KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 21 Berakhir Sudah


__ADS_3

“Mau taruhan, nggak?”


Telinga ku terangkat begitu mendengar Brooklyn mengajak teman-temannya taruhan, entah taruhan dalam bentuk apa.


“Taruhan apa?” tanya salah satu temannya.


“Malam minggu ini, gue akan tidur dengan Syana dan menikmati tubuhnya. Kalo gue berhasil tidur sama dia, kalian harus bayar gue 5 juta dan kalo gue gagal, gue yang akan bayar kalian 5 juta. Gimana?”


“Deal!” sahut teman-teman Brooklyn.


Khenzie memukul dinding dengan wajah yang memerah karena menahan amarah.


“Biar gue yang selesain.” Kataku pada Khenzie, urat-urat di kening ku mengencang.


Aku masuk ke dalam kelas Brooklyn, Brooklyn nampak tersentak begitu melihat wajah ku, ia langsung beranjak.


“Sayang.” Tutur Brooklyn, kedua matanya terbuka lebar menatapku, Brooklyn menepuk lehernya.


Aku tersenyum menyeringai menatapnya, aku mengambil ancang-ancang kemudian menghantam wajah Brooklyn dengan kepalan tangan yang terkumpul amarah disana lalu kaki kananku melesat tepat mengenai wajah Brooklyn.


“Akhirnya ilmu bela diri gue berguna.” Kataku, tersenyum melihat Khenzie yang ada di belakangku.


Aku meregangkan otot-otot tubuhku.


“Sakit kaki gue, harusnya pemanasan dulu tadi ya Khen.” tutur ku, memegang kaki kananku yang menghantam Brooklyn.


Aku melihat Brooklyn memegang pipinya yang kebiruan.


“Tidur bareng?” tanyaku pada Brooklyn, dengan senyum sinis.


“Mimpi!” lanjutku


“Kamu kenapa sih?” tanya Brooklyn, aku tahu dia berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Brooklyn menatap Khenzie dengan serius.


“Lo udah nyuci otak cewek gue, puas lo sekarang?!” seru Brooklyn pada Khenzie.


Aku benar-benar muak dengan akting Brooklyn yang dibuat-buat, seolah lupa dengan apa yang dia ucapkan tentangku.


“Gue bersyukur akhirnya Allah menunjukkan wajah lo yang sebenarnya.” Aku menatap serius wajah Brooklyn.


“Sayang, kamu ngomong apa sih?” Brooklyn berjalan mendekatiku.


“Berhenti!” seru ku, menyuruh Brooklyn menghentikan langkahnya, agar tidak mendekatiku.


“Lo tahu betapa gue mencintai lo, tapi lo dengan mudahnya memanfaatkan rasa cinta gue sama lo. Lo adalah orang yang paling mengerikan yang pernah gue temui, Psycho!” suaraku sempat bergetar sejenak namun berhasil aku kendalikan.


“Sayang, aku benar-benar nggak tahu kamu lagi ngomongin apa sekarang.” Brooklyn hendak meraih tangan ku tapi langsung aku tepis.


Brooklyn terlihat benar-benar menjijikkan dengan aktingnya yang seolah tidak mengerti apa-apa.


“Diem lo!” aku sudah sangat muak dengan Brooklyn.


Aku memaki Brooklyn di depan teman-temannya, aku tidak menyangka kalau makian seperti itu keluar dari mulutku.


“Cinta seharusnya melindungi dan memberikan kenyamanan, tapi lo.... lo udah menghancurkan arti dari kata cinta dan orang yang tidak paham dengan arti cinta, tidak pantas untuk dicintai.” Tuturku, menatap serius wajah Brooklyn.


“Setelah tahu sifat asli lo, lo bukan lagi orang yang gue cintai, bahkan memikirkan bahwa gue pernah mencintai lo benar-benar membuat gue merinding. Bagaimana bisa gue mencintai seorang monster mengerikan kayak lo.” Lanjutku, dengan suara lantang.


“Sayang, kamu ini sebenarnya kenapa sih?”


Aku tersenyum sinis menatap matanya.


“Kita putus!” pungkas ku, tepat di depan wajah Brooklyn kemudian berlalu meninggalkan kelas Brooklyn.


