
2 Mei 2018, semua murid kelas 3 diminta untuk datang ke sekolah karena akan ada pengumuman mengenai kelulusan. Semua murid kelas tiga hadir ke sekolah kecuali Elina, setelah hari itu aku sudah tidak pernah lagi melihat Elina.
Pukul 07.45 WIB, semua murid kelas tiga berkumpul di lapangan basket, Kepala sekolah berdiri di podium sambil memegang microphone.
“Selamat pagi, semuanya.” Kepala sekolah, membuka pidatonya dengan menyapa semua murid yang berbaris di hadapannya.
Kepala sekolah berdiri tegap di atas podium, dengan kumis tebal yang hampir menutupi bibir bagian atasnya yang tipis. Ia tersenyum seolah bangga kepada anak-anaknya, rona bahagia terpancar dalam tatapan matanya yang penuh keyakinan.
“Selamat pagi, Pak.” Sahut semua murid secara bersamaan.
“Kalian sudah mencapai akhir dari proses pembelajaran yang kalian terima selama 3 tahun terakhir di SMAN Sebangsa Jakarta dan hari ini kalian akan mengetahui hasil dari kerja keras kalian selama 3 tahun ini. Sebelumnya, saya ingin berterima kasih kepada kalian karena sudah memilih SMA ini sebagai tepat berlabuh kalian di masa persekolahan, saya berharap apa yang kalian pelajari bisa membantu kalian untuk menghadapi dunia yang seutuhnya, sekali lagi saya sebagai perwakilan SMAN Sebangsa Jakarta berterima kasih atas kepercayaan kalian pada SMA ini.” Tutur Kepala Sekolah, suaranya sempat bergetar.
“Saya dengan bangga berkata bahwa seluruh kelas 3 tahun ajaran 2017/2018 lulus!” lanjut Kepala sekolah, tersenyum hangat.
Semua murid, bersorak gembira mendengar kabar bahwa mereka lulus bahkan ada yang sampai menangis karena terlalu bahagia mendengar kabar itu.
“Khen, kita lulus!” saking senangnya, aku langsung memeluk Khenzie.
“Iya, Syan.”Khenzie menyambut pelukkanku.
Mataku terbuka lebar, menyadari bahwa aku sedang berada dalam pelukan Khenzie. Aku langsung melepaskan pelukkanku dari Khenzie sambil berdehem tiba-tiba terasa sangat canggung.
“Saya minta Arsyana Chalondra, untuk maju ke depan dan berdiri di samping saya.” Kepala Sekolah memintaku untuk berdiri di sampingnya, di atas podium.
Aku maju ke depan tanpa tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, semua orang menatapku, aku merasa canggung. Aku pun mengikuti perintah Kepala Sekolah untuk berdiri di sampingnya, aku tersenyum canggung dari atas podium sambil melihat semua murid yang berbaris di hadapanku.
“Dia adalah siswi yang selalu dibanggakan oleh Pak Burhan, siswi yang selalu dilibatkan dalam setiap olimpiade fisika oleh. Setiap kali mendaftarkan nama Arsyana, Pak Burhan selalu bilang sama saya...” Kepala Sekolah melihat Pak Burhan, yang berdiri di belakang kami bersama guru-guru yang lain.
Aku melihat Pak Burhan tersenyum melihat kepala sekolah lalu ia melirikku sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Berhubung Pak Burhan ada disini, kita dengar langsung dari mulut beliau. Ucapan yang selalu dia katakan pada saya tentang Arsyana, siswi kebanggaannya.” Lanjut Kepala Sekolah, meminta Pak Burhan bergabung dengannya.
Pak Burhan mendekati Kepala Sekolah, Kepala Sekolah memberikan microphone kepada Pak Burhan. Mata Pak Burhan berkaca-kaca menatapku, tapi ia berusaha menunjukkan semyuman hangatnya padaku.
