KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 32 Licik


__ADS_3

“Khenzie cinta sama lo, itu alasannya! Lo tahu kan gue udah cinta sama Khenzie sejak awal kita masuk SMA? Gue benci setiap kali lo bertingkah baik di depan gue dan Khenzie, seolah-olah elo mendukung gue padahal di belakang lo membuat Khenzie menyukai elo. Gue nggak suka ngeliat Khenzie selalu ada di sisi lo dalam keadaan apapun, sementara dia bahkan nggak pernah melihat gue sedetik pun.” Elina berkata bahwa alasannya menbenciku karena Khenzie mencintaiku.


Aku tercengang dengan pengakuan Elina, aku melihat Khenzie yang berdiri di samping, Khenzie hanya diam tak memberikan pembelaan sedikit pun.


“Nggak usah sok polos lo di depan gue, gue tahu... Lo tahu kan kalo Khenzie suka sama lo.” Ketus Elina.


“Nggak, gue sama sekali nggak tahu.” ucap ku lirih, menatap wajah Khenzie.


“Jangan percaya omongan dia, Syan.” Kata Khenzie, menunjuk wajah Elina.


Aku melirik Khenzie sejenak kemudian mendekati Elina, aku menatap mata Elina dan diam-diam memutar kakiku di tungkai kaki Elina lalu membuat Elina terjatuh ke lantai. Papa terkejut melihat Elina yang terjatuh ke lantai, Papa membantu Elina yang berteriak ke sakitan.


“Kamu ini kenapa sih? Papa nggak pernah ngajarin kamu kayak gini, ya!” Papa membentak ku, sambil membantu Elina berdiri.


Aku mendengus.


“Nggak sia-sia, ya. Papa ngebayarin aku belajar bela diri.” Tuturku, tersenyum melihat Papa.


Elina melihatku dengan tatapan kesal.


“Lemah banget sih, gue baru ngeluarin teknik dasar yang gue palajarin, lo udah jatuh dan teriak kesakitan. Kenapa? Minta perhatiaan ya?” tanya ku pada Elina.


Elina mendekati ku, kemudian menamparku dengan tamparan yang cukup keras.


“Itu pelajaran buat lo yang udah kurang ajar sama gue.” Elina mengarahkan telinjuknya tepat di depan wajahku.


Aku melirik Papa yang tidak berkutik ketika melihat aku ditampar oleh Elina.


Aku menampar Elina, kali ini dengan tamparan yang lebih keras dari sebelumnya.


“Itu pelajaran buat lo karena lo udah melibatkan Khenzie dalam permainan licik lo, jangan pernah lo jadikan Khenzie sebagai alasan dari tindakan murahan lo!” aku mengarahkan telunjukku tepat di depan wajah Elina, untuk memperingatinya.


Elina melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan, aku menarik jari telunjuk Elina yang ia arahan di depan wajahku, memutar tubuhnya ke belakang lalu mencengkram tangannya yang aku lipat ke belakang punggungnya.


“Lo pikir gue selemah itu? Hah!” bisikku di telinga Elina.

__ADS_1


Elina melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan, aku menarik jari telunjuk Elina yang ia arahan di depan wajahku, memutar tubuhnya ke belakang lalu mencengkram tangannya yang aku lipat ke belakang punggungnya.


“Lo pikir gue selemah itu? Hah!” bisikku di telinga Elina.


“Lepasin gue!” Elina memberontak.


“Lepasin Elina, Syan.” Papa memintaku melepaskan Elina, Papa hendak mendekati aku yang sedang menahan Elina.


“Jangan kesini atau Syana akan sakitin selingkuhan Papa ini.” Aku semakin kuat mencengkram tangan Elina, Elina berteriak kesakitan.


“Oke, Papa nggak akan mendekat tapi kamu lepasin Elina.” Wajah Papa terlihat begitu khawatir melihat Elina yang berteriak kesakitan, kepedulian Papa pada Elina membuatku terluka.


