KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 29 Kembali Sekolah


__ADS_3

Malam harinya, saat aku hendak tidur. Bang Aksa, Bang Arsa dan Mama masuk ke dalam kamarku satu persatu.


"Syana mau tidur." Kataku kepada mereka yang secara bersamaan masuk ke kamarku.


"Tidur aja, Bang Aksa juga mau tidur."


"Aku juga."


"Mama juga."


"Di kamar, Syana?"


"Iya." Jawab mereka bertiga, secara bersamaan.


Mama naik ke kasurku dan merebahkan tubuhnya di sampingku, sementara Bang Aksa dan Bang Arsa tidur di karpet merah yang ada di samping ranjangku.


"Papa kok nggak nanyain kabar Syana, ya?" tanya ku, sambil melihat lelangit kamar.


"Ma, Papa tahu kan kalo Syana lagi sakit?" aku melihat Mama yang ada di sampingku.


"Papa lagi ada proyek baru, sayang. Nanti kalau udah selesai sama proyeknya, baru Mama kasih tahu."


"Kenapa? Syana ngerepotin ya? Makanya Papa nggak boleh tahu?" tanyaku, lagi.


"Nggak, Syana nggak ngerepotin kok." Mama memelukku sambil mengelus-elus rambutku.


"Kamu jangan mikirin yang enggak-enggak ya, sekarang lebih baik kamu tidur." Mama menepuk-nepuk pundakku, memintaku untuk tidur dalam pelukkannya.


Saat terlelap, aku bermimpi melihat Brooklyn membawa gunting di tangannya dan gunting itu dia arahkan padaku, Brooklyn menarik rambutku kemudian mendorong tubuhku hingga membuatku tersungkur ke tanah.


"Tolong, jangan sakitin gue!" Pintaku pada Brooklyn, dalam mimpiku.


"Gue nggak akan nyakitin lo, kalo lo menuruti semua perkataan gue."


Brooklyn mendekatiku, dia mulai mengunting bajuku.


"Jangan, jangan Lyn! Jangan!" teriakku, berusaha menghalau Brooklyn.


Sayup-sayup aku mendengar suara Bang Aksa.


"Syan, kamu kenapa?"


"Syana! Kamu kenapa!"


Aku terbangun karena suara Bang Aksa yang berteriak cemas.


"Kamu kenapa, Syan?" tanya Bang Aksa, setelah aku terbangun dari mimpiku.


"Syana.... Syana tadi mimpi buruk Bang, Syana ngeliat Brooklyn mau guntingin baju Syana. Syana takut." Jelasku, tubuhku berkeringat padahal AC kamarku menyala.


"Udah, kamu tenang ya. Semua itu cuma bunga tidur." Bisik Mama, di telingahku sambil merapikan rambutku yang berantakkan.


Satu bulan setelah kejadian itu, di sekolah. Aku sudah beransur-ansur pulih dan sudah tidak mengalami cemas yang berlebihan lagi, aku sudah bisa mengontrol emosiku.


"Selesai kelas lo mau langsung pulang, Syan?" tanya Khenzie, saat kami sedang menikmati sarapan di kantin sekolah.

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


"Nggak, gue penasaran aja."


"Apaan sih? Nggak jelas lu!"


Aku melihat-lihat ke sekitar kantin, mencari seseorang yang sudah lama tidak menikmati waktu bersama kami.


"Lo liat Elina, nggak?" tanyaku pada Khenzie, yang sedang memotong sosis bakar miliknya.


Khenzie melihatku sejenak.


"Nggak." Jawab Khenzie, singkat.


Aku menyunggingkan bibirku ke atas, melirik Khenzie yang seolah tak peduli.


"Dia kok kayak ngehindar terus ya dari gue, Elina nggak nanyain kondisi gue sama sekali. Gue bingung, apa gue ada salah ya sama dia?" tanyaku pada Khenzie, aku bingung dengan perubahan Elina yang sangat terlihat.


"Lo nggak salah, mungkin dia menghindar karena malu sama lo." Khenzie menjawab pertanyaanku, dengan ekspresi wajah yang datar.


"Malu? Kenapa?" perkataan Khenzie membuatku penasaran.


“Malu? Kenapa?” perkataan Khenzie membuatku penasaran.


Khenzie hanya mengangkat kedua bahunya, yang aku simpulkan bahwa Khenzie hanya asal berbicara.


“Gue ke kelas dulu, ya.” Aku beranjak dari kursi.


“Tolong bayarin.” Aku mengeluarkan uang 20 ribu dari saku kemejaku lalu meletakkannya di dekat Khenzie.


