
Sepulang sekolah, Khenzie mengajakku untuk mengunjungi store es krim miliknya.
“Mau es krim, nggak?” tanya Khenzie padaku, sambil memakai jaket seragam store-nya.
“Boleh, rasa cokelat ya.”
Khenzie tersenyum dengan anggukan pelan kemudian membuatkan es krim untukku.
“Udah lama gue nggak kesini.” Ucapku, sambil melihat store es krim milik Khenzie.
Khenzie memberikan es krim yang dibuatkan padaku.
“Duduk, Syan.” Khenzie memintaku duduk di kursi karyawannya, yang berada tepa di belakang meja kasir.
Aku pun duduk, sambil menikmati es krim yang Khenzie berikan.
“Syan, tolong tunggu store gue bentar ya.” Khenzie memegang perutnya.
“Hah? Nggak, gue nggak bisa.”
“Syan, lo udah sering beli es krim di sini dan udah sering ngeliat cara gue nyiapin es krim buat pembeli. Please, gue mau pup ni.” Wajah Khenzie, berkeringat.
“Tapi Khen...”
Belum selesai aku berkata tapi Khenzie sudah berlari menuju toilet Mall.
“Maafin gue, Syan. Gue buru-buru banget.” Teriak Khenzie, sambil berlari ke toilet.
Aku berdecak sambil menatap punggung Khenzie yang perlahan menghilang.
“Rik, lo betah nggak sih sama Bos lo itu?” tanyaku pada Rika, Karyawati di store es krim Khenzie.
Rika hanya tertawa mendengar pertanyaanku, aku kembali duduk.
“Semoga nggak ada yang beli, Ya Allah.” Aku berdo’a dalam hati karena enggan melayani pembeli, meskipun sebenarnya do’a itu jahat untuk Khenzie.
Aku memperbaiki posisi kursiku, aku duduk dengan membelakangi meja kasir sambil memakan es krim. Tak berapa lama, aku mendengar suara perempuan yang memesan es krim tapi aku mengiraukannya karena ada Rika yang menanggapi perempuan itu.
“Mbak, pembelinya mau bayar.” Kata Rika padaku.
__ADS_1
Aku melirik Rika dengan tatapan kesal, aku menggertak gigiku sambil melihat Rika.
“Ini yang dia pesan, Mbak.” Rika memberikan secarik kertas, pesanan pembeli.
Aku berjalan ke meja kasir, dengan malas.
“Totalnya 45 ribu, Mbak.” Kataku pada perempuan, yang membeli es krim, aku berusaha untuk tersenyum meskipun tak menampakkan kerutan di sudut mataku.
Saat perempuan itu mengambil dompetnya di tas, aku melirik pria yang ada di sampingnya, pria itu berdiri membelakangi ku. Punggung pria itu yang lebar dengan model rambut low padenya, membuatku sempat berpikir bahwa aku mengenalnya tapi aku berusaha menyangkalnya karena aku pikir model rambut seperti itu memang sedang banyak dipakai oleh pria zaman sekarang.
Perempuan itu memberikan uang 50 ribu kepadaku, untuk membayar es krimnya.
“Kembaliannya 5 ribu, ya. Sebentar ya, Mbak.”
Aku menunggu struk pembelian keluar, lalu memberikan kembalian beserta struk pembelian kepada perempuan itu.
“Terima kasih, selamat menikmati es krimnya.” Kataku pada perempuan itu, sambil tersenyum dan menangkupkan kedua tanganku di depan dada.
“Sama-sama.” ucap perempuan itu, sedikit merunduk.
Perempuan itu pun mengajak pria yang datang bersamanya untuk berlalu.
“Yuk, sayang.” Ajaknya, melingkarkan tanganya di tangan pria itu.
Mereka pun berlalu, setelah menjauh dari store es krim milik Khenzie, aku melihat pria itu berjalan selayaknya orang normal, wajah pria itu terlihat jelas dari samping. Kedua kelopak mataku terbuka lebar saat memperhatikan wajah pria itu.
“Papa.” Gumamku, setelah melihat wajah pria itu.
Darahku tiba-tiba berdesir, aku berlari mengajar mereka yang sedang berjalan menuju lift. Aku melihat Papa dan perempuan itu asyik mengobrol, aku langsung menarik tangan Papa setelah di dekat Papa dan perempuan itu membuat badan Papa berbalik dan berhadapan dengan wajahku.
