
"El, kita ke ATM sekarang." Aku mengajak Elina pergi ke ATM yang ada di lantai dasar rumah sakit.
Setelah mengambil uang, kami langsung membayar biaya rumah sakit Mamanya Elina.
"Syan, makasih banyak ya." Elina mengatakan itu ketika kami berdua di dalam lift menuju lantai tiga dimana Khenzie masih ada disana.
"Sama-sama, El." Sahutku, dengan senyum lebar di wajahku.
Pintu lift terbuka di lantai tiga, kami pun keluar dari dalam lift.
"Jangan pernah sungkan buat minta tolong sama kami, gue sama Khenzie selalu bersedia membantu karena itulah gunanya teman, kan?" aku meminta persetujui Elina mengenai pernyataanku yang terakhir dan Elina menjawabnya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Syan, pulang yuk." Ajak Khenzie, setelah dia melihat kami sampai.
"Yuk." Aku langsung menyetujui ajakkan Khenzie karena aku takut Mama mencari ku.
"El, kita pulang dulu ya." Kataku pada Elina.
Elina mengangguk.
"Hati-hati di jalan ya, makasih kalian udah mampir."
"Sama-sama." Sahut ku dengan Khenzie secara bersamaan, nada bicara Khenzie terdengar dingin, nada suaranya terdengar dingin seperti biasanya.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum melihatnya, aku memaklumi itu karena memang begitulah tingkah Khenzie.
Aku dan Khenzie mulai melangkah meninggalkan Elina yang masih berdiri di tempat semula. Baru beberapa langkah kami berjalan tapi Khenzie sudah mulai menjahili ku.
"Lo itu naif banget sih, Syan." Kata Khenzie, suaranya pelan tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas yang dia katakan karena kami berjalan berdampingan.
Aku melihat Khenzie dengan tatapan kesal.
"Maksud lo?!"
"Nggak, angin lewat."
"Apaan sih, nggak jelas."
Khenzie tersenyum menatapku lalu mengacak-acak rambutku.
"Khenzie!" pekik ku, berhenti melangkah.
Khenzie tertawa lepas, sekali-sekali ia melihat ke belakang untuk melihatku yang kesal karena tingkahnya.
"Awas lo ya!" aku berlari mengejar Khenzie, Khenzie ikut berlari agar aku tidak berhasil menangkapnya.
Di busway, aku masih kesal dengan Khenzie. Aku duduk di kursi penumpang sementara Khenzie berdiri di depan ku.
"Syan."
"Apa?!"
"Terlepas dengan apa yang sedang terjadi sama Elina sekarang.... gue kok nggak suka ya sama dia, lo jangan terlalu percaya sama orang yang belom lama lo kenal."
__ADS_1
Aku mendongakkan kepalaku, melihat Khenzie yang berdiri di depan ku.
"Belom lama kenal, gimana? Dua tahun kita bareng dia, gue rasa udah cukup buat gue ngenal karakter Elina."
"Dua tahun terlalu singkat buat lo menyimpulkan dia orang yang seperti apa, manusia itu tidak bisa di tebak. Setiap orang itu punya sisi yang mereka sembunyikan, kita nggak bisa mengenali seseorang hanya berdasarkan beberapa lama kita bersama mereka atau hanya berdasarkan prasangka, nggak ada orang yang tahu seberapa dalam dan dangkalnya hati manusia lainnya." Khenzie terlihat serius, menasehati ku.
"Kenapa lo sekarang kayak Bang Aksa sih, apa-apa di curigai. Nggak baik Khen, nggak baik berburuk sangka sama orang lain apalagi dia sahabat lo sendiri." aku memicingkan mata ku menatap Khenzie.
"Terserah sih, gue cuma nasehatin doang." Khenzie mengalihkan pandangannya.
Aku menatapnya sejenak, kemudian menyadarkan punggungku di sandaran kursi sambil menatap jalanan melalui jendela busway.
"Syan, gue duluan ya." Perkataan Khenzie menyadarkan lamunanku.
"Iya." aku turun lebih dulu dari busway.
Begitu sampai di dekat rumah, aku melihat Mama yang berdiri di depan pagar sambil meremas tangannya dan wajahnya terlihat cemas.
"Dari mana aja kamu?" Mama bertanya padaku, begitu dia melihatku.
"Maaf, Ma." Aku mencium tangan Mama, menyalami tangan Mama.
"Tadi Syana jengguk Mamanya teman Syana." Aku menjelaskan pada Mama, kenapa aku pulang terlambat.
"Kenapa nggak ngabarin?" Mama memegang tanganku.
"Syana pikir udah di kasih tau sama Bang Aksa kalo Syana di rumah sakit."
Mama menghela napas.
"Iya maaf, Ma." Kepalaku tertunduk, menekan ibu jariku menggunakan telunjuk.
Mama menarik pelan tanganku.
"Sekarang mandi abis itu makan ya, sayang."
"Iya, Ma."
Selesai mandi dan makan, aku kembali ke kamar, merebahkan tubuhku di kasur sambil menatap lelangit kamar tiba-tiba perkataan Khenzie kembali berputar di otakku.
"Maksud Khenzie, apa ya?"