“Harusnya Brooklyn berhasil menjalankan rencananya, kalo dia berhasil gue yakin lo nggak akan berani menampakkan wajah lo lagi di depan semua orang.” Kata Elina, wajah Elina merah karena aku menekan lehernya.


“Gue, gue yang udah ngasih Brooklyn ide memperkosa elo dan memberinya gunting.” tutur Elina, yang masih bisa tersenyum.


Mataku terbuka lebar begitu mendengar pengakuan Elina, aku tidak habis pikir, Elina yang merencanakan semua yang terjadi padaku di Taman Cinta hari itu, ia sengaja bekerja sama dengan Brooklyn untuk membalaskan dendamnya padaku.


Aku semakin kuat menekan leher Elina dengan tanganku, membuat Elina terbatuk-batuk.


Tatapanku tiba-tiba kosong, otakku seolah berhenti berkerja. Elina batuk-batuk, ia memegangi lehernya yang merah aku perlakuan ku.


“Nggak waras lo, ya!” bentak Elina, dengan sisa-sisa energi yang dia miliki.


Aku menatap wajah Elina dengan tatapan datar.


“Gue nggak abis pikir sama lo.” Aku menarik rambut Elina.


“Lo benar-benar iblis! Brengsek!” pekikku, sambil menarik rambut Elina.


Papa berusaha melepaskan tarikan tanganku pada rambut Elina tapi tidak bisa, Emosiku benar-benar bergumpal di tanganku.


“Syan, lo harus bisa ngendaliin emosi lo. Syana, lo bisa ngebunuh dia!” pungkas Khenzie, yang menarik-narik tanganku.


Elina terus merintih kesakitan.

__ADS_1


“Rasa sakit lo saat ini nggak sebanding dengan apa yang lo lakuin ke gue, brengsek!” aku terus menarik-narik rambut Elina.


“Syana!” Papa meneriakki namaku sambil menampar pipiku, membuat rambut Elina berhasil terlepas dari cengkraman tanganku.


Papa langsung menarik tubuh Elina, membuat Elina bersembunyi di belakang tubuhnya.


“Keterlaluan kamu!” Papa membentakku.


Aku menatap Papa dengan tatapan datar, tersenyum kemudian tertawa.


“Selama ini Papa belom pernah nampar Syana tapi lihat sekarang, Papa nampar Syana hanya karena perempuan murahan kayak dia.” Tuturku pada Papa, aku tersenyum tapi hatiku terasa perih.


“Sini lo, gue belom puas nyakitin lo. Brengsek!” aku hendak menarik tangan Elina, yang memegang punggung Papa dari belakang.


Papa langsung menepis tanganku, Papa menarik tanganku menuju lift.


“Lepasin Syana! Lepasin!” aku berulang kali memberontak tapi Papa terus menarik tanganku.


“Om, lepasin tangan Syana. Dia kesakitan, Om.” Khenzie meminta Papa untuk berhenti menarik tanganku.


“Diam kamu!” Papa membentak Khenzie, yang berusaha menolongku.


Aku melihat ke belakang, di mana Elina tersenyum senang melihat aku ditarik paksa oleh Papa.


“Dasar perempuan nggak waras! Perempuan ******! Murahan! Iblis lo!” pekikku, melihat Elina yang masih berdiri di depan pintu kamar hotel.


Elina tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku.


“Sakit Pa, lepasin tangan Syana.” Rintihku pada Papa.


Papa menghiraukan aku yang kesakitan, ia terus menarik tanganku hingga ke depan lift. Tepat setelah kami di depan lift, lift itu terbuka, Papa langsung mendorongku masuk ke dalam lift, Khenzie ikut bersamaku.


Papa berdiri di depan lift sambil melototiku yang ada di dalam lift.


“Aw.” Aku memegang tanganku yang sudah memerah akibat cengkraman Papa yang begitu kuat.

__ADS_1


Aku melihat wajah Papa yang masih berdiri di depan lift, aku memasang tatapan datar, senyuman sinis tersungging di wajah ku hingga pintu lift tertutup.


__ADS_2