
Di toilet, aku masih mendengar suara air yang mengalir dari dalam, sepertinya Elina masih membersihkan tubuhnya. Aku mencuci tanganku dengan sabun pencuci tangan yang ada di wastafel sambil memperbaiki rambutku yang lepek.
“Syan.” Elina memanggilku, ketika keluar.
Aku melihat Elina, yang berdiri di belakangku dari kaca yang ada di depanku. Aku mengambil tisu untuk mengeringkan tanganku, kemudian memberikan jaket osis milik Sheila kepada Elina.
“Pake, baju lo basah tuh.” ucapku, sambil menyodorkan jaket osis itu ke hadapan Elina.
Elina menatapku, lalu mengambil jaket osis milik Sheila dari tanganku dan memakainya.
“Makasih, Syan.” Elina tersenyum canggung.
“Sama-sama.”
Elina menatap mataku dengan tatapan lirih, ia sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.
“Kenapa lo diam aja waktu Lyly dan yang lainnya nyerang lo?” tanyaku pada Elina, Elina mencubit ujung jemarinya.
Elina tidak menjawab pertanyaan ku, ia hanya terpaku dan membisu.
“Lo liat tisu ini.” Aku meminta Elina untuk melihat tisu yang sedang aku pegang, tisu yang tadi aku gunakan untuk mengelap tanganku yang basah.
Begitu Elina melihat tisu di tanganku, aku kemudian membuangnya di kotak sampah yang ada di sudut toilet tanpa bergerak sedikit pun dan tisu itu tepat mengenai kotak sampah yang terbuka, lemparan ku tepat sasaran.
“Lo nggak mau kan jadi tisu itu? Yang dibuang begitu aja ketika sudah digunakan, lo harus bisa ngelawan mereka yang nginjek-nginjek lo, kasih tahu mereka kalo lo bukan tisu yang bisa mereka buang begitu aja. Elina yang gue kenal nggak selemah ini, lo harus cari tahu siapa yang udah berbuat kayak gini sama lo, lo harus cari dan membalas perbuatan orang itu. Jangan diam aja kayak gini, El!” pungkas ku pada Elina, untuk sepersekian detik Elina menatapku dengan tatapan lirih kemudian tertunduk.
“Gue pantes dapetin ini semua, Syan. Gue adalah orang yang udah jahat sama lo dan keluarga lo, gue nggak harus membalas perbuatan siapapun. Ini karma gue.” Ucap Elina, lirih.
Aku menghela napas berat lalu menatap Elina dengan lekat. Aku mendekati Elina dan memegang tangannya, sorot mataku menatap mata Elina dengan tatapan serius.
“Liat gue, El.” Aku meminta Elina menatap mataku, Elina yang semula menundukkan kepalanya kini menatap mataku dengan tatapan lirih.
__ADS_1
“Dalam masalah ini, lupain tentang hukum karma. Ini bukan tentang itu, ini tentang harga diri lo yang dihancurkan oleh orang itu. Cari orang itu dan lawan! Itu perintah dari gue buat lo.” Aku berusaha menyakinkan Elina untuk melawan orang yang sudah melakukan pelecehan seksual dan menyebarkan vidio serta foto Elina tanpa busana.
“Setelah apa yang gue lakuin sama lo dan keluarga lo, kenapa lo masih bisa bersikap baik sama gue?” mata Elina terlihat berkaca-kaca menatapku.
Aku melepas pengangan tanganku dari tangan Elina.
“Gue masih benci elo, gue nggak akan pernah bisa lupain perbuatan lo sama gue dan keluarga gue. Tapi, apa yang lo alami sekarang adalah tentang kemanusiaan, tentang harga diri dan gue benci saat melihat orang menginjak-injak harga diri orang lain.”
“Jadi, cari dan lawan orang itu. Kalo lo butuh bantuan, lo bisa hubungin gue.” aku berusaha meyakinkan Elina kalau aku akan mendukung kasusnya.
Aku menepuk-nepuk pundak Elina sambil tersenyum menatapnya kemudian berlalu meninggalkan Elina.
