
"Berhenti disini, Khen." Aku meminta Khenzie berhenti setelah mobil melaju cukup jauh dari keramaian.
Khenzie pun mengikuti perkataan ku, ia menghentikan mobil Brooklyn. Aku buru-buru membuka seat belt dan keluar dari dalam mobil, membuka bagasi mobil Brooklyn.
"Mau ngapain sih lo, sebenarnya?" Khenzie ikut turun dari mobil dan mendekatiku.
"Diem!"
Mataku tertuju pada tas kecil berwarna hitam, yang terselip di bawah kursi mobil, aku pun mengambilnya.
"Syan." nampaknya Khenzie juga terkejut begitu melihat isi tas itu setelah aku membukanya.
"Ini apaan?" tanya Khenzie, yang aku yakin sebenarnya dia juga tahu apa yang matanya liat saat ini.
Aku buru-buru mengambil ponsel dan momotret isi tas yang ada di dalam mobil Brooklyn.
"Buat apa suntikkan sebanyak ini, terus serbuk putih yang ada di plastik kecil itu...."
Khenzie sepertinya enggan meneruskan perkataannya.
"Sabu-sabu." Aku tanpa sadar mengucapkan hal itu dengan lantang.
"Jadi selama ini Brooklyn.... seorang pecandu?"
"Asli, gue merinding Syan." Lanjut Khenzie, ia mengusap-usap lengannya.
Aku meletakkan kembali tas itu ditempat semula, aku melangkah satu langkah agar lebih dekat dengan Khenzie sambil menatap Khenzie dengan serius.
“Gue bisa percaya sama elo kan, Khen?”
Khenzie terdiam sejenak kemudian tersenyum tipis.
“Iya.” jawab Khenzie, singkat.
Kami pun melaju untuk menemui Brooklyn di rumah sakit.
“Setelah tahu kalo Brooklyn ternyata seorang pecandu narkoba... apa yang akan lo lakuin selajutnya?” Khenzie bertanya padaku dengan tetap menatap lurus jalanan.
Aku melirik Khenzie yang duduk di samping kananku.
“Gue nggak tahu.” Aku menjawab pertanya Khenzie dengan perasaan yang berkecambuk.
“Lo nggak mau ngelapor kasus ini ke polisi gitu?” tanya Khenzie, ragu.
“Gue takut, Khen. Gue nggak bisa ngeliat orang yang gue sayang mendekam di jerusi besi.”
Khenzie menghela napas, ia menurunkan sedikit kaca mobil.
“Gue tahu lo sayang banget sama Brooklyn tapi Syan... kalo lo ngebiarin Brooklyn terus kayak gini sama aja lo ngebahayain diri lo sendiri.”
Aku terdiam mendengar perkataan Khenzie, menatap jalan melalui jendela mobil.
“Jujur jauh dari dalam diri gue bilang, kalo gue takut sama Brooklyn setelah tahu dia seorang pecandu narkoba, gue takut dia melampiaskan halusinasinya sama gue bahkan ketika memikirkannya aja udah ngebuat gue merinding.” batin ku dalam hati.
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit, kami menemui Brooklyn, rupanya Brooklyn sudah diizinkan untuk pulang, kondisinya sudah lebih baik setelah mendapat infus.
“Sayang, udah lama disini?” aku bertanya pada Brooklyn, yang duduk di kursi yang ada di depan kamar rawatnya.
“Lumayan.” Brooklyn beranjak dari tempat duduknya.
“Gimana kata dokternya?”
“Baik, aku udah diizinin pulang.”
“Yaudah, yuk pulang.” Ajakku.
“Khen, lo tahu kan mobil gue cuma punya dua kursi jadi...”
“Iya, gue bisa pulang sendiri.” Khenzie menyela perkataan brooklyn untuk mengatakan hal yang tidak ingin Khenzie dengar, perkataan yang terdengar halus tapi sebenarnya punya arti yang cukup menusuk.
“Astagah, sayang aku lupa.”aku menepuk kepala ku.
“Lupa apa?” tanya Brooklyn, penasaran.
“Tadi Mama minta aku beli daging di supermarket, kamu bisa pulang sendirikan?” aku beralibi.
“Kok gitu? Gapapa, aku bisa anter kamu kok. Supermarket deket rumah kamu kan?”
“Hah! Nggak usah, mending kamu pulang terus istirahat ya. Aku nggak mau kamu capek.” Aku bersikap manis pada Brooklyn hanya untuk membuatnya tidak curiga bahwa sebenarnya aku sedang berbohong padanya.