Brooklyn berlari mengejarku, yang sudah cukup jauh dari kelasnya.


“Tunggu!”


Brooklyn memegang tanganku, memintaku berhenti melangkah.


“Aku nggak mau kita putus.” Lanjutnya


Aku menarik tanganku dari genggamannya.

__ADS_1


“Hubungan kita sudah berakhir.” Kataku, meninggalkan Brooklyn yang terpaku.


Di kelas, aku melihat Elina setelah sejak pagi tadi menghilang.


“Syan, lo kenapa?” tanya Elina, melihatku yang menangis sejadi-jadinya di pelukkan Khenzie.


Aku melepaskan pelukkan Khenzie.


“Gue putus sama Brooklyn, El.” Kataku, yang masih tersedu.


“Serius lo?!”


Aku menganggukkan kepalaku.


“Syan, lo nggak kenapa-napa kan?”


Elina mengelus tanganku.


“Nggak liat dia nangis, berarti dia lagi kenapa-napa.” Celetuk Khenzie, dengan tatapan datarnya.


Elina melirik Khenzie sejenak.


“Siapa yang mutusin?”


“Gue, El.”


“Kenapa?”


“Brooklyn....”


Saat aku hendak menjelaskannya pada Elina, tiba-tiba Khenzie memegang tanganku.


“Dia nggak pantes buat Syana.” Tutur Khenzie, seolah mewakilkan aku memberikan jawaban pada Elina.


Elina terlihat tersenyum tipis.


“Terus menurut lo, siapa yang pantes buat Syana?” tanya Elina pada Khenzie.


Khenzie tak menjawab pertanyaan Elina.


“Syan, lo istirahat di UKS aja ya.” Khenzie merangkul pundakku, menuntutku agar beranjak dari tempat dudukku saat ini.


“El, gue ke UKS ya.” Lanjutku pada Elina.


Elina hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya.


“Lo kuat nggak jalannya? UKS jauh dari kelas kita.” Tanya Khenzie.


“Kuat kok.” Aku menjawab pertanyaan Khenzie, sambil memegang kepalaku.


Khenzie melepaskan rangkulannya, ia kemudian jongkok di hadapan ku, memperlihatkan punggungnya yang lebar padaku.


“Naik.” Khenzi menepuk punggungnya.


Aku merasa tidak enak dengan teman-teman di kelas, termasuk Elina. Aku hanya berdiri, terpaku sambil melihat ke sekeliling.


“Naik.” Pinta Khenzie, sekali lagi.


Melihat aku yang tidak bergerak sedikitpun, Khenzie kembali berdiri. Ia sedikit membungkukkan badannya, kemudian menarik kedua tangan ku dan menggendongku.


“Khen, gue bisa jalan sendiri.” Kataku, setelah digendong oleh Khenzie.


“Berisik! Gue nggak mau lo pingsan, badan lo lebih berat kalo lo pingsan.” Kata Khenzie, kemudian berjalan meninggalkan kelas.


Setibanya di UKS, Khenzie langsung membuat aku duduk di ranjang UKS.


“Istirahat, ya.” Khenzie tersenyum menatapku sambil mengelus rambut ku.


“Iya.” Aku pun membaringkan tubuhku di ranjang UKS.


“Gue ke kelas dulu, kalo ada apa-apa kabarin.”


“Lo bawa handphone kan?” tanya Khenzie.


“Iya bawa.”

__ADS_1


“Yaudah, tidur sana.”


Khenzie menutup tirai UKS kemudian meninggalkan UKS.


“Tolong, jagain Syana ya.” Pinta Khenzie pada penjaga UKS yang ada diluar, suara Khenzie bisa aku dengar dari dalam.


Kepalaku terasa sangat berat, aku pun memejamkan mata sampai akhirnya tertidur. Aku terbangun begitu mendengar suara bising dari luar.


“Gue mau masuk!” pekik seseorang dari luar, yang sepertinya tidak diperbolehkan masuk oleh murid yang piket untuk menjaga UKS hari ini.


Dari suaranya aku yakin orang itu adalah Brooklyn, yang memaksa untuk masuk ke dalam UKS.


“Nggak bisa kak, di dalam ada yang lagi istirahat. Tolong kerja samanya.”


“Biarin gue masuk atau pintunya gue dobrak?” Brooklyn memberikan dua pilihan pada murid yang menjaga UKS.


