
"Gue masih nggak percaya orang yang gue cintai.... melakukan hal yang mengerikan seperti itu. Lyn, bagaimana bisa lo berubah jadi monster dalam waktu yang singkat?" gumamku, dalam hati sambil menatap jalanan dari balik kaca jendela mobil yang tertutup.
Bang Aksa menurunkan setengah kaca jendela di sisi tempatku duduk kemudian menyalakan instrumen musik. Angin meniup setiap helai rambutku, membuat rambutku seolah bermain dengan angin mengikuti irama musik jazz yang Bang Aksa putar.
"Brooklyn adalah masa lalu yang harus gue tinggalin." batin ku dalam hati, dengan tekad yang kuat untuk melupakan Brooklyn.
Begitu mobil terparkir di dalam garasi, aku langsung turun dan masuk ke rumah. Saat hendak menaiki anak tangga menuju kamar, aku bertemu dengan Bang Arsa dan Mama, raut wajah mereka terlihat khawatir, entah apa Bang Aksa sudah menceritakan semuanya atau belum, aku tidak tahu pasti.
"Dari mana aja, Syana? Kamu tahu nggak orang rumah khawatir nyariin kamu? Kenapa sih keluar rumah nggak bilang-bilang?" Mama langsung menghujaniku dengan begitu banyak pertanyaan yang menuntut jawaban.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Mama, membuatku memilih untuk diam dan menutupi pipiku dengan rambutku, tertunduk.
"Syan, Mama lagi bicara sama kamu. Kamu kok diam aja?" tanya Bang Arsa, yang berjalan mendekatiku.
Bang Arsa memegang bahuku, membuat badanku berhadapan dengannya. Mungkin dari sela-sela rambutku, Bang Arsa bisa melihat pipiku yang masih terlihat lebam walaupun tidak separah sebelum aku mengompresnya dengan air dingin.
"Pipi kamu kenapa?" tanya Bang Arsa padaku, yang diam dan terpaku.
"Biar gue yang jelasin." Sahut Bang Aksa, yang baru saja masuk rumah sambil meletakkan kunci mobilnya di atas meja.
Bang Arsa menatap Bang Aksa, ia mengernyitkan dahinya lalu untuk sepersekian detik memicingkan matanya ke arah Bang Aksa.
"Jangan bilang lo yang nampar Syana?" tanya Bang Arsa pada Bang Aksa, yang sedang berjalan mendekati kami.
"Gue tahu dia emang salah, nggak bilang kalo keluar rumah tapi lo nggak harus mukulin dia juga Sa!" lanjut Bang Arsa, yang kesal.
"Syan, kamu istirahat aja." Pungkas Bang Aksa padaku.
Aku pun melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana kamarku berada.
"Jelasin sama gue, ada apa ini sebenarnya?" tanya Bang Arsa, emosional.
Percakapan mereka masih bisa terdengar jelas di telingaku.
"Kita ngobrol di ruang keluarga, yuk." Ajak Bang Aksa kepada Mama dan Bang Arsa.
Aku pun membuka pintu kamarku lalu menguncinya, aku langsung menghempaskan tubuhku di kasur kemudian memejamkan mataku, semula aku kesulitan untuk tidur tapi akhirnya mataku mulai mengantuk dan terlelap.
Aku terbangun begitu mendengar suara Bang Arsa mengetuk pintu kamarku sambil memanggil nama ku. Aku melihat jam dinding yang terpasang di dinding depan ranjangku, jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB, rupanya sudah 3 jam lebih aku tidur. aku pun beranjak dari kasur, membukakan pintu untuk Bang Arsa.
__ADS_1
"Abang boleh masuk kamar kamu, nggak?" tanya Bang Arsa padaku, yang berdiri di bawah bingkai pintu.
Aku mengangguk, menyetujui, aku memberi sela agar Bang Arsa bisa masuk ke kamarku.
Bang Arsa pun duduk di tepi ranjangku, aku juga.
"Maafin Bang Arsa ya." Tutur Bang Arsa, suaranya bergetar.
Bang Arsa tertunduk melihat lantai kamar yang bersinar karena pantulan lampu.
