
Di kamar, aku mengirimkan kepada Papa hasil screenshoot yang dikirim oleh Pak Burhan.
“Aku meralat perkataanku waktu itu, bukan hasil UN tapi ini adalah keberhasilan pertamaku yang aku janjikan pada Papa hari itu.” Kataku pada Papa, melalui chat.
Khenzie meneleponku.
“Iya, Khen.” kataku, setelah menerima panggilan dari Khenzie.
“Gue lulus. Lo gimana?” tanya Khenzie, yang terdengar sangat senang.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Khenzie, membuat Khenzie bertanya-tanya.
“Syan, lo masih disana kan?”
“Eng, iya.” Aku sengaja membuat suaraku seolah tak bersemangat, menjahili Khenzie.
“Lo lulus juga, kan?” Khenzie ragu-ragu bertanya padaku, mungkin dia takut melukai perasaan ku.
“Syan, kenapa diam aja. Jangan bikin gue ngerasa bersalah karena nanya gini ke lo.” Lanjut Khenzie.
Aku mengarahkan speaker handphoneku di dekat mulutku.
“Gue lulus juga!” kataku, bersemangat.
Aku mendengar Khenzie menghela napas, terdengar jelas suara deru angin yang berasal dari napas Khenzie.
“Dasar, bikin khawatir.”
Aku tertawa puas, berhasil menjahili Khenzie.
“Gimana akting gue?”
“Iya, iya. Keren, cocok jadi aktris.” Khenzie menjawab pertanyaanku dengan berat hati.
“Lo lulus di kampus apa?” tanya Khenzie.
“Lo dulu.” Aku malah meminta Khenzie untuk menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Indonesian Nasional University.” Khenzie menjawab pertanyaannya.
“Yaelah, masa satu universitas juga.” Aku mengeluh karena harus satu universitas dengan Khenzie.
“Yeh, kenapa?”
“Bosen, masa lo lagi lo lagi.”
“Tenang, nanti juga bakalan satu rumah bareng.” Khenzie tertawa.
“Jangan sampe gue ngomong kasar ni, ya.”
“Nikah sama sahabat sendiri sekarang lagi trend tahu, kamu nggak pengen nyoba gitu?”
“Khen.” aku memanggil nama Khenzie dengan suara yang geram.
“Iya, iya. Bercanda doang, serius amat sih tapi kalo mau diseriusin juga boleh sih.” Khenzie tertawa cekikikan.
Setelah selesai menelepon Khenzie, aku langsung mencuci wajah dan berbaring di kasur. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba handphone ku berbunyi, rupanya Papa meneleponku, aku tidak menjawab panggilan Papa, aku memilih untuk membalikkan ponselku dan membiarkannya.
“Maafin Syana, Pa.” kataku, lirih.
Esoknya, di sekolah. Aku dan Khenzie sedang sibuk melihat-lihat Indonesian Nasional University melalui instagram resmi universitas. Aku menjadi tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki di INU, aku tidak sabar menjadi seorang mahasiswi hukum, memikirkannya saja sudah membuatku bahagia apalagi ketika menjalankannya nanti.
Saat aku sedang asyik melihat INU, Khenzie menggoyang-goyangkan tanganku, membuat handphoneku hampir terlepas.
“Syan.” Mata Khenzie seolah memberi isyarat untuk aku melihat handphonenya.
Aku berdecak kesal, menatap Khenzie dengan tatapan mata yang menurun. "Apaan sih?" Tanyaku, sambil meletakkan handphone ke saku kemeja.
Khenzie menunjukkan sesuatu di handphonenya, aku terkejut begitu melihat eksplore instagram Khenzie, di mana terlihat ada poto Elina tanpa busana terbaring di atas ranjang tak sadarkan diri dan vidio Elina yang sedang tertidur.
“Khen, itu Elina kan?” tanyaku, memastikan.
"Iya, dia Elina." Jawab Khenzie, pelan.
Di tengah-tengah kami yang terkejut melihat Poto itu, Elina masuk ke kelas, ia langsung duduk di bangkunya lalu menyadarkan kepalanya di meja. Aku dan Khenzie saling melihat satu sama lain, Elina terlihat sangat kelelahan.
__ADS_1
“Khen, gimana kalo orang yang mengupload foto dan vidio itu ternyata Papa?” aku ragu-ragu menanyakan hal itu pada Khenzie.