“Nggak mau, bayar sendiri!”  pekik Khenzie padaku yang sudah berlalu.


“Makasih, Khen. Kembaliannya ambil aja, ya.”


“Kembalian, kembalian... Kurang lima ribu ini, woi!” pekik Khenzie, kesal.


Di kelas, aku melihat Elina sedang mengobrol dengan Diego dan Hamid, mereka terlihat sangat dekat. Aku menghampiri mereka, sekaligus ingin berbicara dengan Elina.


“El, boleh ngobrol bentar nggak?” tanyaku pada Elina, yang sedang tertawa mendengar lelucon Diego.


Elina tiba-tiba melihatku dengan wajah yang datar, begitu kontras dengan ekspresi yang dia tunjukkan pada Diego dan Hamid, aku tidak tahu bahwa ekspresi seseorang bisa berubah secepat itu.


“Gue sibuk.” Elina menjawab pertanyaanku dengan ketus.


“Sebentar aja, El.”


“Lo nggak denger emang? Gue sibuk!” Elina menekan setiap perkataan yang dia katakan.


“Tapi...”


Belum selesai aku berbicara, Khenzie langsung menarik tanganku dan membuatku duduk di kursiku.


“Lo kenapa sih? Gue mau ngomong sama Elina.” Aku membentak Khenzie, yang duduk di hadapanku.


Aku beranjak.

__ADS_1


“Gue ke toilet dulu, ya.” Kata Elina pada Diego dan Hamid.


Elina melirikku dengan lirikan yang tajam, seolah dia membenciku.


“Lo liat sendiri, dia benci elo Arsyana!”


Aku menatap Khenzie.


“Kalo itu emang benar, gue harus tahu alasannya.”


Aku berlari mengajar Elina, toilet lantai tiga memang cukup dekat dari kelasku. Aku menunggu di wastafel sambil merapikan rambutku.


“El.” Aku langsung memanggil Elina, begitu melihat wajahnya dari kaca.


Elina mengabaikanku, ia mencuci tangannya di wastafel yang  bersebelahan denganku.


“El, lo kenapa sih?” tanyaku, sambil melihat Elina yang sedang merapikan rambutnya.


Elina sama sekali tidak melihat ke arahku, seolah dia tidak mendengar setiap pertanyaan yang aku ajukan padanya.


“El, jawab gue! Udah satu bulan ini lo ngejauhin gue. ” Aku memegang lengan Elina.


Elina akhirnya melihatku, ia tersenyum tipis dengan ekspresi wajah yang datar.


“Lo mau tahu jawabannya?” Elina menatap tajam mataku.


Aku mengangguk.


“Gue benci elo.” Elina melepas tanganku yang memegang lengannya, lalu membuat wajahnya mendekati wajahku. Mata Elina terlihat memerah, ia melihat setiap sisi wajahku.


Elina menarik lenganku, membuatku berdiri di depan cermin yang ada di hadapannya, Elina mengarahkan wajahku agar menghadap ke cermin di depannya. Tangan kanan Elina mencengkram lenganku dengan sangat kuat, lalu tangan kirinya mencengkram daguku.


“Gue benci wajah ini, gue benci elo!” pekik Elina, di telingaku. Wajah Elina terlihat memerah, ia terlihat sangat marah walaupun aku tidak tahu apa penyebab kemarahannya.


“Gue benci elo, Arsyana!” Elina mendorong tubuhku, hampir saja aku jatuh di lantai.


Elina hendak meninggalkan toilet.


“Kasih tahu gue apa alasannya?” tanyaku pada Elina, yang hendak melewati pintu toilet.


Elina tak menjawab pertanyaanku, ia bahkan sedikitpun tidak menoleh ke belakang.


“Kenapa sih, El? Kenapa lo jadi kayak gini sekarang?” gumamku dalam hati.


Di rumah, saat waktu sudah menunjukkan pukul 14.45. Dari luar, terdengar Mama memanggil namaku.


“Syan.” Mama memanggilku, sambil mengetuk pintu kamarku.


Aku pun beranjak dari kasur lalu membukakan pintu untuk Mama.


“Di bawah ada Khenzie, katanya mau ketemu sama kamu.” Kata Mama, begitu melihat wajahku.


“Bilang aja Syana nggak di rumah ya, Ma.”


“Mama, udah terlanjur bilang kalo kamu ada di rumah. Gimana dong?”

__ADS_1


Aku menghela napas.


“Yaudah, deh. Syana ke bawah.” Aku menutup pintu kamarku, lalu turun ke bawah bersama Mama.


__ADS_2