
Di kantin, aku berulang kali tertangkap oleh mata Khenzie saat sedang menatapnya tapi aku selalu memalingkan wajahku.
“Kenapa? Ada yang mau lo sampein?” Khenzie bertanya padaku sambil tersenyum.
Aku menatap Khenzie, yang sedang menyantap mie instan kesukaannya. Aku mengambil mangkuk mie dan menjauhkannya dari hadapan Khenzie, membuat mie Khenzie terjuntai di mulutnya dan langsung Khenzie lahap.
“Syana!” Khenzie kesal padaku, ia mengambil kembali mangkuk mienya.
“Gue mau ngomong bentar boleh nggak?” aku bertanya pada Khenzie dengan nada serius, membuat Khenzie menatapku lekat.
“Lo denger pembicaraan gue sama Elina?” tanyaku pada Khenzie.
Khenzie menganggukkan kepalanya, Khenzie yang sejak tadi menatapku, kini mengalihkan pandangannya.
“Lo marah ya sama gue?”
Khenzie menatap lekat mataku, ia terdiam sejenak membuatku berdebar.
“Nggak, gue tahu itu cara lo buat bertahan.” Khenzie tersenyum lalu kembali menyantap mie instan.
“Maafin gue, Khen. Maafin gue karena menjadikan elo alat buat balas dendam sama Elina.” aku berkata dalam hati sambil menatap Khenzie.
“Gue boleh nasehatin elo, nggak?” Khenzie bertanya padaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
“Lo boleh benci sama Elina, itu manusiawi. Gue juga kalo di posisi lo bakalan ngelakuin hal yang sama tapi Syan, jangan biarin kebencian itu membuat lo hancur lebur. Jangan sakitin diri lo sendiri dengan membenci, jangan menanam benih penyakit di hati lo.”
Mataku bergetar, begitu mendengar nasehat dari Khenzie.
“Berulang kali gue katakan, kalo elo nggak sendiri. Jadi, jangan isi hari-hari lo dengan kebencian ya.” Sambung Khenzie, menatap mataku sambil tersenyum manis, tiba-tiba pipiku terasa panas.
Aku mencubit tanganku sendiri, yang sejenak merasa berdebar menatap Khenzie.
“Gue mungkin akan maafin Elina kalo dia sekedar nyakitin gue tapi dia udah nyakitin seluruh keluarga gue, Khen! Terus sekarang, lo mau gue maafin dia?” aku berkata dengan emosional, aku yakin Khenzie bisa tahu bawa aku sedang lepas kendali.
“Nggak, Khen. gue nggak akan pernah maafin dia, sampai kapanpun!” lanjutku, dengan suara yang meninggi, membuat mata semua murid tiba-tiba tertuju padaku karena saat aku mengungkap isi hatiku, suasana kantin sedang hening.
“Syan, kita tahu Elina orang yang seperti apa. Gue nggak mau kebencian lo sama Elina membuat lo kehilangan diri lo sendiri, gue nggak mau kehilangan Arsyana yang selama ini gue kenal.” Khenzie memegang tanganku, menatapku lirih.
Khenzie menghela napas berat.
“Yaudah, iya. Elo tenang dulu, Syan.” Khenzie memintaku untuk tenang.
Aku memalingkan pandanganku, berusaha mengatur napas. Setelah berhasil menenangkan diri, aku menanyakan sesuatu yang masih menganjal di hatiku pada Khenzie.
“Gue denger lo suka sama gue, beneran?”
Khenzie menatapku untuk sepersekian detik kemudian memalingkan wajahnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Sejak kapan?”
__ADS_1
“Gue baru menyadari perasaan ini sejak dua tahun terakhir, perasaan yang sejak dulu selalu gue sangkal.”
“Akhirin, lo selamanya sahabat gue. Hubungan kita hanya sebagai sahabat, nggak lebih.” pintaku pada Khenzie.
Khenzie tersenyum.
“Lo nggak bisa ngatur hati orang lain, Syan. Perasaan gue sama lo tumbuh begitu aja, seiring dengan kebersamaan kita.” ungkap Khenzie.
“Khen, gue nggak...”
“Gue nggak menuntut lo buat membalas perasaan gue, gue akan tetap mencintai elo meskipun gue tahu arti gue di hidup lo.” Khenzie menyela perkataanku, membuatku terdiam.
Aku menghela napas berat.
“Setelah apa yang terjadi belakang ini, gue ragu apakah gue masih percaya sama cinta.” Aku beranjak.
Saat aku melewati Khenzie yang masih duduk, Khenzie memegang tanganku.
“Gue akan tetap mencintai elo, sampai lo menerima perasaan cinta gue.” Khenzie menatap dalam mataku sementara aku menatap lurus ke depan, ia melepaskan tanganku setelah selesai mengungkapkan perasaannya.
Aku berlalu meninggalkan Khenzie, berusaha berjalan dengan tegap meskipun kaki ku terasa sangat lemas.
Aku menjadi yakin sekarang, bahwa tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Semula mungkin seperti itu, lalu salah satu pihak mulai menyembunyikan perasaannya dengan berkedok sahabat.
Aku duduk di kursi yang ada koridor sekolah, di dekat mading sekolah.
__ADS_1