"Kenapa harus di saat ini? Setelah pulang dari ngejenguk Mamanya Elina sih."
Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, mencoba menerka-nerka.
"Enggak! Gue nggak boleh berpikir yang macem-macem, lagian selama ini Elina nggak pernah nyakitin gue."
"Gue nggak boleh beranggapan buruk terhadap sahabat gue sendiri."
Aku mendengar handphone ku bergetar di atas laci, aku setengah terpaksa mengangkat badanku, berusaha menggapai handphone ku.
Aku melihat panggilan masuk dari Karin, aku menerima panggilan dari Karin dan bertanya mengapa Karin menelpon, tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Karin adalah teman ku, kami menjadi dekat saat terlibat dalam rangkaian kegiatan OSIS tahun lalu, saat kami menjabat sebagai perangkat OSIS. Aku dan Karin tidak sering bersama karena kami berada di kelas yang berbeda, Karin kelas IPA 3.
"Syan, lo jangan kaget ya." Ucap Karin, setelah dia terdiam sejenak saat aku menanyakan keadaannya.
Aku membuka lebar mata ku, jantung ku seketika berdegup. Aku menyakinkan Karin untuk melanjutkan perkataannya.
"Kemaren, gue liat Elina narik Brooklyn ke belakang gedung sekolah." Ucap Karin, ia setengah berbisik.
Aku mengerutkan kening ku, aku menggeleng berusaha menyangkal. Aku ingat bahwa hari itu, Brooklyn izin kembali ke kelas karena dia mau menyelesaikan tugas yang gurunya beri.
"Gue yakin 100% kalo itu Elina dan Brooklyn."
Mata ku bergetar begitu mendengar perkataan dari Karin, aku beranjak bangun dari kasur lalu duduk di tepi ranjang.
"Hari itu gue mau buang sampah di tong belakang gedung, saat gue mau ke belakang gedung, gue ngeliat Elina lagi narik tangan Brooklyn ke belakang gedung." Jelas Karin, ia menceritakan peristiwa yang dia saksikan di hari itu.
"Gue bersedia tidur sama lo, asalkan lo tinggalin Syana." Kata Elina pada Brooklyn, yang membuat Karin terkejut.
Brooklyn tidak menghiraukan perkataan Elina, dia hanya tersenyum tipis, Brooklyn hendak beranjak pergi tapi Elina menahan tangan Brooklyn, Elina pun mendaratkan bibirnya ke bibir Brooklyn dan setelah beberapa saat Brooklyn mendorong tubuh Elina membuat Elina hampir kehilangan keseimbangannya.
"Gue nggak akan ninggalin Syana demi perempuan kayak lo." Tegas Brooklyn.
Penolakan Brooklyn tak membuat Elina menyerah, dia berulang kali mencoba membujuk Brooklyn.
"Kenapa lo nggak mau sama gue? Semua cowok di sekolah ini sangat tertarik sama gue, gue tahu itu."
"Sekarang gue, dengan senang hati meminta lo untuk menjadi pacar gue." Elina merayu Brooklyn, ia memegang pundak Brooklyn.
Brooklyn tersenyum tipis, ia pun mencengkram tangan dengan sangat erat hingga Elina terlihat kesakitan.
"Mereka menganggumi elo bukan karena mereka benar-benar mengidam-idamkan elo tapi mereka hanya ingin menikmati tubuh lo, elo yang selalu memamerkan lekuk tubuh lo ke siapapun."
Perkataan Brooklyn membuat mata Elina bergetar, Brooklyn berkata seperti itu tepat di depan wajah Elina. Elina menepis tangan Brooklyn yang mencengkram tangannya, ia menggosok-gosok tangannya yang memerah.
"Gue nggak tahu kenapa lo bisa sejahat ini sama Syana, dia udah baik sama lo tapi balasan lo justru sebaliknya." Ucap Brooklyn, menatap serius wajah Elina.
Elina tersenyum menyeringai, ia mendekat ke wajah Brooklyn.
"Gue nggak suka Syana, apapun alasannya." Elina berlalu meninggalkan Brooklyn, ia menyenggol lengan Brooklyn.
Karin menceritakan semua yang dia lihat hati itu pada ku, aku tidak tahu harus memberi tanggapan apa.
"Gue bisa lihat wajah Elina sangat marah saat dia berlalu meninggalkan Brooklyn, dia nggak seperti Elina yang lo kenal Syan." Ucap Karin.
Aku mendongak menatap lelangit kamar, menghembuskan napas dari mulutku.
"Rin, gue tahu lo orang baik tapi gue rasa Elina nggak akan nyakitin gue sampai kayak gitu." Kata ku pada Karin, setelah mengontrol emosiku.
"Tapi Syan..."
"Rin, gue kenal Elina lebih dulu sebelum gue kenal lo." Aku menyela ucapan Karin.
"Gue lebih percaya sama orang yang udah gue kenal dengan baik ketimbang sama orang yang tidak gue kenal secara mendalam." Ungkap ku.
__ADS_1
"Oke, Syan." Suara Karin terdengar bergetar, ia mengakhiri panggilan.
Aku menghela napas berat, menaruh handphone di atas laci, aku merebahkan tubuh ku, memeluk bantal guling dan menarik selimut, aku memejamkan mata.