
Aku menatap serius wajah Brooklyn yang ada di sampingku, mata seolah sedang mencari tahu informasi mengenainya melalui raut wajahnya.
“ Kamu ini kenapa sih? Khenzie itu udah kenal sama aku dari kecil bahkan aku lebih dulu kenal sama dia dibanding kenal sama kamu, aku nggak suka ya.... aku nggak suka kamu ngelarang-larang aku buat dekat sama siapapun.” tegas ku, aku sangat kesal begitu mendengar Brooklyn melarangku untuk dekat dengan Khenzie.
“ Kamu nggak sayang sama aku? “ tanya Brooklyn, yang terkesan sangat mendadak, Brooklyn memegang tanganku.
Aku melihat mata Brooklyn yang berkilau karena genangan air matanya mulai terkumpul.
“ Aku sayang sama kamu, tapi buat ngejauhin Khenzie... aku nggak bisa.”
Air mata Brooklyn jatuh membasahi wajahnya, aku pun menyeka air matanya dengan jemariku, aku merasa tidak tega melihat Brooklyn yang menangis.
“ Kamu tenang aja, hubungan kami nggak lebih dari sekedar sahabatan.” Jelasku pada Brooklyn, sembari memegang pipinya.
Brooklyn memandangi wajahku lalu mencium telapak tanganku yang menempel dipipinya. Brooklyn memiringkan wajahnya, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, Brooklyn memegang leherku lalu mengecup bibir ku lalu memandangi mataku sejenak.
Brooklyn kembali mencium bibirku, ia menciumku cukup lama, bibir lembutnya menyentuh bibir ku dengan lembut sampai akhirnya ciuman Brooklyn mulai berbeda, aku mulai merasa Brooklyn terlalu bergairah saat menciumku.
Aku membuka mataku yang sebelumnya tertutup, seketika aku teringat perkataan Bang Aksa yang selalu dia katakan padaku untuk menjaga diriku dan tubuhku, aku mendorong badan Brooklyn agar menjauh, ciuman ya terlepas dari bibir ku.
“ Kita pulang sekarang.” Pungkasku, menjauhkan diriku dari Brooklyn, aku menatap lurus ke depan.
“ Pulang? “ tanya Brooklyn, memastikan bahwa apa yag dia dengar benar.
“Iya.” Jawabku, singkat.
“ Kita kan mau dinner di restorannya Abang kamu.” Lanjutnya
“ Pulang atau aku naik taksi?” aku terkesan sedang mengancam.
Brooklyn melihat ku sejenak, ia menghela napas dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil yang dia duduki.
“ Oke, kita pulang.” Brooklyn menyalakan mobilnya, kami pun melajukan mobilnya meninggalkan Mall.
Sesampainya di depan rumah, aku langsung turun dari mobil Brooklyn.
__ADS_1
" Hati-hati " tutur ku, melambaikan tangan pada Brooklyn yang melihat aku dari dalam mobilnya.
Brooklyn menurunkan kaca jendela mobilnya, ia sedikit menuduk untuk melihat wajahku kemudian melambaikan tangan sembari tersenyum manis padaku, lalu melaju meninggalkan rumahku.
Saat di lantai 2, kebetulan sekali Bang Aksa baru saja membuka kamarnya, iya tersenyum melihat ku, senyuman yang sepertinya menandakan bahwa dia ingin menjahili ku.
"Widih, dih, dih..."
Aku melirik Bang Aksa dengan tajam, sambil berkata. "Apa?"
" Tumben maghrib udah pulang.... nggak jadi dinner?" tanya Bang Aksa, mendekati kamar ku.
" Nggak " jawabku, datar sambil memegang gagang pintu.
" Aduh, aduh.... kayaknya lagi berantem ni, pulang-pulang muka kusut banget." tutur Bang Aksa, terus menggodaku.
Aku melirik Bang Aksa sejenak, kemudian berjalan melewati pintu kamar.
" Kamu udah sholat maghrib belom? Kalo belom, sholat dulu sana." Kata Bang Aksa, dari depan pintu kamarku yang sudah aku tutup.
" Sekarang, keburu isya Syana!"
Aku memutar bola mataku, malas lalu beranjak dari kasur kemudian membuka pintu kamar, Bang Aksa masih berdiri di depan pintu kamarku.
" Iya, iya, iya, bawel!" tutur ku, raut wajah ku datar dan sorot mataku rendah.
Aku pun berjalan menuju mushola kecil yang ada di dekat kolam renang rumah kami dan ternyata Bang Aksa mengikuti ku dari belakang.
" Ngapain sih Bang, udah sana pergi!" aku merasa risih dengan tingkah Bang Aksa yang seolah sangat senang untuk menjahiliku.
" Aku cuma mau mastiin kamu sholat atau enggak, itu doang.... takutnya malah kamu berenang bukannya sholat, kayak yang sudah-sudah." Jelas Bang Aksa, tersenyum sambil mengangkat-angkat alisnya naik-turun.
Aku tertawa dengan tatapan rendah, lalu memasang raut wajah datar.
" Kamu nggak mau mastiin...."
__ADS_1
" Mastiin apaan? " tanya ku, memotong perkataan Bang Aksa yang terdengar ragu
" Mastiin kalo kamu nggak kerasukkan gitu, soalnya dari tadi kamu beda banget." Jawab Bang Aksa, yang semakin membuat aku kesal.
Aku berbalik untuk melihat Bang Aksa yang berjalan di belakangku, Bang Aksa mengikutiku begitu aku menghentikan langkah di hadapannya.
" Syana nggak lagi kesurupan ya, Syana lagi kesel aja." ketus ku, sambil memutar bola mata dengan malas.
Bang Aksa tersenyum, aku tahu kalau dari senyumannya kali ini dia sedang ingin menjahiliku lagi.
" Jadi kalian putus ni, masa abis romantis-romantisan terus putus sih? Anak muda jaman sekarang emang aneh,ya." Tutur Bang Aksa, menggodaku.
"Iya, aneh kayak Bang Aksa." sahut ku.
"Lagian Syana sama Brooklyn nggak putus kok." Lanjut ku, memberikan penjelasan.
" Oh, kirain putus... kalo putus, Alhamdulillah dong."
" udah ya, Syana mau sholat." Aku tersenyum palsu melihat Bang Aksa.
" Iya, iya... sana sholat, biar syeitannya ilang."
"Dari tadi juga Syana mau sholat ya, Bang Aksa aja yang gangguin terus." Protes ku pada Bang Aksa.
...Epilog...
Dari balik mobil, terlihat seseorang berjalan mengendap-endap, ia mengambil handphone di tasnya, senyuman tersirat di bibirnya.
Ia bersembunyi di balik mobil berwarna hitam, ia mengatur kamera belakang handphonenya, ia mengarahkan handphonenya ke Arsyana dan Brooklyn yang sedang berciuman bibir di mobil.
Orang itu merekam Arsyana dan Brooklyn, sepanjang merekam ia tersenyum seolah berhasil mendapatkan kartu kemenangan.
Ia menyimpan kembali handphonenya setelah Brooklyn dan Arsyana berhenti berciuman, orang itu kembali bersembunyi di balik mobil.
...•|•|•...
__ADS_1
Hy guys, terima kasih sudah membaca cerita ini, aku harap ceritanya bisa dinikmati oleh kalian dan semoga ceritanya bermanfaat.