“Saya yakin dia bisa, saya percaya dengan semangat yang terpancar di matanya, mata yang selalu menunjukkan keyakinan bahwa dia bisa menang, mata yang membuat saya yakin bahwa dia bisa mencapai apapun yang dia inginkan.” Tanpa sadar Pak Burhan meneteskan air matanya, sambil menatapku dengan suaranya yang bergetar.
“Kalimat itu yang selalu saya katakan kepada Bapak setiap kali mendaftarkan Arsyana dalam Olimpiade Fisika.” Lanjut Pak Burhan, menyeka air matanya lalu kembali berbaris di baris para guru.
Kepala Sekolah tersenyum, melihat mataku yang berlinang air mata.
“Bulan lalu, saat ujian simulasi. Saya mendapat kabar bahwa Arsyana dilarikan ke rumah sakit karena pingsan dan mengalami mimisan, yang ternyata disebabkan oleh tubuhnya yang kelelahan karena selama satu bulan lebih dia belajar mati-matian untuk persiapan UN. Saya sedih sekaligus bangga melihat perjuangannya yang begitu keras, dan hari ini Arsyana Chalondra mendapatkan buah yang manis atas perjuangannya selama ini.” Kepala sekolah menatapku, ia menepuk bahu ku.
__ADS_1
“Arsyana Chalondra berhasil menduduki peringkat pertama untuk UN di provinsi DKI Jakarta dan menempatkan sekolah kita dalam urutan ke-5 sekolah terbaik dalam UN di tahun 2018 ini.” Kepala Sekolah mengangkat tanganku ke atas, sambil melihat semua murid yang berbaris di depan kami.
Semua murid bertepuk tangan, kakiku terasa lemas begitu mendengar perkataan Kepala Sekolah.
“Atas pencapaiannya, sekolah akan memberikan piagam penghargaan pada Arsyana Chalondra. Pak Burhan tolong bantuannya, untuk mengambil piagam penghargaan di ruangan saya.” Kepala Sekolah meminta ku untuk berdiri tegak sambil meminta Pak Burhan untuk mengambilkan piagam penghargaan di ruangannya.
Pak Burhan memberikan piagam itu pada Kepala Sekolah, setelah dia mengambil piagam itu dari ruangan Kepala Sekolah.
“Selamat, Arsyana.” Kepala Sekolah memberikan piagam yang sudah ada di dalam bingkai berwarna hitam kepadaku, sambil menjabat tanganku.
“Terima kasih, Pak.” aku langsung menyambut jabatan tangan kepala sekolah dengan sigap.
“Terima kasih juga, atas semangat kamu dalam meraih apa yang kamu inginkan. Pertahankan.” ucapnya, matanya berbinar.
Aku turun dari podium, Guru-guru secara bergantiaan mengucapkan selamat padaku. Dan orang yang paling terakhir mendatangiku adalah Pak Burhan, dia tersenyum melihatku. Pak Burhan langsung menjulurkan tangannya di depanku dan aku langsung menjabat tangan Pak Burhan.
“Selamat, Arsyana.” Pak Burhan tersenyum padaku.
“Terima kasih, Pak. Ini juga tidak terlepas dari peran penting Bapak dan guru-guru yang lainnya.”
Pak Burhan lebih dulu melepaskan jabatan tangannya, ia menatap mataku dengan serius.
“Awalnya Bapak sempat tidak setuju saat mendapat kabar kamu memilih jurusan hukum karena melihat nilai kamu, Bapak yakin kamu bisa lulus kedokteran. Tapi, hari ini Bapak sadar bahwa kamu selalu mengikuti kata hati kamu dan kamu selalu bertanggung jawab dengan pilihan yang kamu buat. Semoga kamu bisa menegakkan sendi-sendi hukum yang sebenarnya di negara kita ini, Bapak yakin kelak akan mendengar kabar baik tentang kamu di dunia hukum.” Lanjut Pak Burhan, ia menepuk lenganku.
“Terima kasih, Pak.” Aku menundukkan kepalaku, sebagai tanda aku menghormati Pak Burhan.
