KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 20 Siapa Pemilik Akun itu?


__ADS_3

Brooklyn menatap tajam wajah Redana untuk sepersekian detik lalu memeriksa handphone Redana, dari raut wajahnya aku bisa melihat bahwa dia tidak menemukan apapun yang bisa menjadi penguat tuduhannya pada Redana, Brooklyn pun mengembalikan kembali handphone Redana.


“Bisa aja lo udah hapus vidionya atau lo simpen vidio itu di handphone lo yang lainnya.”


Redana tersenyum tipis sambil memasukkan handphonenya ke saku kemeja.


“Saya tidak mungkin bertindak seperti itu pada Syana, dia selalu baik pada saya. Mana mungkin saya tega mempermalukan Syana seperti itu.” Tegas Redana, terdengar menyakinkan.


“Halah! Gue tahu benar isi pikiran lo, jangan pura-pura di depan gue.” Ucapan Brooklyn semakin memperkeruh suasana.


Redana menatap tajam Brooklyn, ia berjalan mendekati Brooklyn.


“Pura-pura gimana maksud lo?”


“Pura-pura bersikap baik supaya orang-orang merasa kasihan pada lo dan supaya orang berhenti meneduh lo.”


“Iya, lo pura-pura baik buat dapat simpati dari orang lain... padahal aslinya lo busuk! Iya kan?”


Aku melihat Brooklyn mengepalkan tangan kanannya, ketika dia mendengar ucapan Redana yang ditujukan padanya dan terkesan memojokkan Redana.


"Dan terkadang seseorang menutupi kebusukannya dengan cara menyalakan orang lain." Ucap Redana, senyuman tersirat di wajahnya.


“Brengsek lo!” Brooklyn hendak memukul wajah Redana lagi, tapi kepalan tangan Brooklyn berhasil ditahan oleh Redana.


“Reaksi lo sudah menjelaskan semuanya, gue nggak butuh jawaban apapun dari lo.” Redana menatap sinis kedua mata Brooklyn.


Brooklyn menarik paksa kepalan tangannya dari genggaman Redana, ia mengangkat alisnya dengan wajah yang datar.


"Warna kulit sama hati lo sewarna." Kata Brooklyn, sinis.


Brooklyn tersenyum tipis sambil memalingkan wajahnya.


“Kulit saya memang gelap tapi saya tidak pernah membiarkan hati saya segelap kulit saya.” Redana melihat setiap murid yang berkumpul di kelas, setiap pasang mata menatap Redana dengan seksama.


“Saya disini untuk bersekolah bukan untul hal-hal yang tidak berguna seperti itu.” Lanjut Redana, dengan suara yang lantang.


“Jelas bergunalah... berguna buat otak mesum lo!” ketus Brooklyn, ia menempelkan jari telunjuk ke kening Redana.


Redana menepis tangan Brooklyn, ia menghela napas, kemudian menatap serius wajah Brooklyn.


“Papa saya tidak pernah mengajarkan saya bersikap seperti itu, saya diajarkan untuk bersekolah dengan benar disini karena Papa saya tahu susahnya menuntut ilmu di tempat dia berasal, Papua. Saya tidak mau mencoreng kemuliaan ilmu dengan perbuatan yang rendahan seperti itu.”


“Seseorang yang berani mencoreng kemuliaan ilmu dengan perbuatan tidak beradab seperti itu, terkadang adalah orang yang tidak paham seberapa mulia ilmu yang dia pelajari.” Lanjut Redana, kemudian kembali duduk di kursinya dan lanjut membaca buku yang aku pinjamkan padanya.


Brooklyn mengepal jemarinya, bibirnya berkerut, ia kemudian berlalu, begitu pun semua murid yang ada.


“Ren.” Aku duduk di samping Redana.


Redana melihatku.


“Maafin gue dan Brooklyn, ya.” Aku merasa tidak enak hati pada Redana karena kesalahpahaman yang sudah dibuat oleh Brooklyn.

__ADS_1


“Gapapa, Syan. Bukan salah lo.” Redana tersenyum melihatku.


Aku tersenyum canggung, kemudian beranjak.


“Kak Syana, di panggil kepala sekolah.” Kata Vino, yang berdiri di bawah bingkai pintu kelasku.


Vino adalah adik kelasku, saat ini dia menjabat sebagai ketua osis di sekolah kami.


“Kepala sekolah.” Aku bergumam, menghela napas dengan berat.


