
Aku menghiraukan Bang Aksa dan berjalan menuju musholah. Setelah selesai sholat, aku kembali ke kamarku, di kamar aku melihat handphoneku yang menyala, aku meraih ponselku yang ada di atas laci, aku melihat ponselku rupanya tadi ada panggilan masuk sebanyak 2 kali dari khenzie.
" Khenzie kenapa ya? Nggak biasanya dia nelpon." Gumam ku, memandangi riwayat panggilan di ponselku sambil duduk di pinggir ranjang.
Aku pun menelpon balik Khenzie karena takutnya terjadi sesuatu atau mungkin dia ingin menyampaikan pesan penting karena tidak biasanya Khenzie meneleponku.
" Khen, kenapa?" tanya ku, begitu Khenzie menjawab panggilan dariku.
"Cincin lu ada nggak?" tanya Khenzie, yang sontak membuatku melihat jari manis ku.
Aku tidak melihat cincin yang biasanya melingkar di jari manisku, aku panik begitu mengetahui cincin itu tidak ada karena takut Papa marah, cincin itu pemberiaan Papa saat aku berulang tahun ke 17 tahun, tepatnya tahun lalu.
" Khen, gawat! "seruku, terperanjat.
" Cincin lu sama gue, tadi jatuh di lantai pas lu beli es krim." tutur Khenzie, yang membuatku bisa bernapas lega.
" Serius? Makasih ya, Khen. Bisa habis gue kalo cincin itu hilang, Bokap pasti marah banget."
Aku bahkan tidak tahu bahwa cincin itu terjatuh karena sebenarnya cincin pemberian Papa memang sedikit kebesaran di jari ku.
" Hallo, Khen... lu masih disana kan?" tanyaku pada Khenzie, yang terdiam cukup lama entah sedang memikirkan apa.
" Ehm... iya, sama-sama." sahut Khenzie, setelah terdiam cukup lama.
" Ngelamunin apaan lu? " tanyaku, aku tahu kalau Khenzie terdiam di tengah-tengah pembicaraan itu menandakan kalau dia sedang memikirkan sesuatu.
" Eng... enggak, yaudah gue mau pulang dulu ya." Khenzie tergagap.
" Iya, pulang jangan keluyuran ya anak ganteng." Tuturku, menggoda Khenzie.
" Siap Mama."
" Ih, apaan Mama."
Khenzie tertawa mendengar aku yang risih dengan candaannya.
" Yaudah gue akhiri panggilannya ya, sampai ketemu besok." Sambung ku.
__ADS_1
"Iya, dah."
" Dah."
Aku mengakhiri panggilanku dengan Khenzie, menaruh kembali ponselku di atas laci kemudian bergegas untuk membersihkan tubuhku. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku pun merebahkan tubuhku di kasur, aku mengambil ponselku untuk melihat apakah ada chat dari Brooklyn tapi nyatanya tidak ada notifikasi apapun yang masuk ke ponselku kecuali sms operator. Aku mendengus kesal sambil meletakkan kembali ponselku di atas laci.
" Yaudahlah, nggak usah dipikirin mending tidur, ya kan?" tuturku pada diri sendiri, sembari menatap lelangit kamarku.
Esok paginya, di hari senin seperti biasanya, di rumahku selalu sibuk dengan jadwalnya masing-masing, Papa yang berangkat pagi-pagi sekali karena ada urusan di kantor yang tidak bisa dia tinggali dan Bang Aksa yang sudah siap hendak berangkat ke rumah sakit sedangkan Bang Arsa, dia masih sibuk di depan laptopnya untuk mengurus laporan keuangan mingguan di cafenya.
“ Pagi Ma, pagi Bang Aksa.” sapaku pada mereka yang sedang sarapan, aku yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
“ Pagi.” Sahut Bang Aksa dan Mama, secara bersamaan.
Aku pun sarapan, memakan roti dengan selai stroberry dan susu cokelat buatan Mama. Setelah selesai, aku langsung beranjak dan berpamitan pada Mama untuk berangkat sekolah.
“ Ma, Syana berangkat dulu ya.” Tutur ku, mencium tangan Mama.
“ Iya sayang, hati-hati ya.”
“ Apa ni?” tanya Bang Aksa, heran.
