KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 2 Bertamu


__ADS_3

Selesai minum, sebelum menjawab pertanyaanku Mama terlebih dahulu menaruh gelasnya ke meja makan.


" Khawatir kenapa?"Mama balik bertanya, Mama terlihat penasaran dengan alasan dari pertanyaan yang aku ajukan padanya.


" Yah... kan usia mereka udah 25 tahun lebih, masa blom punya pacar sih? Kalah sama Adiknya."


Mama tersenyum begitu mendengar perkataan ku.


" Syana, mau mereka blom punya pacar atau udah punya pun itu bukan urusan Mama. Mama nggak mau ikut campur sama keputusan mereka mengenai hal seperti itu, kamu tahu kenapa?" Mama mengajukan pertanyaan kepadaku.


Aku menggelengkan kepalaku, menatap wajah Mama dengan serius.


" Karena Mama percaya kalau Bang Arsa dan Bang Aksa yang jauh lebih tahu tentang keputusan terbaik menurut mereka untuk menikah di usia berapa, lagian kamu tahu sendiri kan, kedua Abang kamu itu nggak mau pacaran.... mereka maunya langsung menikah." Mama menjelaskan padaku dengan nada bicara yang begitu lembut.


Aku mengangkat alis kananku, sedikit memiringkan kepalaku.


" Gimana mau nikah kalo nggak punya pacar? Kan bisa"


Mama tersenyum menatapku, ia memegang tanganku.


"Dalam agama kita itu ada metode yang di namakan ta'aruf, dimana kita bisa mengenal calon istri kita lewat pelantara atau orang yang dipercayai. Ta'aruf bukan hanya metode pengenalan satu sama lain tapi juga berkaitan langsung dengan keyakinan hati untuk menjemput pasangan halal kamu dengan cara yang di sukai oleh Allah SWT." Jelas Mama padaku.


" Gimana kalau ternyata orang itu memalsukan jati dirinya?" aku bertanya karena penasaran.


"Itu adalah urusannya dengan Allah, di samping perkenalan itu, kita juga harus berdo'a agar di tetapkan hati kalau memang dia yang terbaik untuk kita menurut Allah. Ta'aruf nggak selamanya lancar, ada juga yang tidak berhasil karena mungkin memang bukan jodohnya."


Aku menganggukkan kepalaku, mencoba memahami penjelasan dari Mama mengenai metode ta'aruf yang Mama katakan.


" Nanti juga kamu tahu mana yang terbaik buat kamu, yang jelas ta'aruf itu cara terbaik menekan hawa nafsu dan menghindari diri dari perbuatan yang dimurkai oleh Allah."


"Iya, Ma."


Aku membawa piring-piring kotor ke bak mencuci piring lalu mencucinya, selesai mencuci piring aku kembali ke kamarku.


" Sebentar... sebentar." Aku bergumam sembari menutup pintu kamar.


" Hari ini kan anniversary gue sama Brooklyn.... gue mau pake baju apa ya?" aku bertanya pada diri sendiri sembari melangkah menuju lemari pakaian.


Aku membuka lemari pakaian kemudian melihat dengan seksama deretan baju-baju yang tergantung di lemari, sembari memikirkan mengenai baju apa yang harus aku kenakan saat Brooklyn bertamu ke rumah untuk pertama kalinya setelah kami berpacaran selama 4 tahun.


Cukup lama aku menatap pakaian-pakaian yang ada di dalam lemari, aku pun akhirnya menjatuhkan pilihanku pada dress putih yang ada di depan mataku.


Dress, yups! Gue hari terlihat feminim hari ini.β€œ Gumam ku, sembari mengeluarkan dress dengan model V-neck setengah lengan.

__ADS_1



Sc πŸ“·: Pinterest


Aku meletakkan dress itu ke ranjang lalu bergegas mandi. Selesai mandi dan memakai dress, aku mulai berdandan, dari merawat rambut dengan segala rangkaian yang biasanya aku gunakan sebelum menyatok rambutku. Saat aku sedang memakai lipstik, ponsel ku berbunyi.


β€œ Notifikasi apa nih, ntar di phpin lagi sama operator.β€œ Gumam ku, sembari beranjak dari depan meja rias untuk mengambil ponselku yang aku letakkan di atas kasur.


Rupanya itu chat dari Brooklyn.


β€œ Sayang, aku udah mau nyampe rumah kamu nihβ€œ kata Brooklyn, melalui aplikasi chat.


β€œ Oke, aku tunggu di depan pagar ya β€œ kataku, membalas chat dari Brooklyn.


Aku pun kembali ke meja rias untuk merapikan lipstik di bibirku, kemudian mengambil cincin dan gelang yang akan aku kenakan agar tampilanku tidak membosankan.


β€œ Untung gue udah siap.β€œ Gumam ku, kemudian bergegas turun ke bawah untuk menunggu Brooklyn di depan pagar.


Setelah di depan pagar aku pun menelpon Brooklyn, untuk memastikan dia sudah ada di mana.


...As Brooklyn...



Sc πŸ“·: Pinterest


β€œ Aku udah masuk komplek perumahan kamu ni.” Jawab Brooklyn.


β€œ Oh udah dekat, yaudah kalau gitu aku matiin telponnya ya.”


