KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 28 Trauma


__ADS_3

“Sa, tolong ambilin handpone gue di saku.” Pinta Bang Aksa pada Bang Arsa, sambil menyetir.


Bang Arsa pun mengambil handphone Bang Aksa yang ada di saku celana, lalu menyodorkan handphone itu ke Bang Aksa.


“Cariin nama Dian di kontak.” pinta Bang Aksa


“Sebentar, kontak telephone lu banyak banget sih.” ketus Bang Arsa


“Jangan scroll-scroll gitu, Sa!” Bang Aksa terlihat kesal pada Bang Arsa, yang kesulitan mencari nama Dian karena banyaknya kontak telephone yang disimpan oleh Bang Aksa.


“Terus gimana?!”


“Itu kan ada tempat pencariannya, kamu ketik aja nama Dian!”


“Ya kan gue nggak tahu, jangan ngegas dong!”


“Apaan sih! Tetap aja nggak ada nama Dian.” Lanjut Bang Arsa, yang sepertinya mulai kesal.


“D-H-I-A-N.” Bang Aksa mengeja nama Dhian.


“Apaan sih? Aneh banget nama Dhian pake huruf H.” Bang Arsa menggerutu.


Bang Aksa menggelengkan kepalanya sambil melirik Bang Aksa.


“Ketemu nggak?”


“Ketemu.”


“Tolong telephone, sekarang.”


Bang Arsa pun menelphone orang yang bernama Dhian itu.


“Speakernya dinyalain dong, Sa. Gimana sih!” Bang Aksa meminta Bang Arsa untuk mengaktifkan speaker handphonenya agar bisa terdengar jelas oleh Bang Aksa.


Bang Arsa mengikuti perintah dari Bang Aksa sambil menghela napas panjang.


“Udah nyuruh, ngegas lagi! Mana gue yang megang handphonenya, dia nggak tahu gue pegel apa?” gumam Bang Arsa, yang seolah berbicara pada kaca jendela mobil Bang Aksa.


“Hallo, Dhi.” Kata Bang Aksa, setelah Dhian menerima panggilan darinya.


“Iya dok, kenapa? Ada yang bisa saya bantu?”


“Saya lagi jalan ke rumah sakit, dokter Bunga udah datang belom?” tanya Bang Aksa pada Dhian.


“Udah, dok. Barusan saya ketemu sama beliau di lift.”


"Dhi, tolong buatin jadwal konsultasi ke dokter Bunga atas nama Arsyana Chalondra ya."


"Baik dok, akan saya buatkan."


“Oke, makasih ya.”


“Sama-sama, dok.”

__ADS_1


Bang Arsa pun mengakhiri panggilan.


“Makasih.” Kata Bang Aksa pada Bang Arsa, yang berterima kasih atas bantuan dari Bang Arsa.


“Sama-sama” Bang arsa membalas dengan ekspresi datar.


Di rumah sakit, setelah menemui bagian resepsionis, Bang Aksa mengajak kami untuk naik ke lantai 5.


“Kita ke lantai 5.” Tutur Bang Aksa


Kami pun menuju lantai lima dengan menaiki lift rumah sakit. Setelah tiba di lantai lima, Bang Aksa menuju lorong sebelah kanan dari lift. Kemudian berhenti di depan ruangan, yang di depan pintunya tertulis nama dr. Bunga Nasution, sp.KJ serta di plang samping pintu tertulis ruang psikiater.


“Selamat pagi, dok.” sapa Bang Aksa setelah mengetuk pintu lalu membuka sedikit pintu ruangan dokter Bunga.


“Pagi, dokter Aksa.”


“Silakan masuk, dok.” Dokter Bunga mempersilakan Bang Aksa untuk masuk ke ruangannya.


Bang aksa pun membuka pintu dan membiarkan kami masuk terlebih dahulu, lalu menutup kembali pintu ruangan dokter Bunga.


“Hallo, Arsyana.” Dokter Bunga menyapaku sambil tersenyum ramah.


“Silakan duduk.” Lanjut dokter Bunga.


Aku dan Bang Aksa duduk di kursi yang ada di hadapan dokter Bunga, sementara Mama dan Bang Arsa duduk di sofa.


“Apa yang bisa saya bantu?” tanya dokter Bunga, menatap mataku.


“Begini dok, tadi saya mendengar jeritan Adik saya dari dalam kamar, awalnya saya kira dia mimpi buruk tapi makin lama suaranya semakin keras.” Bang Aksa menjawab pertanyaan dokter Bunga.


Aku mengangguk sambil tertunduk, menyetujui perkataan Bang Aksa.


“Gimana sekarang? Kamu udah lebih tenang?”


“Udah, dok.” aku meremas tangan ku.


“Kalau begitu boleh saya tahu penyebabnya?”


Aku mengangguk, menyetujui.


“Coba ceritakan.”


“Saat itu saya terbangun karena mendengarkan handphone saya yang berdering, tepat di jam 7 dan saya melihat Brooklyn menelepon saya.” Jelasku pada dokter Bunga.


