
“ Permisi Mas, ini ada ibu hamil. Masnya boleh berdiri saja tidak, soalnya kasihan Mbaknya keliatan capek banget berdiri dari tadi.“ Tutur ku pada seorang pria, yang membawa tas kerja di pangkuannya.
Pria itu hanya melihatku sejenak lalu memalingkan wajahnya lagi, dia seolah tidak mendengar apa yang aku sampaikan padanya.
“ Maaf Mas, kasihan Mbaknya dia lagi...”
Belum selesai aku berbicara tapi pria itu sudah memotong perkataan ku sembari melototi ku dan menatap Mbak yan sedang hamil itu dengan tatapan sinis.
“ Makanya, kalo lagi hamil tuh jangan keluar rumah dong... ngerepotin aja bisanya!” ketus pria itu, tanpa beranjak sedikitpun.
Aku menghela napas kesal, begitu mendengar perkataan pria itu.
“ Maaf ya Mas, kalo emang nggak mau ngasih kursinya ya gapapa tapi jangan ngebentak orang juga kali! Lagian Masnya nggak punya mata apa? Udah jelas-jelas di kaca busway tertulis bahwa kursi di prioritaskan untuk ibu hamil, Masnya nggak bisa baca atau gimana?!” aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku lagi, untuk tetap bersikap sopan kepada pria itu setelah perkataannya tentang Mbak yang sedang hamil itu.
“ Anak kecil ngajarin orang tua, berani banget kamu?!” bentaknya, sekali lagi.
“ Oh iya jelas saya berani, kalau orang tuanya kayak Mas kenapa saya harus takut?! Kalo emang Mas nggak mau di ingetin sama yang lebih muda, ya harusnya tahu diri dong sebagai orang yang lebih tua, memberi contoh yang baik buat anak kecil kayak saya.” pungkas ku, menatap serius wajah pria itu.
Pria itu memicingkan matanya menatapku, ia terlihat sangat kesal padaku. Ia beranjak dan mengarahkan kepalan tangannya ke wajahku tapi di tangkis oleh tangan seorang laki-laki yang ada di belakangku.
“ Khenzie!” seruku, begitu berbalik untuk melihat ke belakang, yang membuatku tahu bahwa tangan yang menahan tangan pria itu adalah tangan Khenzie.
Aku dan Khenzie memang sering menaikki Busway yang sama tapi kali ini aku tidak tahu sejak kapan Khenzie berada di dalam Busway, aku melihat keluar ternyata halte tempat biasanya Khenzie menunggu baru saja kami lewati.
“ Mas jangan kasar ya sama perempuan!” tegas Khenzie, menepis tangan pria itu dengan kasar.
Pria itu melihat kami dengan tatapan jengkel, ia tersenyum menyeringai.
“ Kursi di prioritaskan untuk lansia, wanita hamil, disabilitas, membawa balita ya. Tolong pengertiannya.” Pinta Bapak sopir busway, tanpa menoleh kebelakang karena dia harus fokus menyetir, dia hanya melihat suasana di dalam busway dari kaca yang ada di atas kepalanya.
Aku tersenyum menatap pria itu, seolah sedang memangkan pertandingan.
“ Udah denger sendiri kan, Mas? Bukan saya doang loh yang bilang tapi Bapak sopirnya juga.” Tuturku, tersenyum tipis.
Pria itu pun bergeser dari tempat duduknya dan berjalan ke belakang, aku meminta Mbak yang sedang hamil itu udah duduk.
“ Makasih ya.” Tuturnya, setelah mendapatkan tempat duduk.
__ADS_1
“ Sama-sama, Mbak .” Balasku, tersenyum.
“ Lo gapapa kan, Syan? “ tanya Khenzie, memastikan keadaanku.
“ Gapapa, i’m ok.” Jawabku, menyakinkan Khenzie bahwa aku tidak kenapa-napa.
Di halte berikutnya kami pun turun, SMAN Sebangsa Jakarta memang berjarak cukup dekat dengan halte busway, kami hanya perlu berjalan sekitar 100 M dari halte.
“ Syan, nanti fisika belajar bareng ya.” Ajak Khenzie, melirikku yang berjalan di sampingnya.
“ Ada tugas emang?” tanyaku, penasaran.
“Iya, soalnya Pak Burhan nggak dateng hari ini dan tentunya dia ninggalin tugas seperti biasa.”
“ Iya ketua kelas, emang selalu lebih tahu.... by the way, Pak Burhan nggak dateng kenapa?”