“Gue udah putus sama Bokap lo.” Elina mengatakan hal itu tepat ketika aku hendak melewati pintu toilet, membuatku berhenti melangkah tapi tatapanku tetap lurus ke depan, aku tidak menoleh ke belakang sedikitpun.
Saat mendengar hal itu sejujurnya aku sempat merasa bahagia, seolah aku bisa merasakan darah yang mengalir dalam tubuhku, tapi di sisi lain, aku tahu bahwa kebahagiaan itu sudah tidak berarti lagi sekarang, semuanya sudah terlambat dan sia-sia.
“Lo harus maafin Bokap lo, Syan. Dia nggak salah, gue yang udah merayu dia. Dia selalu nangis tiap malam sambil ngeliat foto elo yang digendong dia saat lo di taman bermain, ketika lo kecil. Bagaimanapun dia adalah Papa lo, orang yang sudah berperan penting buat hidup lo, lo harus bisa maafin dia.” Lanjut Elina, yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup begitu mendengar perkataannya.
“Nasehat itu nggak pantes keluar dari mulut orang yang sudah menyebabkan hal itu terjadi.” Kataku, melihat sedikit ke belakang sambil melihat Elina dari ekor mataku.
“Gue tahu, gue yang udah menyebabkan hubungan kalian retak tapi Mas Herlan butuh lo sekarang, Syan.”
Mataku bergetar tapi aku tidak mau Elina mataku yang sedang berkilau sekarang, aku memilih untuk mengabaikan perkataan Elina dan berlalu meninggalkan Elina seorang diri di toilet.
Di kelas, aku merenungkan kembali perkataan Elina. Aku menatap handphoneku, yang aku letakkan di atas meja, aku berulang kali berpikir untuk menelpon Papa tapi ego dalam diriku terus menahan agar aku tidak menghubungi Papa.
“Woi, ngelamun apaan?” tanya Khenzie, melambai-lambai tangannya di depan wajahku hanya untuk menyadarkan lamunanku.
Aku melihat Khenzie, yang duduk di kursi depan mejaku, dia menghadap ke arahku.
“Elina udah putus sama Papa.” Aku menjawab pertanyaan Khenzie, dengan suara pelan.
__ADS_1
“Bagus dong, terus kenapa lo murung gitu?” Khenzie heran melihat mimik mukaku yang terlihat murung.
“Gue bingung, apa ini saat yang tepat buat gue berdamai sama Papa.”
Khenzie menatap mataku dengan serius, ia mengangguk ragu sambil membentangkan lurus bibirnya.
“Mungkin ini saatnya, tapi Syan. Lo harus pastiin dulu, apakah lo sudah bisa menerima dengan seutuhnya tentang perselingkuhan Papa lo dan Elina atau enggak. Jangan sampai suatu saat emosi lo keluar lagi karena lo belum sepenuhnya memaafkan perselingkuhan itu, tanya sama diri lo sendiri dan jawabannya akan lo temui saat lo bisa berpikir dengan kepala dingin.”
"Pelan-pelan, gue yakin hubungan lo sama On Herlan bakalan baik lagi kayak dulu." lanjut Khenzie, sambil tersenyum menatap mataku.
Sepulang sekolah, Khenzie mengajakku untuk mengunjungi store es krim miliknya.
“Mau es krim, nggak?” tanya Khenzie padaku, sambil memakai jaket seragam store-nya.
“Boleh, rasa cokelat ya.”
Khenzie tersenyum dengan anggukan pelan kemudian membuatkan es krim untukku.
“Udah lama gue nggak kesini.” Ucapku, sambil melihat store es krim milik Khenzie.
Khenzie memberikan es krim yang dibuatkan padaku.
“Duduk, Syan.” Khenzie memintaku duduk di kursi karyawannya, yang berada tepa di belakang meja kasir.
Aku pun duduk, sambil menikmati es krim yang Khenzie berikan.
“Syan, tolong tunggu store gue bentar ya.” Khenzie memegang perutnya.
“Hah? Nggak, gue nggak bisa.”
“Syan, lo udah sering beli es krim di sini dan udah sering ngeliat cara gue nyiapin es krim buat pembeli. Please, gue mau pup ni.” Wajah Khenzie, berkeringat.
__ADS_1