“Brooklyn adalah mantan pacarnya dok tapi bukan dia yang menelepon saat itu. Saya melihat sendiri diriwayat panggilan di handphone yang saya pinjam, kalau yang berulang kali menelpone Syana di jam 7 itu adalah Khenzie, sahabatnya.” Bang Aksa menimpali perkataanku.


Dokter Bunga meraih tanganku yang ada di atas meja.


“Dokter Bunga boleh tahu nggak apa aja yang kamu rasain saat kamu melihat panggilan itu?”


“Jantung saya terasa berdebar kencang, badan saya tiba-tiba bergetar, keringat terus mengalir, dada saya terasa sesak sehingga kesulitan untuk bernapas normal.” Jelasku, mengingat kembali perasaan yang muncul saat melihat panggilan itu.


Dokter Bunga menatapku dengan tatapan pilu, lalu melirik Bang Aksa.

__ADS_1


“Apa yang terjadi sebelumnya?” tanya dokter Bunga pada Bang Aksa, dokter Bunga terlihat serius menatap wajah Bang Aksa.


“Sebenarnya handphone yang dipakai oleh Syana tadi pagi adalah handphone saya dok, handphone milik Syana ditahan oleh pihak kepolisian untuk dijadikan barang bukti.” Jelas Bang Aksa.


“Barang bukti? Polisi? Apa maksudnya?” dokter Bunga mengernyitkan dahinya.


“Kemarin, adik saya baru saja mengalami pelecehan seksual oleh mantan pacarnya yang tadi dia sebutkan.”


Kedua mata dokter Bunga terbuka lebar, ia melirikku.


Bang Aksa pun menceritakan detail yang dia tahu pada dokter Bunga.


“Untuk sekarang tolong jauhkan Syana dari barang-barang atau tempat yang bisa membangkitkan kenangan buruknya seperti gunting, hoodie, dan Taman itu.” Pinta dokter Bunga, setelah mendengar semua yang terjadi pada ku hari itu.


“Baik dok.” Bang Aksa mengiyakan permintaan dokter Bunga.


Dokter Bunga menulis sesuatu di selembar kertas lalu merobeknya.


“Ini saya resepkan obat-obat yang harus dikonsumsi oleh Syana, tolong ditebus di apotik ya dok.” Dokter Bunga memberikan secarik kertas itu pada Bang Aksa dan meminta Bang Aksa untuk membelinya di apotik.


“Syana mengalami gangguan kecemasan, yang disebabkan oleh kejadian yang diterimanya. Kami  menyebut gejala ini dengan sebutan PTSD (Post Traumatic Stress disorder) atau gangguan stres pasca-trauma. Gangguan stress yang dialami penderitanya setelah mengalami sebuah kejadiaan yang tidak menyenangkan. Gejalanya beragam, salah satunya gangguan kecemasan yang tadi Arsyana alami saat ingatannya kembali merekam kejadian itu.” Dokter Bunga mengatakan bahwa aku terkena gangguan stress setelah mengalami hal yang tidak menyenangkan. 


“Anak saya bisa sembuhkan kan, dok?” tanya Mama, raut wajah Mama terlihat khawatir.


“Bisa, Bu. Pelan-pelan kondisi Syana akan kembali seperti semula.” Dokter bunga, tersenyum menatapku.


“Berapa lama, dok?”


“Kalau itu saya tidak bisa memastikan, Bu. Semuanya tergantung dengan Syana.”


“Besok kita jadwalkan untuk melakukan terapi, ya. Untuk sekarang mungkin Syana akan sering berpikir yang negatif-negatif bahkan peristiwa yang dia alami mungkin akan muncul dimimpinya dan menganggu kesehariannya tapi saya yakin Syana bisa melewati semuanya.” Lanjut dokter Bunga, yang tersenyum menatapku.


“Kalau sekarang, gimana dok? Saya mau anak saya di terapi sekarang.”


“Maaf Bu, sebentar lagi saya ada jadwal untuk bertemu dengan pasien yang lain.”


“Kalau gitu nanti saya minta tolong Dhian buat menjadwalkan terapi besok ya, dok.” Tur Bang Aksa.


“Terima kasih, dok.”


“Untuk sekarang peran keluarga sangat penting, usahakan agar kondisi mentalnya dalam keadaan baik-baik saja. Dan kalau dia berpikir yang negatif cepat alihkan ke pikiran yang positif. Saya tidak bisa menyembuhkan Syana seutuhnya kalau tidak dibantu oleh keluarga.”


“Baik, dok. Saya akan menemani anak saya dan berdo’a agar Allah memberikan kesembuhan pada anak saya.” 


Kami pun kembali ke rumah, aku duduk di ruang tamu, Bang Aksa mengambilkanku segelas air minum.


“Kamu minum obat dulu, ya.” Kata Bang Aksa, meletakkan obat di tanganku.


Aku pun meneguk obat-obat itu, yang disusul oleh air.


“Makasih, Bang.”


“Ma, Syana ke kamar dulu ya.” Aku beranjak dari sofa

__ADS_1


“Mama anter, ya.” Mama merangkul bahuku, menuntunku untuk naik ke kamar.


__ADS_2