dia bayar sebesar 60 juta, Mamanya harus rawat inap.” Aku menjelaskan dengan hati-hati pada Papa, seolah setiap kata yang aku ucapkan sudah tersusun rapi.


“Teman kamu? Siapa?”


“Elina, Pa. Dia gang waktu itu dateng ke ulang tahun Syana dan jadi penyanyi di acara ulang tahun Syana.” Jawabku, mencoba membantu Papa untuk ingat dengan Elina.


“Kamu bawa kartu kerdit kamu, kan?”


“Iya, Pa.”


“Papa transfer uangnya ke kamu, ya.”


Aku memegang tangan Elina dengan senyuman lebar, begitu mendengar Papa bersedia membayar biaya rumah sakit Mamanya Elina, Khenzie menatap serius wajah ku.


“Makasih, Pa.”


“Iya, sama-sama sayang. Nanti ya, tunggu dulu.”


“Oke, Pa.”


Aku menunggu kurang lebih satu menit.


“Udah Papa transfer ya, Syan.” Kata Papa, setelah berhasil mentransfer uang ke rekeningku.


“Iya, Pa. Makasih banyak.”


“Iya, udah dulu ya... Papa mau meeting.”


Papa langsung mengakhiri panggilan.

__ADS_1


__ADS_2