
“Lo udah sarapan?” tanya Khenzie, setelah kami keluar dari dalam kantor polisi.
“Blom.”
“Kita sarapan dulu, ya.”
Aku menerima ajakan Khenzie sembari mengangguk pelan. Khenzie mengajakku sarapan di tenda makanan yang ada di dekat kantor polisi.
“Syan, lo harus bisa melewati semua ini.” Tutur Khenzie, setelah selesai memesan sarapan kami.
“Khen, gue nggak tahu apa jadinya gue kalau nggak ada lo.” mataku berkilau menatap Khenzie.
“Lo akan tetap jadi Arsyana.”
“Iya tapi lo nggak akan menemukan Arsyana yang dulu lo kenal.” Sahutku, menatap datar mata Khenzie.
Tiba-tiba handphone Khenzie berdering, Khenzie merogoh saku bajunya untuk mengambil ponselnya.
“Hallo.” Kata Khenzie, ia melirikku sekilas.
“Iya, Syana lagi sama gue.” Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena Khenzie mengecilkan volume suara handphonenya.
“Siapa?” tanyaku pada Khenzie, pelan.
“Bang Aksa.” Jawab Khenzie, singkat.
“Kami lagi di Warung Bubur Ayam Pak Haji, yang di dekat kanto kepolisian.” ucap Khenzie, melirik papan nama yang terpasang di dinding warung.
“Iya Bang.”
Khenzie mengakhiri panggilan dari Bang Aksa.
“Bang Aksa mau kesini, katanya.” Tutur Khenzie, sambil masukkan handphonenya di saku bajunya.
“Mau ngapain dia kesini? Lo bilang sama Bang Aksa soal kejadian ini?” tanyaku, yang sudah was-was.
“Nggak, mungkin dia lagi nyariin lo aja.” Khenzie terlihat berusaha menenangkan ku, ia tersenyum tipis.
“Pipi lo lebam semua, Syan.” Lanjutnya.
__ADS_1
Khenzie pun beranjak kemudian menemui Pak Haji yang sedang menyiapkan bubur Ayam untuk pelanggannya.
“Pak, saya boleh minta es batu tidak? Saya mau mengompres pipi teman saya yang baru saja dipukul sama orang yang mengalami gangguan kejiwaan.” Tutur Khenzie pada Pak Haji
Pak Haji memberikan Khenzie satu mangkuk es batu beserta satu buah handuk berwarna kuning.
“Terima kasih, Pak.” ucap Khenzie, sembari merundukkan kepalanya.
“Sama-sama.”
“Brooklyn udah keterlaluan banget sih, wajah lo sampai lebam kayak gini.” Tutur Khenzie, sambil mengompres wajahku menggunakan es batu yang sudah dia lapisi dengan handuk.
Aku hanya diam sambil menatap lekat mata Khenzie, seketika jantungku berdegup kencang. Khenzie tiba-tiba menatap mataku, sontak aku langsung memalingkan pandangan ku, hal itu membuatku merasa canggung.
“Ni, kompres sendiri.” Kata Khenzie, meletakkan handuk kompresan di tanganku.
Aku pun mengambilnya lalu mengompres sendiri wajahku karena sangat canggung rasanya melihat wajah Khenzie dari jarak yang sangat dekat.
“Kenapa gue jadi gugup gini sih?” aku bergumam dalam hati, memalingkan wajahku dari Khenzie yang saat ini sudah menyantap bubur ayam miliknya yang baru saja tiba.
Bubur ayam itu habis dalam kurung waktu satu menit, sepertinya Khenzie benar-benar kelaparan atau dia sedang menutupi rasa groginya saat ini, entahlah.
“Berisik!” seru Khenzie, pelan.
Khenzie mengaduk bubur ayam milikku, dia tahu bahwa aku lebih suka menyantap bubur ayam yang sudah di aduk rata.
“Aaaak.” Khenzie mengarahkan sendok berisikan bubur ayam kepadaku.
Aku melihat sendok itu kemudian melihat wajah Khenzie, aku mengernyitkan dahi ku.
“Cepetan makan, capek ni tangan gue megangin sendok.” Kata Khenzie, menggerutu.
Aku pun melahap bubur ayam yang Khenzie suapkan padaku.
“Lo kompres aja wajah lo, biar gue yang suapin.”
“Iya.”
Tiba-tiba Bang Aksa duduk di sebelahku, aku melihat wajahnya sudah sangat serius dari sejak dia duduk di sampingku.