β€œ Iya, dah.”


Aku pun mengakhiri panggilanku pada Brooklyn. Lima menit berlalu, Brooklyn pun akhirnya datang, ia berhenti tepat di depanku lalu membuka kaca mobilnya, ia memandangiku cukup lama dari dalam mobilnya.


β€œ Pacarnya siapa sih? Cantik banget.” kata Brooklyn, mencoba menggoda ku lalu ia turun dari mobilnya.


Aku tersenyum malu, melihat Brooklyn yang tampak berbeda hari ini. Brooklyn dengan potongan rambut belah tengah yang bervolume dan ia biarkan sedikit berantakan, katanya sih dia meniru gaya rambut aktor korea yang menjadi favoritnya belakang ini yaitu, Park Bo Gum.


Brooklyn mengenakan T-shirt oversized cuban yang dipadu-padankan dengan tartan pants, style ini nampak sangat menawan di kulit Brooklyn yang eksotis, warna kulit Brooklyn yang kuning langsat, Brooklyn semakin menawan dengan style yang dia pilih.


β€œSayang, cakep banget!β€œ kataku, yang takjub melihat Brooklyn yang kini berdiri di depanku.


Brooklyn merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar, lalu berkata: β€œSini peluk.”

__ADS_1


Aku memeluk Brooklyn.


β€œHappy anniversary, sayang. Makasih udah mau nerima aku yang banyak kekurangannya ini.” Tutur Brooklyn pada ku, lalu mencium rambutku.


β€œ Untung udah keramas.” Aku bergumam dalam hati saat Brooklyn mencium rambutku.


β€œ Makasih juga karena kamu sudah bersedia menemani aku di setiap keadaan yang aku jalani.β€œ Aku membalas ungkapan Brooklyn, sambil mendonggakkan wajahku agar bisa menatap wajah Brooklyn.


Brooklyn tersenyum memandangi wajahku, kemudian perlahan wajahnya mulai mendekati wajahku, hal itu membuat jantungku seketika berdebar, saat wajah Brooklyn sudah sangat dekat dengan wajahku tiba-tiba saja badan Brooklyn tertarik ke belakang membuat pelukkannya terlepas. Aku membuka mataku, begitu merasa ada sesuatu yang aneh.


β€œ Mau ngapain?!” tanya seseorang yang berada belakang badan Brooklyn, suaranya terdengar sangat familiar di telingaku.


Aku pun mengintip ke badan belakang Brooklyn, aku hanya bisa melihat jas berwarna putih yang orang itu kenakan, lalu orang itu berdiri di sebelah kanan Brooklyn dan ternyata orang yang menarik baju Brooklyn adalah Bang Aksa yang entah sejak kapan ada disana.


β€œ Bang Aksa!β€œ teriakku, yang terkejut begitu Bang Aksa berdiri di sebelah Brooklyn dengan wajah yang serius dia menatapku.


β€œ Iya ini Bang Aksa, baru liat kamu ya? Dari tadi Abang klakson-klakson minta dibukain pagar, Syana nggak denger malah asyik berduaan.” Kata Bang Aksa, menggerutu.


β€œ Maaf Bang.” Kataku, pelan.


Aku merasa malu karena hampir saja Bang Aksa melihat aku berciuman dengan Brooklyn, aku tidak habis pikir bagaiman malunya aku jika hal itu benar-benar terjadi.


β€œ Lagian ngapain sih kalian ini? Ingat, sekolah dulu yang bener!” Bang Aksa mengingatkan kepada aku dan Brooklyn untuk tidak melakukan hal-hal yang macam-macam.


β€œ Iya Bang, maaf.” Aku meminta maaf sambil menundukkan kepalaku karena malu.


Bang Aksa pun membuka pagar rumah, ia kemudian menyalakan mobilnya dan saat hendak memasukki mobilnya ke dalam garasi rumah Bang Aksa memencet klakson mobilnya meminta aku dan Brooklyn untuk menjauh dari depan pagar rumah. Setelah memasukkan mobilnya ke garasi, Bang Aksa kembali mendekati kami, ia melihatku dengan seksama, ia melepaskan jas dokternya.


β€œ Kenapa kamu pake baju kayak gini sih, Ya Allah Syana.... leher kemana-kemana gini. Astagfirullah.” Pungkas Bang Aksa, sembari menutupi baju bagian depanku dengan memakaikan jas dokter miliknya padaku.


Bang Aksa menarik tanganku masuk ke dalam rumah, aku hanya mengikuti Bang Aksa sambil melirik Brooklyn yang hanya terpaku di tempatnya berdiri.


β€œ Oy! Sini masuk.” Bang Aksa meminta Brooklyn untuk mengikuti kami.


β€œLyn.” Aku memanggil Brooklyn, dengan perasaan canggung.


Brooklyn pun mengikuti kami masuk ke dalam rumah, kami duduk di ruang tamu.


β€œ Sayang, sorry ya.” Bisikku pada Brooklyn, yang duduk di sampingku.


β€œ Iya nggak apa-apa kok, aku ngerti β€œ tutur Brooklyn, memegang tanganku.


Aku tersenyum menatap Brooklyn.

__ADS_1


__ADS_2