“ Seperti biasa, uang saku.” jawabku, tersenyum sambil mengedip-ngedipkan mataku.
Bang Aksa menghela napas kemudian mengambil dompetnya yang ada di tas kerjanya.
“ Ni.” tutur Bang Aksa, menaruh uang 100 ribu di telapak tanganku.
“ Makasih Abang tersayang.” Kataku, mencium pipi Bang Aksa.
“ Kamu berangkat ke sekolahnya naik taksi online aja .” Tutur Bang Aksa, yang terdengar khawatir.
“ Enakan naik busway tahu.” Sahutku, yang sudah berjalan untuk meninggalkan meja makan.
“ Tapi kan belakangan kejahatan lahir banyak banget di busway.” Terang Bang Aksa, menjelaskan kenapa dia khawatir padaku.
“Atau Abang beliin kamu motor aja, gimana? Kamu mau motor apa, Vespa, Scoopy atau apa?”Lanjut Bang Aksa.
__ADS_1
“ Udah, Bang Aksa tenang aja... Syana kan hampir punya sabuk hitam.” tuturku, tersenyum menyakinkan Bang Aksa bahwa aku bisa menjaga diriku dengan bekal karate yang aku pelajari semasa SMP dulu.
“ Lagian Mama sendiri kan yang bilang, kalo di usia ini Syana harus belajar bersosialisasi dengan baik dan menurut Syana cara terbaik bersosialisasi ya dengan bertemu banyak orang, salah satunya di Busway... Syana bisa mempelajari banyak hal disana.” Lanjutku
aku tersenyum menatap Bang Aksa, Bang Aksa pun beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiriku dan mengacak-acak rambutku.
“ Abang! Kan jadinya rusak rambut Syana “ teriakku, kesal.
Bang Aksa tertawa terbahak-bahak.
“ Nggak nyangka ya Ma, anak kecil ini sekarang udah sedewasa ini.” Tutur Bang Aksa, dia menatap lekat mataku.
“ Iya dong, anaknya siapa dulu?” sahutku, mengangkat bahuku.
Aku melihat jam tangan di tanganku, yang sudah menunjukkan pukul 6.30.
“Ih Bang Aksa sih ngajak bercanda, telat ni Syana jadinya.” Kataku, berlari keluar rumah sambil mengambil sepatu yang ada di rak sepatu di samping pintu masuk.
“ Hati-hati!” teriak Bang Aksa padaku, yang sedang memakai sepatu dengan terburu-buru.
Di halte, setelah menunggu hampir 2 menit, akhirnya busway datang, aku pun naik ke busway dan mengeluarkan kartu busway untuk membayar, karena aku berangkat sekolah berbarengan dengan jam masuk kantor jadinya aku tidak punya tempat untuk duduk, aku pun berdiri sambil berpegangan pada handle grip busway.
Sc 📷: Pinterest
Mata ku yang semula menatap ke luar busway tiba-tiba teralih untuk melihat ke depan, aku baru menyadari bahwa di depanku, ada seorang perempuan berusia sekitar 30an yang berdiri sambil memegang perutnya, rupanya dia sedang hamil, perutnya memang belum terlalu besar tapi aku bisa melihat dia kelelahan berdiri, mungkin dia sudah cukup lama ada di dalam busway, aku juga tidak terlalu memperhatikannya ketika baru masuk busway.
Aku pun mendekatinya, kemudian memberitahu seorang laki-laki yang ada di sampingnya untuk memberikan tempat duduk pada perempuan itu.
“ Permisi Mas, ini ada ibu hamil. Masnya boleh berdiri saja tidak, soalnya kasihan Mbaknya keliatan capek banget berdiri dari tadi.“ Tutur ku pada seorang pria, yang membawa tas kerja di pangkuannya.
Pria itu hanya melihatku sejenak lalu memalingkan wajahnya lagi, dia seolah tidak mendengar apa yang aku sampaikan padanya.
...•|•|•|•...
Hy guys! terima kasih sudah membaca cerita ini, semoga ceritanya bisa dinikmati oleh kalian dan semoga ceritanya bermanfaat ya. oh iya, kalian bisa ninggalin saran untuk cerita ini di komentar ya, terima kasih sebelumnya.
__ADS_1