__ADS_1
“Wajah kamu kenapa?” Bang Aksa langsung bertanya mengenai wajahku begitu ia tiba.
Bang Aksa memegang bahuku, membuat wajahku berhadapan dengannya. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, aku takut Bang Aksa marah padaku.
“Kenapa dia, Khen?”
“Kenapa kamu nggak ngasih tahu kalo mau keluar rumah?”
“Kenapa kalian ada di dekat kantor polisi? Disini bukan area buat kalian main.”
Bang Aksa melontarkan begitu banyak pertanyaan, sampai-sampai Khenzie tidak punya kesempatan untuk menjawab pertanyaannya, aku tahu Bang Aksa sangat menghawatirkan ku.
“Kenapa diam aja, Syana, Khen? Jawab!” tegas Bang Aksa, yang jengah pada kami yang bungkam.
“Tenang dulu, Bang. Tenang dulu.” Khenzie meminta Bang Aksa untuk tenang terlebih dahulu.
Bang Aksa mengatur napasnya, membuat bahunya rileks.
“Coba ceritain pelan-pelan.” Kata Bang Aksa pada Khenzie, setelah sedikit lebih tenang.
“Oke, gue bakalan cerita semuanya dari awal tapi tolong Bang Aksa jangan bereaksi dulu sebelum gue selesai menceritakan semuanya.” Pinta Khenzie kepada Bang Aksa, yang langsung di setujui oleh Bang Aksa.
“Tadi pagi, jam 7.45 Syana nelpon gue. Dia bilang kalo Brooklyn mau ngajak ketemuan di Taman Cinta dan dia minta ketemuannya di jam 9.00 dari sini sebenarnya gue udah curiga. Soalnya di jam segitu, Taman Cinta sudah sepi pengunjung.” Jelas Khenzie pada Bang Aksa.
Aku yang juga ikut mendengarkan penjelasan Khenzie, seketika aku baru ingat bahwa di jam 9.00 Taman Cinta memang biasanya sudah sepi pengunjung, pantas saja saat aku tiba disana, aku tidak melihat pengunjung yang lainnya.
“Iya, ya. Kenapa gue nggak kepikiran soal itu” aku bergumam dalam hati, sambil memerhatikan Khenzie yang sedang menjelaskan semuanya pada Bang Aksa.
“Gue mutusin buat ngelaporin Brooklyn ke kantor polisi, gue ingat kalau Brooklyn pengguna narkoba dan untungnya dia membawa mobil yang sama dengan yang dia pakai ke sekolah waktu dia dilarikan ke rumah sakit. Gue nunjukin bukti yang gue ambil diam-diam saat Syana ngeluarin tas berisi barang terlarang itu dari begasi mobil Brooklyn. Polisi akhirnya percaya dan mengikuti gue untuk pergi ke Taman Cinta, setelah sampai di Taman Cinta, gue mengarahkan polisi ke mobil Brooklyn yang ada di parkiran. Awalnya gue berpikir bagaimana caranya buat membuka mobil Brooklyn tapi ternyata setelah gue mencoba membuka pintu mobilnya, mobil Brooklyn nyatanya tidak di kunci. Saat itulah polisi menggeledah mobil Brooklyn sementara gue bergegas mencari Syana, gue nunjukkin foto Syana ke satpam taman, beliau bilang kalo sempat bertemu dengan Syana di dekat hutan buatan yang ada di dalam taman dan benar aja, gue melihat Syana di lecehkan oleh Brooklyn, gue bersyukur karena bisa tiba dengan cepat dan menghentikan aksi bejat Brooklyn ke Syana.” Jelas Khenzie pada Bang Aksa, sejak Khenzie menceritakan semuanya, wajah Bang Aksa sudah terlihat memerah karena menahan amarahnya.
Setelah Khenzie selesai menceritakan segalanya, Bang Aksa langsung beranjak sambil menggebrak meja dengan sangat keras, yang membuat seluruh pembeli yang ada disana terkejut tak terkecuali aku dan Khenzie.
“Dimana bajingan itu?!” Bang Aksa bertanya dengan tangan yang sudah terkepal dengan yang kuat.
“Sel tahanan, Bang.” Jawab Khenzie, singkat.
Bang Aksa pun bergegas menuju kantor polisi, dengan wajah yang semakin memerah.
“Gue harus ngehentiin Bang Aksa.” Kataku, tergesa.
__ADS_1
Khenzie menahan tanganku, menghentikan langkahku.