
Di rumah, saat waktu sudah menunjukkan pukul 14.45. Dari luar, terdengar Mama memanggil namaku.
“Syan.” Mama memanggilku, sambil mengetuk pintu kamarku.
Aku pun beranjak dari kasur lalu membukakan pintu untuk Mama.
“Di bawah ada Khenzie, katanya mau ketemu sama kamu.” Kata Mama, begitu melihat wajahku.
“Bilang aja Syana nggak di rumah ya, Ma.”
“Mama, udah terlanjur bilang kalo kamu ada di rumah. Gimana dong?”
Aku menghela napas.
“Yaudah, deh. Syana ke bawah.” Aku menutup pintu kamarku, lalu turun ke bawah bersama Mama.
Di tangga, Mama bertanya padaku.
“Kamu sama Khenzie lagi berantem, ya?”
“Syana kesel sama dia.”
“Kenapa?
”
“Nggak kenapa-napa, kesal aja.”
“Lah, gimana ceritanya?”
“Panjang Ma ceritanya, Syana males jelasinnya dari awal.”
“Nggak boleh gitu, bagaimanapun Khenzie selalu ada di masa-masa terberat kamu. Kalian kan udah lama sahabatannya, jangan hancurin persahabat kamu karena hal sepele.” Tutur Mama, menasihatiku.
“Iya, Ma.”
Aku menghampiri Khenzie yang duduk di ruang tamu, aku mengambil bantal sofa kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan Khenzie duduk.
“Kenapa?” tanyaku pada Khenzie.
“Lo harus ikut gue, sekarang.”
“Kemana?”
Khenzie terlihat serius, Khenzie tak menjawab pertanyaan ku, dia menghampiri Mama di dapur.
“Tante.”
“Tan, Khenzie sama Syana keluar sebentar ya. Boleh nggak?” lanjut, Khenzie.
“Tante baru aja selesai bikin teh hangat buat kamu.” Kata Mama, sambil mengaduk teh buatannya.
“Makasih, Tan. Khenzie boleh minum tehnya sekarang?"
Mama menyodorkan secangkir teh hangat kepada Khenzie, Khenzie duduk dan meminum teh buatan Mama . Setelah teh habis, Khenzie kembali berpamitan pada Mama.
“Iya, iya. Hati-hati ya.” Khenzie menyalami tangan Mama, dengan posisi tubuh yang merunduk.
Di mobil, Khenzie melaju dengan sangat kencang.
__ADS_1
“Bisa pelan-pelan aja nggak bawa mobilnya? Gue nggak mau meninggal di jalanan, ya.” Pintaku, sambil memegang erat hand grip mobil Khenzie.
Bukannya mendengarkan perkataanku, Khenzie malah semakin menginjak habis gas mobilnya, Khenzie berulang kali menyalip mobil yang melaju di depan kami, membuat badanku seolah terombang-ambing.
“Lo lagi kesurupan hantu apa sih, Khen? Pelan-pelan woi!”
“Sorry, Syan. Kita harus sampai kesana lebih cepat.”
“Kesana.... kemana?”
“Lo lagi kesurupan hantu apa sih, Khen? Pelan-pelan woi!”
“Sorry, Syan. Kita harus sampai kesana lebih cepat.”
“Kesana.... kemana?”
“Lo bakalan tahu begitu kita sampai disana.” pungkas, Khenzie tanpa menoleh ke arahku sedikit pun.
Khenzie berhenti di Hotel Bintang Lestari, ia memarkirkan mobilnya.
“Turun.” Khenzie buru-buru melepaskan seat beltnya.
“Ngapain kita kesini?” tanyaku pada Khenzie, menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan.
Khenzie hanya diam, tak menjawab pertanyaanku, ia hanya menatap mataku.
“Jangan bilang....” aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
“Apaan sih?! Nggaklah, gue masih punya otak kali.” Khenzie membuka pintu mobilnya.
Aku keluar dari mobil Khenzie.
“Bilang dulu, ngapain kita kesini?” aku menegaskan pertanyaanku pada Khenzie.
Khenzie menghela napas, ia kemudian berjalan mendekatiku lalu menarik tanganku.
“Lo jangan macem-macem, ya! Lo akan berakhir sama kayak Brooklyn.” Aku mengancam Khenzie, menarik tanganku untuk masuk ke hotel.
Khenzie membawaku menemui resepsionis Hotel Bintang Lestari.
“Selamat siang, Mbak.” Khenzie menyapa bagian resepsionis hotel.
“Siang, Pak Khenzie. Ada yang bisa saya bantu?” mereka menyambut Khenzie dengan senyuman hangat.
“Saya mau kunci cadangan kamar pelanggan yang saya bilang waktu itu.”
