
“Syan, kita beli makan dulu ya.” Kata Khenzie, setelah kami melaju meninggalkan hotelnya.
“Gue mau pulang, Khen.” Badanku terasa tidak bertenaga.
“Lo serius mau pulang dalam keadaan begini?”
Aku melirik Khenzie, kemudian merapikan rambutku dan mengelap pipiku dengan tisu basah yang ada di mobil Khenzie.
“Udah, gue udah nggak berantakkan lagi kan?” tanyaku pada Khenzie.
“Iya.”
Khenzie terdiam sejenak, kemudian kembali bertanya padaku.
“Syan, gue mau ngasih tahu sesuatu sama lo.” Khenzie melirikku yang sedang bersandar dan menatap lurus ke depan.
“Kasih tahu aja.”
“Lo tahu nggak siapa yang udah nyebarin vidio lo sama Brooklyn?”
“Siapa?” tanyaku, penasaran.
“Elina.” Khenzie berkata bahwa orang yang menyebarkan vidio-vidioku dengan Brooklyn adalah Elina.
Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, setelah melihat karakter asli Elina.
“Tolong ke pinggir sebentar, Khen.” Aku meminta Khenzie berhenti di pinggir jalan.
Khenzie mengikuti perkataanku.
“Lo tahu dari mana?” tanyaku pada Khenzie, setelah mobil berhenti.
Khenzie mengambil handphonenya, dia mencari-cari sesuatu di galeri handphonenya.
__ADS_1
“Ni.” Khenzie menunjukkan kepadaku rekaman vidio, dimana terlihat Elina sedang merekam aku dan Brooklyn di mobil.
“Terus vidio di balik perpustakaan?” kata ku, setelah melihat Vidio yang Khenzie tunjukkan.
“Gue yakin itu juga ulah Elina, soalnya waktu lo keluar perpustakaan sama Brooklyn, Elina juga keluar perpustakaan setelah itu. Dan saat lo balik ke perpustakaan, Elina baru aja masuk ke perpustakaan.” Jelas Khenzie padaku.
Aku menghela napas berat.
“Elina benar-benar mengerikan, dia iblis yang nyata.” tanganku terkepal erat.
“Itu belom seberapa, gue masih punya rekaman vidio yang lebih mengerikan lagi.” Khenzie menggeser slide vidio di handphonenya.
Aku melihat suasana parkiran yang sepi sebelum Khenzie memutar vidio itu. Dari balik mobil, Khenzie merekam gerak-gerik Elina. betapa terkejutnya aku begitu melihat Papa keluar dari mobil berwarna hitam lalu mencium Elina, mereka terlihat sangat dekat, Elina masuk ke dalam mobil Papa.
“Vidio ini menjadi bukti awal gue tahu perselingkuhan Bokap lo sama Elina. Gue udah ngasih clue ke lo, dengan cincin Elina yang sama persis dengan punya lo.” Terang Brooklyn.
Aku membuka kaca jendela mobil Khenzie, napasku terasa sesak padahal AC mobil Khenzie terus menyala.
“Di hari yang sama saat Brooklyn ditangkap, setelah dari kantor polisi, gue pergi ke hotel buat nenangin diri, gue nggak berani pulang dengan kondisi yang lebam-lebam. Saat gue mau check in, gue ngeliat Om Herlan sama Elina masuk lift. Gue nggak langsung ngejar mereka, tapi begitu pintu lift ke tutup gue langsung ke depan lift yang mereka naikin.” Jelas Khenzie padaku.
“Terus?” aku penasaran.
“Lift itu berhenti di lantai enam, gue kembali ke bagian resepsionis buat nanya kamar yang ditempati Elina dan Om Herlan. Awalnya bagian resepsionis nggak mau ngasih tahu karena itu privasi dan juga aturan dari pihak Hotel. Gue menyakini bagian resepsionis kalo gue nggak akan ngasih tahu Papa soal ini, semuanya aman di tanganku, sampai akhirnya bagian resepsionis memberi tahu gue dimana kamar Om Herlan dan Elina. Mulai dari hari itu gue memantau mereka setiap kali pulang sekolah, gue selalu ngeliat Elina dan Om Herlan layaknya suami istri yang sedang berbulan madu, mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka, gue juga liat Om Herlan....”