"Bukan salah Bang Arsa, Syana yang nggak pernah ngedengerin perkataan kalian yang minta Syana buat ngejauhin Brooklyn."
Bang Arsa tersenyum lirih menatapku, lalu memegang tanganku.
“Abang nggak bisa baca pikiran kamu karena itu Abang berharap kamu ungkapin kalo emang kamu lagi nggak baik-baik aja, jangan memendam semuanya sendiri, Syan.” mata Bang Aksa berkilau.
Aku tersenyum lirih sambil mengangguk.
“Udah sore, kamu makan dulu ya.”
“Abang udah masakin makanan kesukaan kamu. Kamu suka rawon kan?” lanjut Bang Arsa, yang memastikan apakah aku suka rawon.
“Udah, udah. Mie nggak sehat.” Bang Arsa beranjak dan berjalan hendak meninggalkan kamarku.
“Mau ramen pokoknya.” rengek ku, agar Bang Arsa menuruti permintaan ku untuk memasak ramen.
“Rawen sama rawon beda-beda tipis, mau nggak?” tanya Bang Arsa, yang berdiri di ambang pintu.
“Iya deh.”
"Kok pake 'Deh' sih? Boleh nggak kalo nggak pake 'Deh'?" tanya Bang Arsa, cemberut.
Aku hanya tertawa lalu berlari kecil mendahului Bang Arsa.
Di meja makan, aku melihat Mama yang sedang termenung.
“Ma, kenapa?” tanyaku, sambil menarik kursi untuk duduk di sebelah Mama.
Mama melihatku sambil tersenyum, kelompok matanya terlihat sembab dan basah seperti habis menangis.
__ADS_1
“Mama nggak kenapa-napa kok.” Mama menaruh nasi ke piringku sambil tersenyum.
“Kamu harus makan yang banyak.” Lanjut Mama, mengelus pipiku.
Aku yakin Mama sudah mendengar semuanya dari Bang Aksa, Mama memang tidak mau memperlihatkan kesedihannya di hadapan ku tapi aku tahu penyebab kesedihannya hari ini adalah aku
“Ma.” Panggilku, sambil menyendok rawon buatan Bang Arsa ke piringku.
“Kenapa sayang?” suara Mama begitu lembut.
“Maafin Syana...” suaraku bergetar.
Mendengar suaraku yang bergetar Mama langsung memelukku dan terisak.
“Syana nggak salah, Syana anak Mama yang paling baik. Pelaku itu yang salah, memanfaatkan rasa cinta yang Syana kasih.” Mama menepuk-nepuk punggung ku.
Aku semakin erat memeluk Mama dan menumpahkan semua rasa sakitku dalam pelukannya.
“Syana harus kuat ya, Mama yakin anak Mama bisa melalui semuanya.” Tutur Mama, aku bisa merasakan air mata Mama yang menetes di bahuku.
Mama menatap mataku kemudian menyeka air mataku, lalu menyeka air matanya.
“Syana harus tahu kalau Syana nggak sendirian. Syana masih punya Mama, Bang Arsa, Bang Aksa dan Papa.” Mama tersenyum lirih sambil menyibakkan rambut ku ke belakang telinga.
“Syana harus makan, Mama nggak mau kamu sakit.” Mama melepaskan aku dari dekapannya.
Aku mengatur napasku kemudian memakan masakan Bang Arsa.
“Selama seminggu kamu ambil cuti ya, tadi Abang udah telpon wali kelas kamu.” Kata Bang Aksa, yang berjalan mendekati meja makan.
“Dua hari aja, Bang. Syana nggak mau ketinggalan pelajaran selama seminggu.” Sahutku
“Empat hari, gimana?” tanya Bang Aksa sekali lagi.
“Tiga hari.”
Aku melihat Bang Aksa di tangga, ia berjalan menghampiri kami yang sedang makan di meja makan, ia menarik kursi yang ada di samping Bang Arsa, Bang Aksa duduk tepat di hadapanku. Bang Aksa duduk sambil meletakkan handphonenya di atas meja makan.
“Kamu harus ngasih ruang buat diri kamu sendiri, aku harus benar-benar pulih dulu baru bisa ke sekolah, jadi tolong dengerin perkataan Abang sekali ini aja.”
__ADS_1