KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 3 Ruang Tamu


__ADS_3

Brooklyn mengikuti kami masuk ke dalam rumah, kami duduk di ruang tamu.



📷: Pinterest


" Sayang, sorry ya." Bisik ku pada Brooklyn, yang duduk di sampingku.


" Iya nggak apa-apa kok, aku ngerti " tutur Brooklyn, memegang tanganku.


Aku tersenyum menatap Brooklyn.


" Ehem." Bang Aksa berpura-pura seolah dia sedang batuk sambil menatap kami yang duduk di depannya, aku pun menatap Bang Aksa dengan tatapan kesal.


" Itu apaan di paper bag?" tanya Bang Aksa, yang melihat paper bag cokelat yang tadi di bawakan oleh Brooklyn.


Brooklyn mengambil paper bag yang ia taruh di samping tubuhnya lalu Brooklyn mengeluarkan isinya, terlihat kotak berwarna putih yang di ikat dengan pita berwarna pink.


" Hadiah buat Syana, Bang." Brooklyn menjawab pertanyaan Bang Aksa sambil tersenyum menatapku.


" Oh... coba liat isinya." Bang Aksa sedikit mengintip, ia memanjangkan lehernya.


Bang Aksa meminta Brooklyn untuk membuka kotak yang dia berikan padaku, membuatku sontak melihat Bang Aksa.


" Abang apaan sih?!" tanyaku, aku kesal pada Bang Aksa yang meminta Brooklyn untuk membuka hadiah yang mau dia beri padaku.


" Kenapa? Orang Abang mau liat doang."


"Bang Aksa jangan kayak Bang Arsa, dong. Ngeselin banget sih!"


Aku sudah sangat jengkel pada Bang Aksa, aku menatap Bang Aksa dengan tatapan mengintimidasi dan bibirku mengkerut tapi Bang Aksa hanya tersenyum melirikku.


"Bentar ya, Bang." Brooklyn membuka ikatan pita yang menghiasi kotak hadiahnya.


Aku buru-buru menahan tangan Brooklyn, agar tidak membuka kotak hadiah yang mau dia berikan.


"Gapapa." Brooklyn menyakinkan kepadaku kalau dia tidak keberatan jika Bang Aksa ingin tahu hadiahnya.

__ADS_1


Aku pun mengalahkan dan membiarkan Brooklyn membuka kotak hadiahnya.


" Sepatu, Bang " ungkap Brooklyn, setelah ia membuka kotak hadiah yang sudah ia bungkus dengan rapi.


Brooklyn memberiku hadiah sepatu berwarna putih, dengan sedikit motif bunga mawar merah pada bagian samping sepatunya.


" Oh~ sepatu." tutur Bang Aksa, dengan nada yang datar.


" ehm, makasih sayang " Aku merasa senang dengan pemberian Brooklyn.


Dari ekor mata, aku bisa melihat reaksi Bang Aksa begitu mendengar ungkapanku pada Brooklyn, Bang Aksa nampak merasa mual begitu mendengarnya, aku hanya tersenyum sambil meliriknya.


" Bang Aksa nggak ke rumah sakit?" tanyaku, menatap Bang Aksa dengan tatapan jengkel.


Dari ekor mata, aku bisa melihat reaksi Bang Aksa begitu mendengar ungkapanku pada Brooklyn, Bang Aksa nampak merasa mual begitu mendengarnya, aku hanya tersenyum sambil meliriknya.


" Bang Aksa nggak ke rumah sakit?" tanyaku, menatap Bang Aksa dengan tatapan jengkel.


" Rumah sakit..... Apa itu rumah sakit?" tanya Bang Aksa, menyembunyikan tawanya.


Bang Aksa nampaknya memang sengaja memancing emosiku, dia terus-menerus membuatku merasa jengkel dengannya, apalagi dengan bercandaan yang baru saja dia lemparkan.


Bang Aksa tersenyum jahil.


" Mana ada, orang Mama lagi nanemin cabe di kebun belakang rumah."


Aku menghela napas dengan kesal, kalau saja ini dunia kartun pasti sudah terlihat tanduk di atas kepalaku dengan asap yang keluar dari hidungku dan wajah yang memerah karena kesal.


" Abang! Udah dong gangguin Syana, Brooklyn kesini tuh mau ngerayain hari jadiannya kami bukannya buat jenguk Bang Aksa!" protesku pada Bang Aksa.


Bang Aksa tersenyum lalu menyilangkan kakinya di lutut sembari bersandar pada sandaran sofa dan tangan kanan yang ia letakkan di bahu sofa.


