
Di lantai dua, bernuansa abu-abu, dengan desain minimalis berwarna, sprei kasur berwarna hitam garis-garis, di atas laci yang ada di samping ranjang terlihat dua bingkai foto yang berukuran 8X8 CM, satu foto adalah foto keluargaku dan satunya lagi fotoku bersama pacarku, di foto itu aku tersenyum lebar menatap mata pacarku .
Dari jendela terlihat sinar matahari menyapa, jendela yang tertutupi oleh tirai berwarna putih itu sedikit transparan. Aku tertidur lelap, sampai terdengar sayup-sayup suara dari luar kamar yang mencoba membangunkan aku.
"Dek, bangun udah siang." Sayup-sayup aku mendengar suara Mama, yang mengetuk pintu kamarku.
Aku pun memaksa mataku untuk terbuka dan mengusap-usapnya, aku menyingkap selimut yang menutupi tubuhku kemudian beranjak untuk membuka pintu kamar.
"Selamat Pagi, Ma." Aku menyapa Mama, dengan mata yang setengah mengantuk, aku sengaja menempelkan pipi ku di pintu.
"Kita sarapan, yuk. Kamu mandi dulu sana."
"Iya, nanti Syana ke bawah ya." Aku mengiyakan ajakkan Mama untuk sarapan bersama, mataku masih enggan untuk terbuka dengan sempurna.
"Jangan lama, udah ditungguin Bang Arsa tuh." Mama berlalu dan turun ke bawah.
Aku pun merenggangkan tubuhku, sedikit melemaskan otot-otot ku sebelum memulai aktivitas hari ini, berhubung hari ini adalah hari minggu rasanya badanku tidak ingin beranjak dari kasur. Setelah membersihkan wajah dan menggosok gigi, aku pun turun ke bawah untuk ikut sarapan bersama dengan yang lainnya.
"Selamat pagi!" aku menyapa Bang Arsa dan Mama yang duduk di meja makan.
"Pagi jelek!" Bang Arsa balik menyapa sekaligus nampaknya ingin memulai perkelahian, ia tersenyum lalu melahap nasi gorengnya.
Aku menarik kursi yang ada di samping Bang Arsa, kemudian duduk di sampingnya, di hadapanku sudah tersedia nasi goreng dengan acar yang sudah di siapkan di dalam piring berwarna putih.
"Ini nasi goreng masakannya Bang Arsa, ya?" aku bertanya pada Bang Arsa, sambil menyendok nasi goreng itu.
Bang Arsa tersenyum menampilkan deretan giginya kemudian menaikkan alisnya turun-naik, seolah sedang membanggakan dirinya sendiri.
"Iyalah." Bang Arsa menjawab pertanyaan ku dengan singkat.
Aku pun tersenyum, aku berpikir kalau seru jika menjahili Bang Arsa, aku menggeserkan kursi agar lebih dekat dengan Bang Arsa lalu mencium pipi Bang Arsa.
"Ih Apaan sih?! " Bang Arsa mengelap pipinya yang baru saja aku cium, ia terlihat risih.
Aku tertawa puas karena berhasil membuat Bang Arsa kesal.
"Makasih lo udah dibuatin nasi goreng seenggak enak ini." Kataku, bergurau.
"Enak aja! sekedar informasi nih ya, banyak banget yang ngantri buat makan nasi goreng Abang kamu ini." Bang Arsa menyombongkan diri.
"Ehm.... gitu toh." Aku bersikap seolah tak peduli dengan informasi yang baru saja di sampaikan oleh Bang Arsa, kemudian aku melahap nasi goreng yang di masak oleh Bang Arsa.
"Oh iya Ma... nanti siang Brooklyn mau ke rumah, boleh ya?" aku meminta izin kepada Mama agar mengizinkan Brooklyn untuk bertamu di rumah siang ini.
"Nggak boleh! " sahut Bang Arsa, membuat Mama menutup kembali mulutnya padahal dia hendak menjawab pertanyaanku.
Aku menatap Bang Arsa dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Apaan sih Bang Arsa! Orang Syana nanya sama Mama, nyamber aja kerjaannya." aku melirik Bang Aksa dengan kesal.
"Nggak boleh, pokoknya nggak boleh! Abang nggak suka ya sama pacar kamu itu." pungkas Bang Arsa, yang membuatku semakin jengkel di buatnya.
Aku mengacukan Bang Arsa.
"Boleh nggak, Ma?" aku kembali bertanya pada Mama.
"Bo.... "
"Nggak boleh!"
Bang Arsa menyela perkataan Mama, aku menghela napas kesal, aku menggigit gigiku, menatap Bang Arsa dengan tatapan tajam.
"Apaan sih Bang! Brooklyn baik kok anaknya, kenapa sih nggak suka sama dia?" aku bertanya sambil mencondongkan wajahku ke wajah Bang Arsa.
Bang Arsa mendorong wajahku dengan telunjuknya, untuk menjauh darinya.
