KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 41 Perseteruan di Kantin


__ADS_3

“Kalo lo masih punya malu, lo harusnya pergi dan keluar dari sekolah ini. Lo harusnya malu karena udah mencoreng nama baik sekolah kita dengan perbuatan lo, dasar pelacur!” siswi itu terus memprovakasi keadaan, membuat Elina semakin terpojok.


Elina menangis tersedu, dalam hati aku meminta Elina untuk melawan mereka-mereka yang menyerangnya, aku mengepalkan tanganku melihat perlakuan anarkis mereka pada Elina, yang menurutku sudah sangat keterlaluan.


Siswa-siswi terus saja meneriakkan kata-kata kasar kepada Elina, menyebut Elina wanita murahan bahkan sampai menghina keluarga Elina. Dadaku terasa panas melihat Elina diperlukan seperti itu, mau bagaimanapun, dulu Elina adalah salah orang penting dalam hidupku.


Aku menegakkan es teh yang tadi aku pesan, berusaha mendinginkan tenggorokanku, mataku tidak bisa teralihkan dari Elina yang hanya tertunduk pasrah.


aku menarik air mineral milik Khenzie, aku berkumur dengan air itu lalu mengumpulkannya di dalam mulutku membuat pipiku menggelembung. Aku beranjak melewati kerumunan yang mengelilingi Elina, lalu menyemburkan air dari dalam mulutku di wajah siswi yang sedari tadi memprovasi siswi yang lainnya untuk membully Elina.


“Ga waras!” ia membentakku, begitu wajahnya basah karena semburan dariku.


“Tepat sasaran.” Kataku, menyunggingkan senyuman di bibirku.


Siswi itu mengelap wajahnya dengan tisu yang ada di meja kantin, aku mendekatinya sambil melipat tanganku di depan dada.


“Lyly, nama yang bagus.” Kataku, sambil memegang name-tag siswi itu.


Lyly menepis tanganku dengan tatapan tajam, aku tersenyum dengan sudut bibir yang terangkat.


“Hebat banget ya kayak hidup lo, sampe-sampe lo berani menginjak-injak harga diri perempuan lain?” aku menatap serius wajah Lyly.


Lyly menatap sinis mataku.


“Iya, gue emang hebat. Kenapa, lo nggak suka?”


Tangan kiri ku diam-diam mengambil makanan yang ada di kepala Elina, aku mencengkram rahang Lyly membuat mulutnya terbuka lalu memasukkan makanan itu ke dalam mulut Lyly, membuat Lyly langsung memuntahkan makanan itu lalu menjerit kesal.


“Mama gue pernah bilang, nggak baik buang-buang makanan.” Tuturku, melihat Lyly yang memuntahkan makanan itu.


Lyly menatap tajam mataku yang tersenyum padanya.


“Dasar psikopat!” seru Lyly, emosinya membuncah.


“Lo bilang apa tadi, Psikopat?” Aku tersenyum menyeringai, mengambil es teh Elina yang sama sekali tidak ia sentuh.


Aku meminum es teh milik Elina, sebelum meneguknya aku terlebih dahulu menggertak Lyly dan teman-temannnya, aku bertingkah seolah hendak kembali menyemburkan minuman itu di wajah Lyly, membuat tubuh Lyly mengambil respon untuk menghindar, begitu Lyly tahu aku hanya menggertaknya, dia terlihat sangat kesal sementara aku tertawa puas


“Baru di gertak gitu aja, udah takut, katanya cewek hebat.” ledekku, meletakkan kembali gelas di meja.

__ADS_1


“Lo jangan macem-macem, ya. Lo nggak tahu siapa gue?” Lyly sepertinya ingin mengancam.


“Siapa?” tanyaku, menantang balik.


“Bokap gue Jaksa dan Ibu gue Hakim.” jawab Lyly, mencondongkan dadanya.


Aku tersenyum menatapnya sambil bertepuk tangan.


“Waw, kolaborasi yang menakjubkan ya.” ucapku, berpura-pura takjub.


Lyly tersenyum, menyombongkan dirinya.


“Kayaknya seru kalo gue sebarin vidio lo ngebully Elina di media sosial, judulnya gini ‘Seorang Siswi Yang Berinisial L Membully Teman Sekolahnya Ternyata Anak Hakim Dan Jaksa’. Gimana? Nyokap sama Bokap lo pasti bangga sama lo?” kataku, tersenyum dan menaikkan alis.