" Abang suka banget ni di sini, kayak ada hawa panasnya gitu. Seneng deh." ledek Bang Aksa, menyadarkan punggung di sandaran kursi yang dia duduki.


" Yaudah kalau Bang Aksa mau disini gapapa, Syana sama Brooklyn mau pindah ke ruang keluarga aja." aku memegang tangan Brooklyn, bokong kami hampir terangkat untuk beranjak.


" Abang ikut." sahut Bang Aksa, yang membuat aku dan Brooklyn kembali duduk.

__ADS_1


Bang Aksa benar-benar menguji kesabaran ku, aku menghela napas dengan kesal, memejamkan mataku dengan paksa, mengerutkan bibir ku, aku bisa merasakan hidungku terasa mengembang.


" Kalo Bang Aksa mau gangguin kami terus, yaudah, Syana sama Brooklyn ngobrolnya di kamar aja." Ancam ku, aku sebenarnya takut saat mengatakan hal itu kepada Bang Aksa sekaligus merasa canggung kepada Brooklyn karena takut dia berpikir yang tidak-tidak tentangku.


Mendengar perkataan ku sontak membuat Bang Aksa terkejut, Bang Aksa menatap Brooklyn dengan tatapan serius.


" Denger ya, Brooklyn! Beruk atau siapapun nama lo, gue nggak pernah suka lu pacaran sama Syana, untuk itu jangan tambah ketidaksukaan gue dengan perbuatan lo yang nggak bisa menghormati Syana sebagai perempuan. Kalo emang lo cinta sama Adik gue, lu harus ngejaga harga diri dia bukannya justru ngerusak harga diri dia sebagai perempuan. Ingat itu!" tegas Bang Aksa, yang terlihat serius dan aku juga bisa melihat kekhawatiran di raut wajahnya saat melirikku disela-sela ancamannya pada Brooklyn yan duduk di sebelahku.


Setelah menasehati Brooklyn panjang lebar, Bang Aksa pun melihatku yang duduk tepat di depannya.


" Dan untuk Syana, kamu ini cewek jadi tolong jaga badan kamu, dia cuma pacar kamu bukan suami kamu, jadi stop pake baju yang terbuka kayak gitu! Bang Aksa tuh khawatir sama kamu, Bang Aksa nggak mau kamu kayak anak-anak seusia kamu yang keluyuran nggak jelas sampe tengah malam, pacaran nggak jelas terus ujung-ujungnya nyesel, kalo udah kayak gitu siapa yang rugi?" Bang Aksa mengajukan pertanyaan setelah menasihati ku.


Aku diam, tak berani menjawab pertanyaan Bang Aksa.


" Kenapa diem? Abang nanya sama kamu, syana!"


" Iya Syana tahu kok, yang rugi Syana sendiri bukan orang lain." aku menjawab pertanyaan Bang Aksa dengan suara yang cukup pelan.


" Nah bagus kalo udah tahu. Yaudah, Abang juga capek abis kerja, Abang ke kamar dulu."


Bang Aksa pun beranjak dari sofa.


" Jaket Abang pake aja." tutur Bang Aksa, kemudian berlalu.


Sebenarnya bukan kali ini saja Bang Aksa menasihati ku tentang menjaga diri saat berpacaran, dia selalu mengontrol ku sejak dia tahu bahwa aku sedang berpacaran, aku tahu dia khawatir karena aku satu-satunya Adik perempuan, aku juga tahu bahwa dia menyayangiku tapi rasanya Bang Aksa belum terlalu mengenal Brooklyn dengan baik, Brooklyn tak seburuk yang dipikirkan oleh Bang Aksa dan Bang Arsa.


" Maafin Bang Aksa ya, dia emang terlalu sayang sama Adiknya." tutur ku, merasa tidak enak pada Brooklyn.


Brooklyn mencoba untuk menyikapi perkataanku dengan senyuman manis di bibirnya.


" Gapapa, aku tahu kok kamu sangat berharga bagi Abang kamu." Balas Brooklyn, mencoba memberitahuku kalau dia memaklumi perasaan khawatir yang di tunjukkan oleh Bang Aksa.


Aku mencoba menghangatkan suasana kembali.


" Oh iya, aku punya hadiah buat kamu."


" Apa?" tanya Brooklyn, penasaran.

__ADS_1


" Tunggu disini bentar ya, aku ambilin dulu ya." kata ku, sembari beranjak.


__ADS_2