“Aku gapapa kok, aku udah nggak sakit lagi.” Brooklyn terus mendesak agar bisa mengantarku pulang.
Brooklyn menatap sinis Khenzie.
“Justru karena dia, aku jadi khawatir.”
“Gue?” Khenzie mengangkat alis sebelah kanannya, menatap serius Brooklyn .
“Udah ya, aku capek. Aku mau pulang.” Aku berlalu meninggalkan Brooklyn dan Khenzie, dengan perasaan kesal pada Brooklyn
Di busway, Khenzie bertanya padaku.
“Syan.”
Aku dan Khenzie berdiri bersebelahan.
“Gue boleh nanya sesuatu nggak?”
“Tanya aja, tumben lo minta izin dulu.” Jawabku
“Tante nggak minta lo buat beli daging di supermarket kan? Lo cuma membuat alasan supaya nggak pulang sama Brooklyn, bener nggak?” Khenzie seolah bisa membaca pikiranku.
Aku meliriknya sejenak.
“Iya.” jawab ku, singkat.
“Kenapa? Kenapa lo menghindar dari dia?”
__ADS_1
“Gue takut, Khen.” kata ku, pelan.
Aku menatap mata Khenzie, begitu pun dengan Khenzie.
Malam harinya, di kamarku. Aku menatap bingkai poto yang ada di atas laci samping kasurku, dimana potoku dan Brooklyn terpajang disana, di poto itu kami terlihat sangat bahagia dengan tawa lepas yang berhasil diabadikan, tatapan Brooklyn padaku seolah menyiratkan bahwa dia benar-benar mencintaiku.
“Lyn, aku nggak tahu harus bersikap seperti apa di depan kamu setelah aku tahu kamu seorang pecandu narkoba.” Aku meraih bingkai poto itu kemudian menatapnya.
“Bagaiman bisa kamu menghancurkan hidup kamu sendiri? Bagaimana bisa kamu merusak kepercayaan aku dan orang tua kamu? Jujur aku kecewa, Lyn. Aku kecewa!” tanpa sadar air mata mengalir di pipiku.
Aku larut dalam perasaan emosional yang hadir karena Brooklyn, lalu tiba-tiba dari luar terdengar suara Bang Aksa memanggilku, ia mengetok-ngetok pintu kamarku.
“Syan, tolong buka pintunya. Bang Aksa mau ngobrol bentar.” seru Bang Aksa dari luar kamar ku.
“Iya, sebentar.” Aku menyeka air mataku.
Aku beranjak dari kasurku kemudian membuka pintu kamar.
“Mau ngobrol soal apa, Bang?” aku bertanya pada Bang Aksa, setelah pintu terbuka.
“Ngobrol di dalam aja.” Bang Aksa masuk ke dalam kamarku.
Aku mengikutinya dari belakang.
“Kamu tadi di rumah sakit?”
Bang Aksa duduk di sofa, sementara aku duduk di kursi yang ada di depannya sambil mencubit ujung ibu jari ku.
“Iya.” jawabku, singkat.
“Ngapain?” sepertinya Bang Aksa mencoba mengetes tingkat kejujuran ku, aku yakin dia sudah tahu apa yang sebenarnya aku lakukan di rumah sakit tadi, aku tahu itu dari raut wajahnya yang terlihat menahan amarah.
“Brooklyn sakit.” Jawabku, tertunduk.
“Sekarang kamu tahu kan, kenapa Abang dan Bang Arsa nggak pernah suka sama pacar kamu?”
Pertanyaan yang diajukan Bang Aksa membuatku terdiam, tak berkutik.
“Dia bukan laki-laki yang pantes buat dapetin cinta kamu, Syan. Jadi, Abang minta kamu tinggalin dia dan lupain dia.”
“Tapi Bang, Syana cinta banget sama Brooklyn.”
Bang Aksa membuang muka untuk sepersekian detik.
“Cinta?” Bang Aksa menatap lekat kedua mataku.
“Cinta seperti apa yang kamu maksud? Rasa cinta harusnya memberikan kenyamanan bukan sebaliknya.” Lanjut Bang Aksa.
Sejenak aku mendonggakkan kepalaku, memegang punggung leherku yang terasa nyerih.
“Gimana caranya? Gimana caranya ngelupain orang yang sudah menjadi bagian dari hidup Syana selama 4 tahun terakhir ini?” aku menatap sendu kedua mata Bang Aksa, emosional.
Aku melihat kedua kelopak mata Bang Aksa bergetar, matanya bersinar.
__ADS_1