KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 17 Pingsan


__ADS_3

Setibanya di warung, aku melihat Brooklyn tergeletak di lantai.


“Dia kenapa?” aku bertanya pada teman-teman Brooklyn sambil cepat-cepat menelpon ambulance.


Belum sempat teman-teman Brooklyn menjawab pertanyaanku, panggilan ambulance tersambung.


“Selamat siang, dengan ambulance Rumah Sakit Cinta. Ada yang bisa saya bantu?”


“Pak, tolong ke SMAN Sebangsa Jakarta sekarang.” Pintaku, yang diliputi perasaan cemas akan keadaan Brooklyn.


“Baik, kami segera kesana.”


“Terima kasih, Pak.”


Aku mengakhiri panggilan.


“Kenapa diliatin aja! Bawa Brooklyn ke depan sekolah sekarang!” perintahku pada tiga orang teman Brooklyn, termasuk siswa yang memanggilku kesini.


Teman-teman Brooklyn memopong badan Brooklyn menuju depan pagar sekolah untuk menunggu ambulance, aku melihat mereka kewalahan harus memopong badan Brooklyn tapi itu satu-satunya cara agar Brooklyn tidak di marahi kepsek setelah dia sadar dari pingsannya.


“Ini kenapa? Kenapa kalian ada di luar pagar?” tanya Pak satpam sekolah, begitu dia melihat kami.


Aku terdiam, di otakku belum menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Pak satpam sekolah.


Akhirnya ambulance datang, petugasnya langsung membaringkan Brooklyn di tandu dalam ambulance.


“Saya boleh ikut tidak, Pak? Saya temannya.” aku bertanya pada salah satu petugas ambulance.


“Boleh.”


Aku pun ikut berada di dalam ambulance. Setibanya di rumah sakit, Brooklyn langsung di bawa ke bangsal untuk mendapatkan pertolongan dari dokter.


“Gimana keadaan teman saya, dok?” aku bertanya pada dokter yang menangani Brooklyn begitu dokter itu selesai memeriksa keadaan Brooklyn.


“Pasien masih butuh waktu untuk beristirahat, pasien mengalami dehidrasi sehingga menyebabkan aliran darah dan oksigen pada tubuhnya terhambat lalu pandangannya menjadi berkunang-kunang dan kehilangan kesadaran.” Dokter itu menjelaskan dengan bahasa yang mudah untuk aku pahami.


“Pasien sudah dipasang infus, untuk menambahkan cairan pada pasien.”


“Terima kasih, dok.”


“Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu ya.”


Dokter itu pun mulai melangkah tapi di langkah ketiganya, dokter itu kembali membalikkan badannya dan mendekati ku lagi.


Dokter itu pun mulai melangkah tapi di langkah ketiganya, dokter itu kembali membalikkan badannya dan mendekati ku lagi.


"Maaf, saya boleh bertanya?" dokter itu terlihat ragu-ragu.


Aku mengangguk, menyetujui.


"Apa pasien pernah terlihat berperilaku aneh, seperti berhalusinasi misalnya?"


Aku mengernyitkan keningku, mencoba mencerna pertanyaan dokter itu.


"Sepertinya..... tidak pernah dong." Aku sebenarnya tidak terlalu yakin dengan jawabanku.


"Kenapa ya, dok?" aku balik bertanya karena penasaran.


"Begini.... saya sebenarnya tidak terlalu yakin dengan apa yang akan saya katakan ini, melihat dari kondisi fisik pasien dan juga beberapa bekas suntikan yang terlihat jelas di pergelangan tangannya... saya curiga dehidrasi yang pasien alami saat ini disebabkan oleh pemakaian obat-obatan terlarang yang berlebihan." Dokter itu memelankan suaranya saat menjelaskan keadaan Brooklyn yang dia curigai.

__ADS_1


Aku masih belum menangkap dengan jelas apa yang coba disampaikan oleh dokter itu.


"Obat-obatan terlarang?....." mataku menyipit dan aku mengernyitkan keningku.


Kedua kelopak mataku terbuka lebar begitu memahami maksud dari perkataan dokter itu.


"Maksud dokter narkoba?" aku bertanya untuk memastikan bahwa apa yang sedang aku pikirkan saat ini sama dengan apa yang dimaksud oleh dokter itu.


Dokter itu menganggukkan, mengiyakan pertanyaanku.


"Saya tidak bisa melakukan tes darah pasien untuk memastikannya karena ini mengenai privasi pasien, tapi melihat dari kondisi pergelangan tangannya yang banyak sekali bekas suntikan menjawab kecurigaan saya."


Aku tersentak kaget.


"Kamu adiknya dokter Aksa, kan ya?" lanjut dokter itu.


"Iya, dok."


"Saya temannya... mau saya anter ke ruangannya?" dokter itu ingin mengantarku menuju ruangan Bang Aksa.


"Tidak perlu." Aku tersenyum canggung.


Sebenarnya aku bukan tidak ingin menemui Bang Aksa, tapi aku takut Bang Aksa justru tahu mengenai keadaan Brooklyn.