"Abang tahu dari tatapan matanya, Abang tahu dia bukan anak baik-baik... asal kamu tahu ya, Bang Aksa juga pernah bilang kalo dia nggak suka kamu deket-deket sama Beruk itu." Bang Arsa menjelaskan kenapa dia tidak menyukai Brooklyn serta melibatkan Bang Aksa dalam penjelasannya, meskipun penjelasannya tidak detail.
"Namanya Brooklyn, ya. Bukan beruk!" Protes ku.
"Iya, itu."
"Bohong! Bang Aksa aja nggak pernah bilang, dia kan sibuk sama pasien-pasiennya." Aku menyangkal perkataan Bang Arsa yang mengatakan bahwa Bang Aksa juga tidak suka dengan Brooklyn.
"Gitu tuh, kalo omongannya nggak di dengerin pasti ujung-ujungnya pergi." Kataku, melirik Bang Arsa yang sedang menaikki tangga menuju kamarnya yang berada di sebelah kamarku.
Kamarku diapit oleh Kamar Bang Arsa dan Bang Aksa.
"Suka-suka aku, dong." Ketus Bang Arsa, melengos.
"Dasar es batu!" balasku, kesal.
Aku beranjak dan duduk di samping Mama.
" Ma, boleh kan? " aku kembali meminta izin kepada Mama agar Brooklyn bisa datang ke rumah hari ini, sambil memegang tangan Mama.
"Pacar kamu mau ngapain kesini, main aja? " Mama balik bertanya padaku.
"Nggak main doang, sih. Rencananya kami mau ngerayain Anniversary yang ke-4 tahun." Aku menjawab pertanyaan Mama sembari tersenyum malu.
Mama menatap mataku.
“Yasudah boleh tapi ingat ya, nggak boleh macem-macem! Syana harus bisa jaga diri ya.“
Aku tersenyum senang begitu mendengar bahwa Mama membolehkan Brooklyn untuk datang ke rumah, aku pun memeluk Mama dari samping.
__ADS_1
“Makasih, Mama ku tersayang “ bisikku, sambil mencium pipi Mama.
“Kamu harus ingat kalau di dalam rumah ini ada banyak sekali cctv nya “ kata Bang Arsa, yang baru saja turun dan dia sudah siap untuk pergi ke restoran miliknya.
Aku pun melepaskan pelukanku dari Mama, menatap serius wajah Bang Arsa.
“Iya, Syana sama Brooklyn nggak pernah ngapa-ngapain kok. Syana sama Brooklyn mah pacarannya sehat, nggak macem-macem.” Jelas ku pada Bang Arsa.
Bang Arsa tersenyum simpul, menatap wajahku.
“Pacaran sehat? Sejak kapan ada pacaran sehat? Emangnya kalian berdua sayuran? Dasar anak kecil." Kata Bang Arsa padaku, lalu mencium tangan Mama.
Bang Arsa menatap wajahku dengan tatapan yang serius.
“Nggak ada yang namanya pacaran sehat, pacaran itu kerjaannya panen dosa nggak ada sehat-sehatnya “. Lanjut Bang Arsa, yang selalu mengulangi perkataannya dari tahun-tahun ke tahun.
“Iya,iya, iya Ustad.” Aku berkata pelan sembari mencium tangan Bang Arsa.
Bang Arsa menatapku dengan tatapan serius, sementara aku tersenyum lebar di depannya sembari mengedipkan mataku.
“Udah sana jalan, ntar antrian nasi gorengnya udah kepenuhan loh.” Aku bergurau sambil mempersilakan Bang Arsa untuk pergi.
Bang Arsa memicingkan matanya menatapku lalu sedikit mendorong bahu ku, membuatku mundur ke belakang.
“ Jangan menghalangi jalan dong.“ Ketus Bang Arsa.
Aku melipat bibirku yang geram dan berniat meninju kepala bagian belakang Bang Arsa.
“ Arsa berangkat ya, Ma.”
“ Iya, hati-hati ya “
Bang Arsa pun berlalu, sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dia tiba-tiba kembali melihat ke belakang sembari memberi isyarat kepada ku dengan kedua jarinya yang dia dekatkan dengan matanya kemudian menunjuk ke arahku, seolah sedang mengawasi. Melihat hal itu, aku menyilangkan tanganku di depan dada kemudian menjulurkan lidahku untuk meledek Bang Arsa.
“Ma, kayaknya kita harus cariin mereka istri deh.” Kataku pada Mama, yang sedang membereskan meja makan.
“Kenapa gitu?”
Aku membantu Mama membereskan piring-piring, yang tadi di pakai untuk sarapan.
“Mama nggak khawatir gitu sama Bang Arsa dan Bang Aksa?” aku bertanya pada Mama yang sedang menuangkan sisa susu yang ada di dalam teko ke gelas lalu Mama meminumnya.
Selesai minum, sebelum menjawab pertanyaanku Mama terlebih dahulu menaruh gelasnya ke meja makan.
“ Khawatir kenapa?”Mama balik bertanya, Mama terlihat penasaran dengan alasan dari pertanyaan yang aku ajukan padanya.
“ Yah... kan usia mereka udah 25 tahun lebih, masa blom punya pacar sih? Kalah sama Adeknya.”
__ADS_1