Aku kembali ke barisan, yang langsung disambut oleh teman-teman sekelasku dengan tepukan tangan.
“Selamat, Arsyana Chalondra.” Khenzie mengacak-acak rambutku, sambil merangkul pundakku yang sebenarnya membuat ku jengah karena rambutku jadi acak-acakan tapi berhubung ini hari yang menggembirakan jadi aku memaklumi tindakan Khenzie itu.
Setelah pengumuman kelulusan, aku mengajak Khenzie untuk mampir ke Cafe milik Bang Arsa.
“Gue mau ketemu Bang Arsa tapi dia lagi dimana ya?” tanyaku pada Khenzie, setelah kami duduk di dalam Cafe milik Bang Arsa.
Mbak Gia, menghampiri kami dengan membawa buku menu. Mbak Gia adalah karyawan Bang Arsa di Cafe.
“Bang Arsa ada nggak ya, Mbak?” tanyaku pada Mbak Gia, saat ia bersiap hendak mencatat pesanan kami.
“Mas Arsa kayaknya lagi di dapur, ngecek persediaan makanan.” Jawab Mbak Gia sambil melihat wajahku.
“Aku boleh masuk ke dapur nggak, Mbak?”
__ADS_1
“Boleh, tentu aja.”
“Khen, gue tinggal bentar ya.”
Aku menghampiri Bang Arsa sambil membawa piagam yang tadi diberikan kepala sekolah padaku. Aku diam-diam melangkah, aku melihat Bang Arsa sedang berdiri di depan lemari pendingin sambil mencatat sesuatu. Saat aku mengambil ancang-ancang untuk mengagetkannya, Bang Arsa justru memanggilku.
“Syana, Bang Arsa lagi kerja.” Ucap Bang Arsa, tanpa melihat ke arahku.
Aku menyunggingkan bibirku ke atas, melihat Bang Arsa dengan tatapan kesal, seperti biasa Bang Arsa tidak suka diganggu saat dia sedang berkerja tapi sebagai Adik yang baik aku tidak akan mendengarkan permintaannya untuk tidak mengganggunya saat sedang bekerja.
“Liat, Syana dapet apa.” Aku meminta Bang Arsa untuk melihat piagam yang aku bawa, meskipun sebenarnya aku sudah tidak mood.
Bang Arsa nelihat wajahku, lalu melihat piagam yang aku bawa.
“Selamat.” ucap Bang Arsa, melirikku sekilas lalu kembali mengerjakan tugasnya setelah mengucapkan sepatah kata selamat.
Aku mengangkat alisku, menggaruk punggung leherku.
“Bang Arsa nggak mau peluk Adeknya gitu?” tanyaku, sambil merentangkan kedua tangan ku dan tersenyum lebar.
“Badan Bang Arsa lagi keringetan, kamu kan nggak suka bau badan Bang Arsa.”
Aku mengerutkan hidungku sambil menutup tangannya yang masih terbentang.
“Iya sih, tapi Bang Arsa senang kan?”
“Senang kenapa?” tanya Bang Arsa, seolah ia tidak tetarik sama sekali.
“Karena aku dapet peringkat pertama di UN.” Kataku, menyombongkan diri.
“Iya, seneng.” Nada bicara Bang Arsa seperti bicara sebaliknya.
“Bang Arsa lagi kerja, dapur juga panas banget. Mending kamu keluar aja, ya.” Lanjut Bang Arsa, perkataannya melukai hatiku.
“Jahat banget, padahal Adeknya udah rela jauh-jauh kesini.” Aku menggerutu sambil berlalu meninggalkan dapur.
Aku kembali menemui Khenzie, dengan raut wajah yang kesal.
“Kenapa lo?” tanya Khenzie padaku.
“Tahu tuh, sih gunung es. Ngeselin banget jadi orang.” Gerutu ku, sambil melirik ke arah dapur.
__ADS_1