Mata Lyly terlihat bergetar.


“Lo nggak ada bukti, ga usah ngancem gue.”


“Ada.”


“Mana?” suara Lyly bergetar.


“Aman.” Jawab Khenzie, sambil mengacungkan jempolnya.


“Brengsek!” Lyly menarik rambutku.


Aku menghantam kakinya, membuat Lyly jatuh ke lantai. Aku duduk di samping Lyly, dalam keadaan berjongkok.


“Gue nggak peduli lo anak siapa, yang gue tahu lo tetap salah. Lo salah karena sudah menghina Elina dan bahkan membawa-bawa keluarganya. Elina adalah korban dalam masalah ini dan lo nggak berhak buat menghina dia ataupun keluarga!” Kataku pada Lyly, yang menatapku dengan tatapan marah.


“Lo nggak harus ngejatuhin orang lain buat naikin harga diri lo.” Lanjutku, membuat Lyly semakin marah.


Aku beranjak, membersihkan kepala Elina dari sisa-sisa makanan.


"Bangun El, tegakkin kepala lo." Pintaku, pada Elina.


“Lo nggak harus ngejatuhin orang lain buat naikin harga diri lo.” Lanjutku, membuat Lyly semakin marah.


Aku beranjak, membersihkan kepala Elina dari sisa-sisa makanan.

__ADS_1


"Bangun El, tegakkin kepala lo." Pintaku, pada Elina.


Aku melihat setiap siswi yang masih menatap Elina, mataku tak berkedip sedikit pun.


“Kalian juga perempuan, kan? Harusnya kalian paham keadaan Elina saat ini, dia yang menderita karena ulah pelaku tapi kalian justru semakin membuatnya menderita dengan perbuatan kalian. Bisa nggak sih, sekali aja, kalian menempatkan diri di posisi orang lain?” aku bertanya dengan semua siswi yang berkerumunan di dekat Elina, mereka pergi begitu aku mengajukan pertanyaan.


“Bersihin diri lo di toilet, El.” Aku meminta Elina untuk membersihkan dirinya di toilet sekolah, di dekat kantin.


Elina beranjak dan pergi ke toilet.


“Gue nggak bisa ngerti sama jalan pikiran lo.” Kata Khenzie padaku, Khenzie mengambil tisu lalu mengelap tanganku yang kotor.


“Gue hanya mengikuti kata hati gue aja.” Kataku, sambil menatap wajah Khenzie yang sedang membersihkan tanganku.


“Gue bisa bersihin sendiri.” Aku merebut tisu yang sudah kotor dari tangan Khenzie lalu membuangnya di tong sampah yang ada di belakang Khenzie.


Aku berlalu meninggalkan Khenzie yang terus menatap ku dengan tatapan heran.


“Dek, saya boleh minjem jaket osis kamu nggak? Soalnya tadi teman saya baju seragamnya basah.” Tanyaku pada siswi, yang melintas di lorong ke toilet dan kebetulan dia memakai jaket osisnya.


“Boleh, Kak.” Katanya, lalu melepaskan jaket osis miliknya.


Sebelum dia melepaskan jaketnya, aku sempat melihat namanya yang tertulis di jaketnya.


“Ini Kak.” Dia memberikan jaketnya padaku.


“Terima kasih, Sheila.” Aku mengambil jaket osis milik Sheila yang dia berikan padaku, sambil tersenyum hangat padanya.


“Sama-sama, Kak.” Sheila membalas senyumanku.


Di toilet, aku masih mendengar suara air yang mengalir dari dalam, sepertinya Elina masih membersihkan tubuhnya. Aku mencuci tanganku dengan sabun pencuci tangan yang ada di wastafel sambil memperbaiki rambutku yang lepek.


“Syan.” Elina memanggilku, ketika keluar.


Aku melihat Elina, yang berdiri di belakangku dari kaca yang ada di depanku. Aku mengambil tisu untuk mengeringkan tanganku, kemudian memberikan jaket osis milik Sheila kepada Elina.


“Pake, baju lo basah tuh.” ucapku, sambil menyodorkan jaket osis itu ke hadapan Elina.


Elina menatapku, lalu mengambil jaket osis milik Sheila dari tanganku dan memakainya.

__ADS_1


“Makasih, Syan.” Elina tersenyum canggung melihat ku.


__ADS_2