"Sayang." Aku menyapa Brooklyn begitu menemuinya yang masih terbaring.


"Makasih ya, kamu masih peduli sama aku." ucap Brooklyn, tersenyum lirih.


"Iya, gimana sekarang? Udah baikkan?" aku duduk di kursi yang ada di samping ranjang rawat yang Brooklyn tiduri.


"Karena ada kamu... aku udah gapapa sekarang." Brooklyn tersenyum lebar menatapku.


"Lyn, kenapa? Kenapa kamu jadi kayak gini?" aku bergumam dalam hati sembari tersenyum lirih menatap Brooklyn yang tersenyum menatap ku.


Aku melihat bahwa memang benar ada bekas suntikkan di pergelangan tangan Brooklyn, hatiku sebenarnya hancur begitu mengetahui bahwa orang yang aku cintai ternyata selama ini menggunakan obat-obatan terlarang tapi sebisa mungkin aku tidak menunjukkan rasa sakit yang aku rasakan saat ini pada Brooklyn.


"Sayang, aku ke sekolah dulu ya."


"Ngapain?" tanya Brooklyn, menahan tanganku yang beranjak dari tempat duduk.


"Mau ngambil tas aku sama kamu terus mobil kamu."


"Kamu bisa bawa mobil aku?"


"Aku mau minta bantuannya Khenzie, dia bisa."


"khenzie!" sepertinya Brooklyn masih cemburu melihat kedekatanku dan Khenzie, aku bisa merasakan saat mendengar dia mendengus begitu aku menyebut nama Khenzie.


"Kamu lagi sakit, nggak usah marah-marah."


Brooklyn menghela napas.


"Yaudah, deh. Hati-hati ya."


Brooklyn menarik tanganku mencoba untuk membuat badanku mendekatinya, ia berusaha ingin menciumku namun aku berhasil menahan diri agar tidak bergerak sedikit pun.


"Aku pergi ya."


Aku beranjak meninggalkan Brooklyn. Setibanya di depan sekolah, aku melihat suasana sekolah sudah sangat sepi, jam pulang memang sudah berlalu.

__ADS_1


"Syana!" teriak Khenzie, memanggil ku.


Aku terkejut begitu mendengar Khenzie yang meneriakkan namaku dari dalam pos satpam sekolah, saat melewati pos satpam aku tidak menyadari bahwa Khenzie ada disana, sampai akhirnya dia yang memanggilku.


"Ngapain lo?"


"Nungguin elo lah!" Khenzie terlihat kesal, ia melemparkan tasku yang langsung aku tangkap.


"Makasih." Aku berusaha mengembalikan mood Khenzie yang terlihat kesal, mungkin dia sudah lama menungguku di pos satpam.


"Yuk pulang!"


"Gue mau ngambil tasnya Brooklyn dulu."


"Tas Brooklyn?" Khenzie bertanya.


"Iya, bentar ya."


Aku berjalan hendak ke kelas Brooklyn.


"Stop!" Khenzie memintaku menghentikan langkah kakiku.


"Apa lagi sih?!" aku bertanya dengan merapatkan gigiku.


"Itu tasnya." Brooklyn menunjuk meja yang ada di dalam pos satpam.


Aku memicingkan kedua mataku dengan bibir yang sengaja aku kerutkan, kemudian mendekati Khenzie dan memukul pundaknya.


"Kenapa nggak bilang dari awal?!" seruku pada Khenzie, sambil mengambil tas Brooklyn.


"Kirain dia mau ngambil sendiri."


Aku merogoh tas Brooklyn untuk mencari kunci mobilnya sambil sesekali melirik Khenzie yang menghindari tatapan mata ku.


"Ni, bawaain mobilnya." Aku meletakkan kunci mobil Brooklyn di telapak tangan Khenzie, ketika sudah berhasil menemukan kunci mobil Brooklyn.


Khenzie melihatku sejenak kemudian memutarkan bola matanya malas.


"Iya, Nyonya." Khenzie bergumam pelan.


Saat di pertigaan jalan, dimana jika lurus kami akan mengambil rute menuju Rumah Sakit Cinta namun aku meminta Khenzie mengambil jalan yang berbeda.


"Belok kiri, Khen." Pintaku pada Khenzie yang sedang mengemudi.


"Mau kemana sih lo sebenarnya?" Khenzie terlihat penasaran.


"Ikutin aja udah."


"Jalan ini kan sepi, lo nggak berniat ngebuang gue kan disini?" tanya Khenzie, matanya berkedip.


"Apaan sih, Khen!"


"Kali aja, gitu.... atau lo..."


"Udah! Udah ya, jangan mikir yang enggak-enggak." Aku memperingatkan Khenzie agar tidak memikirkan yang macam-macam.


"Iya,iya."


"Berhenti disini, Khen." Aku meminta Khenzie berhenti setelah mobil melaju cukup jauh dari keramaian.

__ADS_1


__ADS_2