KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 9 Apakah Kau Percaya Sebuah Kebetulan?


__ADS_3

“ Khen.”


“ Apa?” sahut Khenzie, sorot matanya terlihat sedang kesal.


Aku menunjuk Elina dengan cara mengangkat alisku, menggoda Khenzie untuk melirik Elina.


“ Iya gue tahu.” Sahut Khenzie, datar, Khenzie melirik Elina untuk sepersekian detik.


“ Cie.”


“ Apaan sih?! Udah diem, pacar lo lagi naikkin bendera tuh.” Tutur Khenzie, menunjuk Brooklyn dengan gesture kepalanya.


Aku melihat Brooklyn yang sedang fokus mengikat tali bendera ke tali tiang untuk di naikkan.


Saat semua murid memberi hormat pada bendera yang sedang di naikkan, mataku tiba-tiba teralihkan dengan jari manis Elina yang sudah melingkar cincin yang sama dengan cincin punyaku yang di temui oleh Khenzie.


“Cincin gue nggak di jadiin alat buat nembak Elina kan, ya?” gumamku, dalam hati sambil melihat cincin di jari manis Elina.


Cincin yang di pakai Elina dan yang aku punya begitu mirip, sampai-sampai sempat terlintas pertanyaan seperti itu di benakku begitu melihat cincin itu melingkar di jari manis Elina.


“ Khen.” Panggilku, pelan.


“ Apaan lagi sih?!” Khenzie terlihat risih karena aku terus berbicara saat sedang berada di barisan.


“ Lu ngasih cincin gue sama Elina ya? Pdkt sih pdkt Khen.... tapi nggak cincin gue juga dong yang jadi korban.” tutur ku, setengah berbisik.


Aku takut Elina mendengar perkataanku pada Khenzie.


Mendengar perkataanku sontak Khenzie melihat ke jari manis Elina, kedua mata Khenzie terbuka lebar.


“ Enggak! Cincin lo ada di tas gue.” Jelas Khenzie, lalu kembali melihat ke depan.


Aku bernapas lega, mendengar cincin ku ada di tas Khenzie.


Khenzie tiba-tiba mendekati ku dan berbisik, telapak tangan kanannya masih menempel di ujung pelipis (hormat) kepada bendera yang sedang di naikkan.



Sc 📷: Burcu Okut Jewellery


“ Itu kan cincin mahal ya, maaf ni kita kan sama-sama tahu kalau dia nggak sekaya itu sampai bisa beli cincin yang mahal kayak gitu, lo nggak curiga gitu?” Khenzie membuat asumsinya sendiri, ia menyipitkan matanya sambil melirik Elina, seolah sedang mencurigai.

__ADS_1


Aku mengerutkan hidung ku, sontak memukul pundak Khenzie yang membuatnya kesakitan.


“ Nggak boleh gitu, mungkin dia kerja. Nggak boleh ngeremehin orang, ih! Kita nggak pernah tahu apa yang dia perjuangkan buat dapetin apa yang dia mau.” Bisik ku, meminta Khenzie untuk tidak membuat asumsi yang buruk mengenai Elina.


“ Apa yang dia mau, ya? Oke.” Alis Khenzie terangkat, ia menyetujui perkataanku.


Selesai upacara kami pun kembali ke kelas masing-masing, saat aku hendak masuk ke kelas tiba-tiba seseorang menarik tanganku, membuat punggungku menempel di dinding samping pintu masuk kelas.


“Apalagi sih?” tanyaku, begitu melihat wajah Brooklyn, mata ku melototi nya.


Aku menepis tangan Brooklyn yang memegang pergelangan tanganku.


“ Mulai besok kita berangkat sekolahnya bareng ya, aku jemput.” Ajak Brooklyn.


Aku menghela napas, memutar bola mataku, berusaha mengontrol emosiku.


“ Sayang, aku bisa berangkat sendiri. Lagian aku lebih suka naik busway daripada mobil.” Jelasku pada Brooklyn, dengan senyuman.


Brooklyn mendengus, ia tersenyum menyeringai, sejenak dia memalingkan wajahnya.


“ Kenapa? Kamu mau berduaan kan sama Khenzie di sana?” tanya Brooklyn, kembali memulai keributan di pagi hari.


“ Kamu ini kenapa sih? Udah ya, aku males berantem pagi-pagi gini, aku ke kelas dulu.” tutur ku, berlalu meninggalkan Brooklyn yang sudah merusak mood ku di pagi hari.