Mendengar perkataan Khenzie, aku langsung memukul bahunya.
“Enak aja, itu privasi tahu.” ketus ku.
“Maaf kami tidak bisa memberikan kunci cadangan kamar yang bapak maksud.”
“Oke, orang itu masih di kamar yang sama kan?” tanya Khenzie, yang seolah tak berputus asa mencari tahu keberadaan orang yang dia maksud.
Mbak yang bertugas dibagian resepsionis itu hanya menggangguk pelan.
“Tunggu, dari tadi lo terus bilang ‘orang itu’ orang itu siapa sih sebenarnya?” tanyaku pada Khenzie, penasaran.
“Mbak jangan bilang ke orang itu ya, kali ini aja tolongin saya.” Pinta Khenzie pada Mbak bagian resepsionis.
__ADS_1
“Baik, Pak.”
Khenzie menarik tanganku, menuju lift tamu hotel.
“Gue tahu ini hotel keluarga lo tapi lo nggak bisa mencari tahu informasi tamu hotel lo seenaknya kayak gini, Khen.” Aku mengingatkan Khenzie untuk tidak bertindak semuanya, meskipun hotel ini milik keluarganya.
“Iya, gue tahu.”
“Terus kenapa lo lakuin?”
“Gue nggak punya cara lain.”
“Siapa sih orang itu sebenarnya? Brooklyn?”
Pintu lift terbuka, Khenzie menarik tanganku untuk mengikutinya, Khenzie memecet lantai 6.
“Lo liat sendiri nanti. Oke?”
“Ya kan gue penasaran.”
“Semua pertanyaan lo akan terjawab ketika lo melihat dengan mata kepala lo sendiri.” Perkataan Khenzie semakin membuatku penasaran.
Di lantai 6, Khenzie menuju kamar yang ada di samping kiri lift, melewati tiga kamar.
“Kita harus minta bantuan orang ni.” Khenzie memelankan suaranya, ia melihat ke sekeliling, namun suasana di lorong Hotel saat itu sangat sepi.
Sampai akhirnya, ada seorang Office Boy (OB) yang terlihat di lorong hotel. Khenzie berjalan pelan, menghampiri Office Boy itu.
“Pak, saya boleh minta tolong sebentar?” tanya Khenzie pada OB itu.
“Tentu, Pak.” Sepertinya dia mengenali Khenzie.
Khenzie membawa OB itu ke depan kamar 204.
“Nanti Bapak tolong ketuk pintu kamarnya, terus bilang kalau Bapak ditugasin buat melakukan servis ruangan.” Khenzi mendikte apa yang harus dilakukan oleh Bapak OB itu.
“Baik, Pak.”
Khenzie menarik tanganku ke samping pintu kamar, supaya nanti kalau pintu terbuka kami ada di belakang pintu.
Bapak OB itu melihat Khenzie, Khenzie menganggukkan kepalanya, memberi isyarat pada Bapak OB itu untuk menjalankan perintahnya. Bapak OB akhirnya mengetuk pintu kamar itu, setelah tiga kali ketukan terdengar suara sayup-sayup dari dalam.
“Siapa?” Pekik seorang pria dari dalam, suara pria itu seperti sangat familiar di telingaku.
“Gue yakin dia lagi ngeliat dari lobang kecil yang ada di pintu.” Bisik Khenzie, di telingaku.
Pria itu membuka pintu kamarnya, Khenzie melirikku sekilas, sorot matanya seolah mengisyaratkan sesuatu tapi aku tidak bisa membaca isi pikirannya saat ini.
“Selamat siang, Pak.” OB itu menyapa pria yang ada di kamar 204.
“Siang.” balas Pria itu, dingin.
Telingaku begitu familiar dengan suara ini, aku mulai berpikir suara siapa ini sebenarnya.
“Saya ditugaskan pihak hotel untuk melakukan servis ruangan.” Kata OB itu, mengikuti instruksi yang tadi diberikan oleh Khenzie.
“Nanti, ya. Jangan sekarang, saya capek mau tidur.”
Saat pria itu hendak menutup pintu kamarnya, aku menahan gagang pintu kamarnya. Tiba-tiba aku bisa merasakan aliran darah di dalam tubuhku, dadaku terasa panas, ekspresi wajahku datar sambil berharap bahwa apa yang aku pikirkan saat ini tidak benar. Dengan tangan yang bergetar, aku memberanikan diri untuk melangkah ke depan pintu. Aku melihat pria itu bertubuh tinggi itu dari ujung kakinya, perlahan-lahan mataku melihat wajah pria itu. Begitu melihat wajah pria itu, air mata mulai berkumpul di kelopak mataku.
__ADS_1