“ Biasa, lagi ngurusin acara nikahannya .” Jawab Khenzie.
Aku menganggukkan kepala, memahami. Saat kami sudah dekat dengan pagar sekolah, tiba-tiba kami melihat Pak Dimas hendak menutup pagar sekolah.
Kami berlari agar bisa masuk lebih dulu sebelum pagar di kunci oleh Pak Dimas, Pak Dimas mengitung mundur dari 10 untuk menutup pagar sekolah dan tentunya Pak Dimas tidak akan memaafkan muridnya yang terlambat.
Aku dan Khenzie berhasil melewati pagar saat Pak Dimas mengitung di hitungan ke-2, aku dan Khenzie menghela napas lega karena tidak terlambat. Aku masih terengah-engah karena baru saja berlari, aku menekuk lututku sambil mengatur napas, tangan kananku memegang dada untuk memastikan jantungku yang terus berdegup kencang karena baru saja selesai berlari.
“ Tumben kalian jam segini baru dateng, dari mana aja berdua?” tanya Pak Dimas, mendekati aku dan Khenzie.
“ Macet, Pak “ jawabku, sembari mengatur napas.
“ Kalian berangkatnya naik apa?”
“ Busway, Pak.” Jawab Khenzie, dengan polosnya.
Saat Khenzie menjawab pertanyaan Pak Dimas sontak aku memukul lengannya, otaknya memang di desain untuk tidak berbohong makanya ketika berbohong langsung kembali ke mode jujur.
“ Busway kok macet.” Celetuk Pak Dimas, ia memperhatikan kami dengan matanya yang terkesan mengintimidasi.
“ Kalo bohong yang pintar dikit, ya.” Lanjut Pak Dimas, menurunkan kacamatanya hingga setengah di hidung sambil menatap aku dan Khenzie.
__ADS_1
“ Maaf Pak.” tuturku dan Khenzie, secara bersamaan.
“ Yaudah sana ke lapangan, mau upacara.” Pak Dimas menyuruh kami untuk berbaris ke lapangan basket untuk mengikuti kegiatan upacara, yang biasanya diadakan setiap hari senin secara rutin.
“ Baik, terima kasih Pak.”
Aku dan Khenzie pun bergegas ke lapangan basket untuk upacara bendera, saat memasuki barisan kelas aku melihat Brooklyn yang sedang bertugas menaikki bendera hari ini karena hari ini giliran kelas Brooklyn yang bertugas dalam upacara. Aku dan Brooklyn berbeda kelas, dia kelas IPA 2 sementara aku kelas IPA 1, tentu saja kelas kami bersebelahan.
“ Khen, ntar belajarnya di perpustakaan aja ya.” Ajakku pada Khenzie, yang berdiri di sampingku.
Aku dan Khenzie berada di barisan yang berbeda tapi Khenzie tepat berada di sampingku.
“ Oke.” Sahutnya.
“ Kalian mau belajar apaan?” tanya Elina, yang berada di depanku, sepertinya Elina mendengar pembicaraan kami.
“ Fisika, kata Khenzie hari ini ada tugas.” Jawabku, sedikit melangkah ke depan untuk berbisik di telinga Elina.
“ Oh.” Elina melirik Khenzie sambil tersenyum manis.
“Gue ikut ya.” Lanjut Elina.
“ Ayo, di perpustakaan ya.” Aku mengiyakan permintaan Elina yang ingin ikut belajar bersama kami di perpustakaan.
“ Okey.” Sahut Elina, di ikuti dengan gerakan tangan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku melihat Elina yang tersenyum menatap Khenzie, membuatku berinisiatif buat menanyakan perkembangan kedekatannya dengan Khenzie.
“ Gimana PDKT-nya, lancar?” tanyaku, berbisik di telinga Elina kemudian melangkah mundur untuk kembali ke barisanku seperti semula.
Elina sedikit menoleh ke belakang, membuat aku bisa melihat sisi samping wajahnya.
“ Lancar, gue akan dapetin dia bagaimanapun caranya.” Tutur Elina, Elina terlihat sangat yakin dengan perkataannya.
“ Bagus, perjuangkan! “ aku memberikan Elina semangat, sambil mengacungkan jempol.
Dari yang aku tahu Elina adalah orang yang baik jadi aku merasa tenang bilang melihat sahabatku berpacaran dengan Elina, aku rasa mereka sangat cocok, dua orang yang di idam-idamkan oleh murid-murid di SMAN Sebangsa Jakarta.
__ADS_1