Aku menemui kepala sekolah di ruangannya.


“Permisi, Pak.” Kataku, setelah mengetuk pintu.


“Silakan masuk.” Sahut kepala sekolah, dari dalam ruangannya.


Aku membuka pintu ruangannya dengan perasaan gugup.


“Selamat pagi, Pak.” Sapaku, begitu masuk ke ruangannya.


“Silakan duduk, Arsyana.” Kepala sekolah mempersilakanku untuk duduk.


Aku pun duduk di sofa yang ada di sampingnya.


“Saya rasa kamu sudah tahu, kenapa saya meminta kamu ke ruangan saya.”  Kepala sekolah menatapku dengan rawut wajah yang serius, suaranya yang berat membuat aku semakin gugup.


Kepalaku tertunduk, aku menekan ujung jariku.


“Pihak sekolah sudah meretas akun @lovechocho dan sudah berhasil menghapus vidio-vidio itu.” Jelas kepala sekolah.


Aku hanya diam, tak berkutik.


“Saya harap kejadiaan ini tidak terulang lagi. Kamu salah satu murid berprestasi di sekolah ini, jangan coreng nama baik kamu sendiri dengan perbuatan ceroboh seperti ini lagi.”


“Kamu bisa kembali ke kelas, sekarang.” Kepala sekolah memintaku kembali ke kelas.


“Terima kasih, Pak.”


Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Baru saja aku keluar dari ruangan kepala sekolah, aku melihat Khenzie yang duduk di bangku panjang yang ada di luar ruangan kepala sekolah.


“Khen.” Panggilku, begitu melihatnya.


Khenzie beranjak.


“Apa kata kepala sekolah?”


Aku melangkah menuju ke kelas, begitupun dengan Khenzie yang berjalan di sampingku.


“Vidio-vidio itu sudah dihapus sama pihak sekolah.”


“Dihapus? Gimana caranya?”

__ADS_1


“Akun @lovechocho diretas sama pihak sekolah, gitu kata kepsek.”


Khenzie mengangguk, sepertinya dia mengerti.


“Syan.”


Khenzie mencegatku, ia berdiri tepat di depanku.


“Kenapa?”


“Gawat!”


Khenzie terlihat panik.


“Gawat kenapa?” tanyaku, yang penasaran.


“Tangan gue.”


Khenzie memasukkan tangan kanannya ke dalam baju, sehingga tidak terlihat, ia memulai lelucon konyolnya lagi.


“Apaan sih!” aku mengencangkan bibir ku.


Aku berlalu meninggalkan Khenzie.


“Serius amat sih, ih kamu.” 


Aku melirik Khenzie ynag berjalan di sampingku.


“Kurang ya? Ga lucu ya?” tanya Khenzie, menertawaka lelucon yang dia buat.


“Gue mau ke kelas Brooklyn, lo duluan aja.”


“Duluan?”


“Ga mau, ikut.” Lanjut Khenzie.


Aku memutar kedua mola mataku, dengan malas.


“Suka-suka lo deh.”


Aku samar-samar mendengar pembicaraan Brooklyn dengan 3 orang temannya, suaranya begitu aku hampir berdiri di depan pintu kelasnya. Aku menarik tangan Khenzie, membawanya ke belakang pintu kelas Brooklyn, agar bisa mendengarkan lebih jelas obrolan mereka.


“Gue sih nggak masalah ya soal vidio-vidio itu, biasa aja menurut gue mah.” Kata Brooklyn, yang disambut gelak tawa oleh teman-temannya.


Kedua kelopak mata ku bergetar, hatiku terasa sakit saat mendengarkan perkataan Brooklyn yang terkesan menyepelekan video itu.


“Bibirnya yang merona, pipinya yang memerah setiap kali di dekat gue dan lekuk tubuhnya yang menawan.” Lanjut Brooklyn.


Khenzie hendak menemui Brooklyn, dengan kepalan tangan yang sudah siap untuk menonjok wajah Brooklyn namun aku menahan tangannya, aku meminta Khenzie agar tetap berdiri di sampingku dan mendengarkan. Aku ingin tahu sampai sejauh mana Brooklyn bersikap tidak pantas seperti itu.


“Mau taruhan, nggak?”

__ADS_1


Telinga ku terangkat begitu mendengar Brooklyn mengajak teman-temannya taruhan, entah taruhan dalam bentuk apa.


“Taruhan apa?” tanya salah satu temannya.


__ADS_2