Khenzie memutar vidio itu, matanya seolah sedang mencari tahu informasi detail dari vidio itu.
“Bukan, bukan Om Herlan.” Khenzie terlihat yakin dengan perkataannya.
“Tahu dari mana lo?”
Khenzie menarik tanganku untuk kembali mendekatinya, memintaku melihat kembali vidio itu.
“Lo liat bayangan orang yang ada di dinding depan ranjang ini, postur tubuhnya terlihat tegap, badannya juga sepertinya tidak terlalu berisi dan lengannya yang berotot detail ini menunjukkan kalau bukan Om Herlan yang melecehkan Elina tapi orang lain.” Jelas Khenzie padaku, sambil menunjukkan detail yang dia lihat.
Aku bernapas lega karena setidaknya ada kemungkinan bukan Papa pelakunya, aku melihat Elina yang terlihat sangat kacau.
“Khen, lo hibur dia gih. Setidaknya lo bisa ngembaliin mood dia yang rusak, gue yakin dia udah tahu tentang ini.”
“Nggak, gue nggak mau ikut campur.” ucap Khenzie, datar.
Aku menghela napas panjang.
“Oke, gue akan berpura-pura nggak tahu.” Aku mengabaikan berita yang aku ketahui tentang Elina, dan kembali membuka instagram resmi Indonesian Nasional University (INU) agar pikiranku teralihkan dari skandal yang sedang menimpa Elina.
Di kantin, aku melihat Elina duduk sendirian. Elina hanya membeli es teh dan teh itu sedikit pun belum disentuh olehnya, Elina menatap lurus ke depan sambil mencubit-cubit tangannya, dari pandangannya terlihat jelas kalau sebenarnya pikirannya menerawang jauh, entah kemana, seolah hanya tubuh Elina yang ada di sini. Aku memalingkan pandanganku saat Elina melihatku, bersikap tak peduli.
“Tumben nasi gorengnya enak.” Kataku, setelah menyantap nasi goreng Bu Ayu.
“Lidah lo tuh yang bermasalah, nasi gorengnya Bu Ayu mah selalu enak kali.” sahut Khenzie, yang duduk di hadapanku.
“Iya, iya. Anaknya Bu Ayu, maaf.” Aku tertawa menjahili Khenzie, yang protes saat aku mengomentari nasi goreng masakan Bu Ayu (Ibu Kantin).
Aku melihat 3 orang siswi mendekati Elina, salah satu dari mereka membawa mangkuk, mereka terlihat memandangi Elina dengan tatapan kebencian, untuk sepersekian menit mereka hanya melihat Elina saja dengan senyuman sinis di wajah mereka lalu tak lama salah seorang dari mereka, yang sepertinya pentolan geng itu menuangkan mie instan dan kuahnya di kepala Elina, membuat kepala Elina di penuhi oleh mie dan rambut Elina menjadi basah.
“Dasar perempuan ******, masih berani lo ke sekolah ini, hah?!” ucap siswi yang menuangkan mie isntan di kepala Elina, terlihat kedua temannya yang lain hanya tertawa melihat siswi itu menuangkan mie instan di kepala Elina.
Aku memperhatikan Elina, tak seperti biasanya, Elina tak membalas sedikit pun, dia hanya menundukkan kepalanya seolah dia tidak tertarik dengan percikan api yang berusaha siswi itu nyalakan.
Setelah melihat perlakuan 3 siswi itu, mereka sepertinya satu angkatan dengan kami tapi aku tidak tahu nama mereka, siswi-siswi yang lain ikut membully Elina dengan menuangkan makanan dan minuman mereka di kepala Elina, membuat rambut Elina basah dan penuh dengan sisa-sisa makanan.
__ADS_1
“Kalo lo masih punya malu, lo harusnya pergi dan keluar dari sekolah ini. Lo harusnya malu karena udah mencoreng nama baik sekolah kita dengan perbuatan lo, dasar pelacur!” siswi itu terus memprovokasi keadaan, membuat Elina semakin terpojok.
Elina menangis tersedu, dalam hati aku meminta Elina untuk melawan mereka-mereka yang menyerangnya, aku mengepalkan tanganku melihat perlakuan anarkis mereka pada Elina, yang menurutku sudah sangat keterlaluan.