KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 44 Jangan Egois


__ADS_3

Di rumah, aku langsung masuk ke kamar. aku bahkan tidak mengganti pakaianku dan langsung tidur.


“Syan, bangun.” Aku mendengar suara Bang Arsa, ia membangunkan aku sambil menggoyang-goyangkan tanganku.


Aku membuka mataku, pelan-pelan sambil merenggangkan tubuhku yang terasa pegal karena tertidur dalam keadaan meringkuk.


“Jam berapa, Bang?” tanyaku pada Bang Arsa, sambil menguap.


Bang Arsa sepertinya jengkel melihat aku yang bertanya sambil menguap, itu terlihat jelas di raut wajahnya.


“17.47” Bang Arsa menjawab sambil berlalu.


“Bang Arsa! Kenapa baru bangunin sekarang sih?! Syana kan belom mandi.” Pekikku pada Bang Arsa yang sudah berlalu.


Aku beranjak dari tempat tidur dan buru-buru untuk mandi. Aku mendengar suara adzan saat aku sedang memakai shampoo.


“Yaelah, telat terus gue sholat magrhib.” Gumamku, dalam hati.


Aku buru-buru membilas rambutku. Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, aku langsung bergegas menuju mushola yang ada di dalam rumah lalu mengambil wudhu. Aku masuk ke mushola dan melihat Papa yang sedang mengimami Mama dan Bang Arsa untuk sholat magrhib berjama’ah.


“Gue sholat sendiri aja.” aku membentangkan sejadah di belakang Mama dan sholat sendiri.


Selesai sholat, semua orang ternyata menungguku di ruang keluarga. Aku hanya melirik dan terus berjalan melewati mereka, bahkan saat Papa memanggilku aku mengabaikannya.


“Syan, sini bentar.” Bang Arsa memintaku untuk mendekati mereka, aku mengikuti Bang Arsa lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Papa dan Mama sementara Bang Arsa duduk di sampingku.


“Ada apa lagi ini?” tanya Bang Arsa, melihat aku dan Papa.

__ADS_1


“Tadi Syana ngeliat Papa jalan sama pacar baru nya, mereka beli es krim di storenya Khenzie. Lagi pula, kenapa harus store es krimnya Khenzie sih? Kan banyak store es krim di dunia ini!” Aku menjawab pertanyaan Bang Arsa, sambil sesekali melirik Papa yang sejak tadi menatapku.


“Bener,Pa? Bener apa yang Syana omongin?” Bang Arsa bertanya pada Papa untuk memastikan kebenaran jawabanku.


Papa tak bersuara, ia menatap mataku dengan tatapan penuh arti.


“Iya, Bang. Bang Arsa kok nggak percaya sama aku sih?!” aku kesal pada Bang Arsa yang terkesan tak mempercayai perkataanku.


“Bang Arsa nggak nanya sama kamu, Bang Arsa nanya sama Papa.”


“Bang!”


“Diem!” Bang Arsa membentak ku, memintaku untuk diam, membuatku sangat terkejut.


“Jawab, Pa... Kenapa diam aja?” Bang Arsa meminta Papa untuk menjawab pertanyaannya.


Papa menghela napas panjang lalu mengangguk pelan, mengiyakan perkataan ku. Bang Arsa mendongakkan kepalanya untuk sepersekian detik lalu menatap Papa dengan mata yang berkaca-kaca.


“Papa boleh pacaran sama siapa aja, kami nggak akan pernah melarang lagi. Tapi, Arsa minta Papa pergi jauh dari kota ini.... Sejauh mungkin sampai kami nggak bisa ngeliat bayangan Papa lagi, Arsa nggak mau ngeliat Syana sedih karena ulah Papa.” Lanjut Bang Arsa, suaranya bergetar.


“Papa nggak bisa, Papa harus menjalankan perusahaan.” Papa tidak mau mengikuti permintaan Bang Arsa dengan alasan mau menjalankan perusahaan yang notabenenya adalah milik Mama.


Bang Arsa terdiam sejenak, ia melihat Mama untuk sepersekian detik kemudian kembali membuka mulutnya.


“Arsa yang bakal gantiin Papa di perusahaan, Arsa yakin Alm. Kakek setuju dengan keputusan ini.” Bang Arsa berniat untuk menjalankan perusahaan Alm. Kakek, aku senang mendengar keputusan Bang Arsa.


“Kamu pikir ngejalanin perusahaan itu sama kayak kamu  mengelola bisnis restoran kamu? Nggak, Sa. Perusahaan Alm. Kakek kamu itu jauh lebih besar dari bisnis makanan kamu.” Nada bicara Papa terdengar seperti meremehkan Bang Arsa.

__ADS_1


Bang Arsa melemparkan senyuman pada Papa.


“Arsa sudah belajar banyak tentang caranya mengolah bisnis dan Arsa juga belajar dari Alm. Kakek langsung tentang bisnis, apalagi mentor bisnis Arsa adalah rekan bisnis serta mentor Alm. Kakek ketika beliau masih hidup. Jadi, ilmu yang Arsa serap kurang lebih hampir sama dengan ilmu bisnis yang Alm. Kakek punya.”


“Kamu hanya belajar teorinya, bukan praktek di lapangan.” Papa terus mendorong Bang Arsa mengurungkan niatnya menjalankan perusahaan Alm. Kakek


“Mama setuju, Mama setuju kalau perusahaan dikelola oleh Arsa.” Mama membuka suara, begitu Bang Arsa ingin kembali menyuarakan pendapatnya.


“Tapi, Sar...”


“Restoran Arsa sekarang sedang dalam tahap menjadi waralaba, melihat cara Arsa mengembangkan bisnisnya membuat saya yakin kalau dia bisa menjalankan perusahaan Papa dengan lebih baik dan saya tidak mau orang asing yang memegang kendali atas perusahaan milik saya.” ucap Mama, melihat wajah Papa dengan tatapan serius.


Papa terlihat kesal, ia kalah telak. Papa pun beranjak dari sofa kemudian berlalu meninggalkan rumah, ia menginjak habis gas mobil nya hingga suara mobilnya yang melaju kencang terdengar dari dalam rumah.


“Kenapa?” tanya Bang Arsa padaku, disertai tatapan sendu.


“Bang Arsa ternyata ganteng banget, ya.” Kataku, menggoda Bang Arsa sambil tersenyum manis menatap wajahnya.


Bang Arsa yang semula terlihat sendu sekarang memasang wajah datarnya begitu mendengar perkataanku, ia kemudian menempelkan telepak tanganya di wajahku. Aku mencengkram tangannya lalu menyingkirkan tangan Bang Arsa dari wajahku.


“Nyebelin sih lo.” Kata Bang Arsa padaku.


Aku kembali menatapnya sambil tersenyum lebar.


“Ganteng banget.” Aku menggoda Bang Arsa, lagi.


Bang Arsa beranjak sambil menatap wajahku dengan raut wajah yang datar.

__ADS_1


“I love you, Bang Arsa.” Pekikku pada Bang Arsa, yang sedang menaikki tangga.


Bang Arsa hanya memberi respon dengan gelengan kepala pelan.


__ADS_2