KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 31 Pengkhianat


__ADS_3

Saat pria itu hendak menutup pintu kamarnya, aku menahan gagang pintu kamarnya. Tiba-tiba aku bisa merasakan aliran darah di dalam tubuhku, dadaku terasa panas, ekspresi wajahku datar sambil berharap bahwa apa yang aku pikirkan saat ini tidak benar. Dengan tangan yang bergetar, aku memberanikan diri untuk melangkah ke depan pintu. Aku melihat pria itu bertubuh tinggi itu dari ujung kakinya, perlahan-lahan mataku melihat wajah pria itu. Begitu melihat wajah pria itu, air mata mulai berkumpul di kelopak mataku.


Yah, pria itu adalah Papa ku, laki-laki yang selama ini selalu aku kenalkan pada dunia dengan perasaan bangga, semua orang tahu betapa aku sangat mencintainya. Aku melihat Papa tidak mengenakan baju, tubuhnya hanya tertutupi oleh celana pendek berwarna hitam.


"Syana, Papa bisa jelasin semuanya." Papa hendak memegang tanganku tapi aku langsung menepisnya.


"Jadi selama ini Papa nggak di luar kota, Papa ada di Jakarta." tutur ku, suaraku bergetar.


Aku melihat ke dalam kamar, terlihat ranjang yang berantakkan, selimut dan bantalnya tergeletak di lantai.


"Apa yang Papa lakuin disini?" tanyaku pada Papa, aku berusaha untuk tidak memusatkan pikiranku dengan pikiran yang negatif terhadap Papa.


Papa tak berkutik, ia terdiam melihatku. Diamnya Papa membuatku semakin hilang kendali, tuas pengendali emosiku seolah hendak patah. Khenzie merangkul pundakku, ia mengelus-ngelus pundakku. Aku menjauhkan diriku dari Khenzie, kemudian menatap Papa dengan tatapan tajam.


"Jawab aku, Pa. Kenapa diam aja?" aku memelankan suaraku.


Papa tak kunjung menjawab pertanyaanku. Aku menghela napas, mendonggakkan kepalaku ke atas sambil bertolak pinggang.


"Jawab aku, Pa. Jawab!" aku berteriak sambil memegang tangan Papa.


Papa memalingkan tatapannya dariku, ia seolah tidak berani menatap mataku.


"Ada apa ini, Mas?" tanya seorang perempuan, dari balik tubuh Papa.


Kedua mataku terbuka lebar, begitu mendengar suara perempuan itu, nama seseorang terlintas di benakku saat mendengar suara perempuan yang ada di balik tubuh Papa.


"Pa." Aku menatap serius wajah Papa.


Aku mendorong tubuh Papa ke samping, sehingga aku bisa melihat dengan jelas perempuan yang bersembunyi di balik tubuh Papa.


"Elina." suara ku pelan, memandangi wajah Elina yang seolah tak terkejut melihat ku.


Aku melihat rambut Elina yang basah, Elina hanya memakai handuk kimono, sepertinya dia baru saja selesai mandi. Aku melihat tanda merah di leher Elina, membuat semuanya semakin jelas, tentunya aku bukan anak kecil lagi, aku sudah tahu apa yang laki-laki dan perempuan lakukan di hotel saat sedang berdua saja, apalagi setelah melihat Elina.

__ADS_1


"Hai, Syan." Elina menyapaku dengan senyuman di wajahnya.


Aku mendengus, aku mencubit lenganku, berusaha menyadarkan diriku sendiri yang masih tak percaya, aku tidak bisa menyembunyikan kekecewaanku, aku mencengkram tangan Papa.


"Bilang sama Syana, apa yang Papa lakuin sama Elina disini?" aku bertanya pada Papa, urat leherku mengencang.


Meskipun aku sudah mengerti semuanya, tapi aku masih berharap ada 1% kemungkinan bahwa tidak ada yang terjadi antara mereka.


"Jawab Papa! Jangan diam aja!" pekikku, melihat mata Papa yang selalu menghindar dari tatapanku.


Elina berdiri di samping Papa, ia kemudian menyadari bahwa bukan hanya aku yang ada disini tapi juga Khenzie, sejenak Elina terdiam tapi dia menghiraukan Khenzie.


"Biar gue yang jelasin." Kata Elina padaku.


Aku membalikkan badanku untuk sepersekian detik, menyeka air mataku. Kemudian menatap Elina, yang hendak menjelaskan semuanya.