Di kelas, aku melihat Elina yang duduk di sebelah Khenzie, Khenzie terlihat sedang fokus dengan ponselnya sementara Elina sedang berusaha mengajak Khenzie untuk mengobrol dengannya, aku menghampiri mereka dan menyambar ponsel Khenzie lalu memasukkan ponsel Khenzie ke saku kemejaku, membuat Khenzie terpaksa memerhatikan kami.



Sc 📷: Pinterest


“ Diajakkin ngobrol tuh, kaku amat.” Aku duduk di meja Khenzie, di hadapan Khenzie.


“Apaan sih, Balikin nggak!” Khenzie terlihat kesal,  Khenzie membuat telapak tangannya di depan wajahku.


“ Uh takut.” Kata ku, menggoda Khenzie yang sedang kesal.


Dari atas meja aku bisa melihat kaki Elina yang menyentuh kaki Khenzie.


“ El, kaki lo.” Tutur ku, memberi isyarat pada Elina, aku hanya menggerakkan mulut ku tanpa bersuara.


Bukannya menjauhkan kakinya Elina justru semakin membiarkan kaki kanannya berada di kaki Khenzie.

__ADS_1


“ El, jangan gitu ntar Pak Rahmat dateng.” pinta ku, pelan agar tidak terdengar oleh murid yang lain.


Elina tersenyum kemudian merangkul pundak Khenzie dari samping.


“ Kamu suka kan sayang?” bisik Elina, di telinga Khenzie dengan suaranya yang mendesah, membuat ku bergidik.


Khenzie tidak mengucapkan sepatah katapun, dia berdiri secara tiba-tiba dan membuat badan Elina hampir terjatuh, Khenzie pun menjauh dari kami, ia memilih untuk duduk di samping Diego yang duduk di bangku paling belakang di sudut ruangan kelas.


Aku turun dari meja dan duduk di kursi yang tadinya di duduki oleh Khenzie.


“ El, lo jangan kayak gitu sama Khenzie.... dia nggak suka digituin, dia bukan Diego yang suka sama orang yang kayak gitu.” Tutur ku, bermaksud untuk menasehati Elina.


“Kayak gitu gimana, maksud lo?” Elina mengerutkan dahinya.


“Yah, kayak yang lo lakuin tadi. Dia nggak suka kalo orang yang terlalu agresif gitu.” Jelasku pada Elina.


Elina melirik Khenzie yang sedang mengobrol dengan Diego.


“ Lo tahu kan kalo gue udah cinta sama dia sejak hari pertama kita MOS dan lo juga tahu udah banyak cara yang gue lakuin untuk dapetin hati Khenzie, gue bahkan....”


Elina tidak melanjutkan perkataannya, membuat jantungku tiba-tiba berdesir.


“ Bahkan apa? “ tanyaku, penasaran, aku mencengkram lengan Elina.


“ Gue bahkan pernah menjadi perempuan seperti elo buat dapetin hati Khenzie tapi tetap aja Khenzie nggak pernah melihat ke arah gue.” Ucap Elina, melanjutkan perkataan yang sempat dia tahan.


“ Gapapa, pelan-pelan. Gue yakin pada akhirnya Khenzie bisa melihat ketulusan cinta lo, asalkan lo sabar ngadepin dia yang kayak gitu.” Jelasku pada Elina, meminta Elina untuk pertahan sedikit lagi demi mendapatkan hati Khenzie.


Mataku tiba-tiba tertuju pada sepatu Elina, yang terlihat sangat menggemaskan, aku baru menyadari kalau Elina baru saja mengganti sepatunya.


“ By the way, sepatu lo baru ni. Cantik banget ada bordiran kura-kuranya.” Lanjut ku, mengalihkan pembicaraan, aku menunduk melihat sepatu Elina.


Elina tersenyum sambil mengangkat kakinya, membuat kakinya tertopang di atas lututnya.


“ Iya, gue baru beli kemarin.”


Aku mengangguk, mengerti. Pantas saja Elina kemarin ke Mall, rupanya selain untuk ke toko kosmetik, dia juga membeli sepatu.


...•|•|•|•...


Hy, terima kasih sudah membaca cerita ini, silakan tinggalkan komentar kalian atau bahkan sebaliknya (saran). InsyaAllah, cerita ini akan update setiap hari, so jangan lupa follow akun ku ya. Terima kasih dan sehat selalu ❤️

__ADS_1


__ADS_2