“Menyesal?” aku mendonggakkan untuk menatap mata Papa sambil tersenyum meremehkan, aku mengingat kembali perkataan Elina yang mengatakan bahwa Papa menyesali perbuatanya.
Semua orang yang sedang berdiri di depan lift menatapku, mereka terlihat bingung dengan keributan yang aku buat, seolah mendapat tontonan gratis para pengunjung yang berlalu lalang ikut memperhatikan kami.
“Pengkhianat seperti Papa tidak akan pernah berubah, aku bahkan menyesal karena sempat berpikir untuk memaafkan Papa. Bukan Elina yang salah tapi Papa, Papa yang nggak pernah bisa puas sama satu wanita, mau itu Elina ataupun Mama.” Wajahku terasa panas karena amarah yang sedang meluap.
Aku melirik perempuan yang datang bersamanya.
“Apa sih sebenarnya yang lo harapin dari pria yang bahkan tega nyakitin anaknya sendiri? Kesetiaan? Harta? Atau cinta?” tanyaku pada perempuan itu, sambil menatap matanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Mata perempuan itu terlihat bergetar saat aku mengajukan pertanyaan itu padanya, ia memcengkram baju Papa sekuat mungkin.
“Semua itu nggak akan pernah lo dapatin, dia bahka tega membuang istri dan ketiga anaknya. Harta? Harta dia yang lo nikmati sekarang bukan milik dia tapi milik mendiang Kakek gue, Ayah mertuanya. Ayah dari perempuan yang dia sakitin!” Lanjutku.
“Syana! Cukup! Berhenti bersikap tidak sopan di depan umum, terlebih sama Papa.” Papa melototiku.
“Maaf untuk ketidak-nyamanan ini.”
Aku menudukkan kepala ku kepada semua orang yang merasa tidak nyaman, menunggu di depan lift sambil mendengar pertengkaran kami.
“Saya tidak bermaksud membuat keributan tapi pria ini benar-benar membuat saya marah dengan segala pengkhianatannya. Sampai saya kehilangan cara untuk mengontrol emosi” Aku menunjuk wajah Papa, Papa langsung menurunkan tanganku sambil menatapku kesal.
Pintu lift terbuka, Papa dan semua orang berjalan memasukki lift.
“Kita selesaikan di rumah.” ucap Papa, melangkah masuk lift sambil melihatku.
Aku tetap berdiri di depan lift sambil menatap Papa yang perlahan terhalangi oleh pintu lift yang kembali tertutup.
Aku kembali ke store es krim milik Khenzie, dengan perasaan yang kacau. Aku mengambil tasku, bersiap untuk pulang.
“Mau kemana lo?” tanya Khenzie padaku, sambil mengelap tangannya dengan tisu.
Rika sepertinya memberikan isyarat pada Khenzie untuk mendekatinya, Khenzie pun mendekati Rika.
“Siapa yang baru aja lo temuin?” tanya Khenzie, setelah berbisik dengan Rika.
Rika memang tidak tahu dengan siapa aku berbicara tadi karena dia menjaga store, dia hanya melihat dari kejauhan.
“Papa.” Kataku, pelan.
Khenzie mengambil tasku lalu menarik tanganku, raut wajahnya yang semula penasaran mendadak berubah menjadi serius.
“Gue anter lo pulang.”
“Nggak, gue bisa pulang sendiri.” ucap ku, menarik tanganku yang Khenzie pegang.
“Gue nggak akan ngebiarin lo pulang sendirian dalam keadaan sekarang.”
“Khen, please! Gue butuh waktu sendiri.” Suaraku bergetar, aku mengambil kembali tasku dari tangan Khenzie kemudian berlalu, meninggalkan Khenzie yang seolah terpaku, ia hanya melihatku bahkan hingga bayanganku hilang dari penglihatannya.
__ADS_1
Di dalam taksi, aku merasa sangat kacau. kepalaku bersandar di kaca jendela mobil sambil menatap jalanan yang tak sebising biasanya.
“Ini bukan yang pertama kalinya, gue ngeliat Papa selingkuh tapi kenapa rasa sakitnya masih tetap sama?” gumamku, tanpa sadar air mata melewati kelopak mataku.