“Mas Herlan menghabiskan waktu satu bulannya berasa gue disini, ya benar. Kami melakukan segalanya disini, seperti apa yang terlintas dibenak lo saat ini setelah melihat gue sekarang.” Jelas Elina, sambil melingkarkan tangannya di tangan Papa.


Aku mengerutkan bibir ku sepanjang Elina menjelaskan semuanya, aku menampar pipi Elina dengan sangat keras, suara tamparanku terdengar keras mengema di lorong hotel.


“Lo pantas dapatin tamparan itu, dasar perempuan ******!” pungkas ku pada Elina, mataku menatap tajam mata Elina yang terlihat emosi setelah mendapatkan tamparan dariku.


“Mas, liat anak kamu.” Elina mengadu pada Papa.


“Syan, kamu jangan kasar gitu dong. Papa nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar sama orang lain.”


Aku menyunggingkan senyuman, perkataan Papa membuat hatiku terasa perih, namun air mata tak bisa lagi jatuh di pipiku, dadaku terasa sangat sesak sampai-sampai aku tidak tahu lagi caranya untuk menangis.


“Segitu bencinya lo sama gue, El? Sampai-sampai lo rela ngancurin hidup lo sendiri dengan bermain api sama Papa gue?” tanyaku pada Elina, ekspresi wajahku datar menatap Elina.


Elina melepaskan lingkaran tangannya di tangan Papa, ia mendekatiku.


“Iya, gue sangat-sangat benci elo!”

__ADS_1


“Gue benci elo, gue muak, lo manusia yang paling gue benci.”


Elina terus mendorong bahuku, membuatku terdorong ke belakang. Khenzie menahan tubuhku yang terhuyung ke belakang, Khenzie menarik tanganku membuat ku menjauh dari Elina, Khenzie berdiri di depanku seolah menjadi perisai untukku.


“Cukup! Lo nggak ada puas-puasnya, ya? Belom cukup lo nyakitin Syana dengan lo tidur sama Bokapnya, Hah?!” Khenzie menatap tajam mata Elina.


Elina terlihat menahan air matanya, mendengar Khenzie membentaknya.


“Khen.” Elina memasang raut wajah yang memelas di hadapan Khenzie.


Aku melihat Papa yang tidak berkutik ketika Elina mendorongku, Papa menatapku tapi aku langsung


memalingkan pandanganku.


“Papa memang orang yang paling Syana banggakan tapi setelah melihat sendiri apa yang Papa lakukan di belakang kami, Papa sama sekali nggak berarti lagi di mata Syana. Sedikit pun!” aku berkata dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Papa, wajahku memerah karena emosi membuncah yang sedang aku rasakan.


Elina kembali berdiri di samping Papa, memeluk Papa dari samping.


“Kalian tahu apa yang gue pikirkan sekaran?” tanyaku, melihat Papa dan Elina.


Elina dan Papa hanya menatapku, Elina terlihat senang karena dia pikir rencananya untuk menghancurkanku sudah berhasil.


“Kalian memalukan! Menjijikan!” pekikku pada Papa dan Elina.


Elina tersenyum licik melirikku, aku menatapnya dengan tatapan dingin.


“Lo harus tahu, El. Api yang lo nyalain sekarang, pelan-pelan akan melahap habis diri lo sendiri. Bukan gue!” Tuturku pada Elina.


“Bukan gue tapi elo!” Elina membalikkan perkataanku.


Aku tersenyum, menyunggingkan bibirku ke atas.


“Lo mau tahu kan kenapa gue benci sama lo? Gue akan jawab sekarang.”

__ADS_1


Khenzie menutupi tubuhku dari Elina, aku berdiri di samping Khenzie untuk mendengarkan perkataan Elina.


“Khenzie cinta sama lo, itu alasannya! Lo tahu kan gue udah cinta sama Khenzie sejak awal kita masuk SMA? Gue benci setiap kali lo bertingkah baik di depan gue dan Khenzie, seolah-olah elo mendukung gue padahal di belakang lo membuat Khenzie menyukai elo. Gue nggak suka ngeliat Khenzie selalu ada di sisi lo dalam keadaan apapun, sementara dia bahkan nggak pernah melihat gue sedetik pun.” Elina berkata bahwa alasannya menbenciku karena Khenzie mencintaiku.


__ADS_2