“Biarin dia masuk.” Tutur Khenzie, entah sejak kapan dia ada di luar.


Begitu mendengar suara kunci yang hendak membuka pintu, aku langsung bangkit lalu duduk di atas ranjang.


“Syana! Kamu nggak bisa kayak gini.” Kata Brooklyn, setelah menghampiriku.


“Kayak gini, gimana maksudnya?”


“Aku nggak mau kita putus.”


“Aku nggak peduli, lagian aku nggak butuh persetujuan kamu.” Tegas ku, menatap serius wajah Brooklyn yang berada tepat di sampingku.


“Apa sih kurangnya aku? Kamu tuh harusnya bersyukur punya aku sebagai pacar kamu.”


Aku tersenyum sinis menatap Brooklyn kemudian memalingkan wajahku.


“Aku nggak akan pernah bisa menjalin hubungan sama orang yang nggak bisa menghormati aku sebagai wanitanya karena bagi aku rasa cinta adalah sebuah rasa tenang dan nyaman yang disatukan. Dan aku udah nggak ngeliat itu di hubungan kita.” Jelasku pada Brooklyn.


“Kamu marah karena obrolan aku sama teman-teman aku tadi? Ya ampun, itu cuma bercanda sayang, buat seru-seruan aja.” Brooklyn mengatakan hal itu dengan sangat santai, seolah itu semua bukanlah masalah besar baginya.


Aku semakin tersulut emosi, begitu kata “Bercanda” keluar dari mulut Brooklyn dengan gampangnya.


“Bercanda kata kamu?” aku tersenyum menyeringai menatap mata Brooklyn.


“Iya.”


Aku turun dari atas ranjang UKS, kali ini mataku dan Brooklyn menjadi sedikit lebih dekat. Aku menatap Brooklyn dengan tatapan tajam.


“Kamu adalah orang yang paling mengerikan yang pernah aku tahu.”


Aku kembali memaki Brooklyn lalu aku mendorong pundak Brooklyn untuk menjauh dari hadapanku kemudian berlalu.


Di depan pintu, ketika aku hendak membuka pintu UKS, Brooklyn menghentikan langkah ku dan Khenzie.


“Gue nggak akan ngelepasin lo begitu aja, apa yang menjadi taruhan gue sama teman gue harus gue dapetin, bagaimanapun caranya.” Tutur Brooklyn, yang membuat darahku berdesir dan mataku berkedip.


Aku tidak bereaksi sedikit, aku tidak tahu lagi harus membalas apa perkataan Brooklyn.


“Syan, jangan dengerin dia. Gue selalu bersedia buat jagain elo, apapun resikonya.” Tutur Khenzie, yang mencoba menenangkanku.


Aku dan Khenzie meninggalkan UKS, aku berjalan menuju parkiran yang berada di depan ruangan UKS. Tubuhku rasanya begitu lemah, kakiku tiba-tiba tidak mampu berdiri, beruntung ada Khenzie di sampingku. Khenzie merangkul dan mengajakku duduk di ban bekas yang ada di sudut parkiran.


“Khen, gimana? Gue takut, Khen.”


“Syan, lo tenang ya. Gue nggak akan ngebiarin dia ngapa-ngapain lo, lo percaya sama gue.” Khenzie menenangkanku sambil menepuk-nepuk tanganku yang menggenggam erat abu-abu yang aku pakai.


Mataku berkilau menatap wajah Khenzie, Khenzie hanya tersenyum melihatku kemudian dia membuat kepalaku menyadar di pundaknya.


“Udah nggak usah nangis, lo cantik kalo lagi nangis dan gue takut jatuh cinta sama lo.” kata Khenzie, pelan.


Aku memukul lengannya kemudian menyeka air mataku.


“Ke Kelas, yuk.” Ajak ku, sambil beranjak.


“Bentar lagi juga pulang.”


Khenzie melihat jam tangan di tangannya lalu menghitung mundur.


“5,4,3,2,1.” Tepat setelah Khenzie selesai menghitung mundur, bel pulang pun berbunyi.

__ADS_1


“Wow!” aku bertepuk tangan, bersorak.


Khenzie tersenyum sambil merapikan kerah bajunya.


__ADS_2