“Cukup! Gue nggak mau denger apapun lagi, Khen.” Aku menutup telingaku, meminta Khenzie untuk berhenti menjelaskan apa yang dia ketahui.
Khenzie menggenggam tanganku.
“Syan, Elina nggak akan bisa ngejatuhin lo mau sekeras apa usahanya, dia nggak akan bisa. Lo dikelilingi oleh orang-orang yang menyanyangi lo, kedua Abang lo dan juga Tante Sarah. Mereka selalu ada disisi lo tanpa perlu lo minta. Gue tahu lo orang yang hebat Syan, gue tahu.” Khenzie tersenyum sambil menatapku.
Aku menarik tanganku dari genggaman Khenzie.
“Jalan, Khen.” Aku meminta Khenzie untuk kembali melaju.
__ADS_1
“Gue mau pulang.” Lanjutku, menyandarkan punggungku di kursi mobil Khenzie.
Di rumah, aku langsung menuju dapur. Aku membuka lemari makanan tapi tidak menemukan makanan yang sudah dimasak, aku pun membuka lemari penyimpanan makanan lalu mengambil dua bungkus mie instan. Aku menyalakan kompor gas, merebus air di dalam panci kecil, begitu airnya mendidih aku langsung merendam mie instan, setelah matang, aku menuangkan mie instan yang sudah ditiriskan ke dalam piring kemudian membubuhkan bumbunya, aku meletakkan piring berisi mie instan di meja makan, aku langsung melahap mie instan yang aku masak, seperti orang yang kelaparan. Rasa laparku tidak menghilang hanya dengan dua bungkus mie instan, aku kemudian mengambil susu full cream dan roti yang Mama simpan di dalam kulkas lalu memakannya, saat menuangkan susu full cream ke dalam gelas tanpa sadar aku membuat susu itu melewati gelas semuanya terjadi akibat tanganku yang terus bergetar.
“Syana! Kamu kenapa?” tanya Mama, yang baru saja duduk di sampingku.
Mama terlihat terkejut melihat aku seperti orang yang sedang kelaparan.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Mama karena mulutku yang penuh dengan roti.
“Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Mama, memegang tanganku.
Pertanyaan Mama membuat air mata berkumpul di kelopak mataku, aku menangis tersedu sambil memakan roti yang masih ada di dalam mulutku. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil menatap mata Mama, Mama memelukku dengan sangat erat, aku menangis sejadi-jadinya di dalam pelukkan Mama.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Mama, sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Kamu kenapa? Bilang sama Mama.” Mama menyeka air mataku.
“Syana nggak tahu Ma, dada Syana terasa sangat sesak. Syana terus makan tapi perut Syana rasanya semakin kosong, semuanya terasa perih sekarang.” Aku memukul dadaku sambil menatap mata Mama, dengan air mata yang tak terbendung.
Mama mengambil handphone yang ada di saku bajuku, Mama mencari-cari sesuatu di handphoneku.
“Halo, Bang. Kamu ke rumah sekarang, tolong bilang Arsa juga.” Mama menelpon Bang Aksa.
“Kenapa, Ma? Mama baik-baik aja kan?” suara Bang Aksa terdengar khawatir.
“Kesini sekarang.” Mama langsung mengakhiri panggilannya dengan Bang Aksa.
Mama menatapku dengan tatapan pilu.
“Kamu kenapa sih, Syan? Tenang dulu ya, cerita semuanya sama Mama pelan-pelan.” Mama menggenggam tanganku erat.
Mataku berlinang menatap Mama, mulutku rasanya tidak bisa terbuka sedikit pun, aku tidak bisa menceritakan semuanya pada Mama, aku takut kekecewaan Mama melebihi rasa kecewa yang aku rasakan saat ini.
__ADS_1