KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 36 Konsekuensi


__ADS_3

Paginya, saat aku hendak berangkat sekolah. Aku melihat Papa di depan pagar rumah, ia berdiri sambil bersandar di mobilnya. Aku membuka pagar rumah, berjalan melewati Papa.


“Syan, tunggu!” Papa memanggilku, memintaku untuk berhenti melangkah.


Aku tidak menghiraukan perkataan Papa sedikit pun.


“Tunggu! Papa mau bicara sebentar.” Papa menyambar tanganku dan langsung aku tepis


“Saya mau ke sekolah.” pungkas ku, dengan mimik wajah yang datar.


“Papa anter, kita ngobrol di dalam mobil aja sambil jalan ke sekolah kamu.” Papa melangkah untuk membuka mobilnya.


“Terima kasih, Syana nggak mau duduk di tempat duduk bekas simpanan Papa.”


Papa mendekatiku, lagi.


“Kamu bisa duduk di kursi tengah, gimana?”


Aku menyunggingkan bibirku sambil tersenyum.


“Nggak perlu, Syana bisa berangkat sendiri.”


Aku merogoh handphoneku yang ada di dalam tas, lalu mengatur stopwatch.


“10 menit, Syana kasih Papa waktu sepuluh menit untuk ngomong.” Aku memencet mulai, membuat stopwatch terus menghitung waktu.


“Papa nggak ada niat buat berselingkuh dengan Elina, semuanya berjalan diluar kendali Papa. Diawal kedekatan kami, Papa sama sekali nggak tahu kalo kalian bersahabat, Papa baru tahu fakta itu setelah Papa telanjur mencintai Elina. Papa tahu ini salah, tolong maafin Papa.”


Aku membuang muka, mengatur napasku lalu menatap tajam wajah Papa.


“Papa tahu ini salah? Terus, kenapa Papa masih lanjutin? Nggak, bukan kali ini aja Papa mengkhianati kami tapi sudah berkali-kali. Apa saat itu Papa juga sadar dan memikirkan kami?! Nggak kan?!” aku menatap mata Papa yang terlihat berkilau.


Papa terpaku, membisu.


“Mama berjuang untuk bangkit melawan kekecewaannya seorang diri, sampai-sampai kekecewaan itu nggak bisa lagi Mama rasain. Bukan, bukan karena Mama udah maafin Papa tapi karena Mama udah terlalu muak memaklumi pengkhianatan yang Papa kasih.”


Aku melirik mobil Papa, yang terparkir di depan pagar rumah.


“Mama dan orang tuanya selalu mendukung Papa untuk berhasil, Alm. Kakek bahkan memberikan perusahaannya untuk dikelola oleh Papa, mempercayai Papa seutuhnya tapi justru Papa melukai Mama. Papa pikir Alm. Kakek bisa maafin Papa? Nggak! Aku ngeliat sendiri bagaimana Kakek sangat mencintai Mama dan Alm. Kakek nggak pernah nyakitin Mama sedikit pun. Sedikit pun, Pa!”


“Kalau memang Papa masih punya harga diri, tolong tinggalkan kantor Kakek. Dia berhak beristirahat dengan tenang, aku nggak mau dengan adanya Papa di kantornya membuat Kakek semakin menyesal.” lanjut ku.

__ADS_1


“Nggak bisa, kamu tahu sendiri kalau Mama kamu adalah satu-satunya anaknya. Siapa yang akan memimpin perusahaan kalau Mama keluar dari kantor itu?” Papa menolak untuk keluar dari kantor Kakek dengan alasan akan terjadi kekosongan jabatan jika dia meninggalkan kantor.


“Mama, Mama sendiri yang akan menjalankan perusahaan Kakek.”


“Sarah?” Papa terlihat terkejut begitu aku mengatakan bahwa Mama yang akan memimpin perusahaan Kakek.


Aku mengangguk.


“Kan sebelum nikah sama Papa, Mama yang ngebantu Kakek di perusahaan?” tanyaku, meminta konfirmasi dari Papa.


Papa menyetujui bahwa Mama yang berkerja keras membantu Kakek dalam menjalankan bisnis.


“Iya, tapi kan...”


Papa berusaha memberikan beragam alasan agar dia tetap memimpin perusahaan Kakek, aku meminta Papa untuk tidak melanjutkan perkataannya.


“Oh iya, nanti kalo Papa nikah sama Elina, tolong undang kami ya. Aku bakal ngebeliin hadiah terindah buat kalian dan naburin bunga di altar pernikahan kalian. Gimana?” Aku tersenyum menatap Papa.


Papa tak menjawab pertanyaan ku, aku tahu saat ini ada banyak hal yang Papa pikirkan tentang ku, aku bisa merasakan itu dari tatapan matanya yang seolah mengasihani ku.


“Satu lagi, kan setiap pasangan yang menikah selalu mengucap janji pernikahan yang melibatkan Allah. Aku harap Papa nggak mengkhianati janji itu lagi, karena janji itu bukan hanya untuk Papa dan Elina tapi juga mengatas namakan Sang Pemilik Semesta ini. Cukup manusia yang Papa khianati, jangan khianati Dia untuk kedua kalinya.”


“Papa jangan khawatir soal Syana, Syana bisa hidup tanpa Papa. Perselingkuhan Papa dan Elina nggak akan membuatku kehilangan akal sehat, tapi aku akan pastikan kalian lah yang akan kehilangan akal sehat kalian dengan melihat keberhasilanku dan aku akan membuat kebahagiaan ku sendiri tanpa ada Papa di dalamnya.”


Keyakinanku untuk mencapai keberhasilan itu tergambar jelas dari sorot mataku, yang menatap Papa penuh percaya diri dan aku yakin Papa bisa melihat itu.


Stopwatch berbunyi, menandakan bahwa waktu sepuluh menit sudah berakhir.


“Syana berangkat dulu.”


“Syana!” pekik Mama, dari depan pintu rumah.


Sepertinya Mama belum melihat kalau aku bersama Papa.


“Iya, Ma.” Aku berjalan ke pagar rumah.


Mama menghampiri ku, sambil membawa tumbler berwarna hitam milikku.


“Gimana sih kok bisa lupa bawa minum.” Mama memberikan tumbler padaku.


“Makasih, Ma.”

__ADS_1


Aku melihat arah mata Mama yang baru menyadari kehadiran Papa.


“Mau ngapain lagi kamu kesini?” Mama bertanya pada Papa dengan nada yang ketus.


Papa tidak menjawab pertanyaan Mama.


“Ingat, ya. Saya bisa diam aja saat kamu nyakitin saya tapi kalau kamu nyakitin anak-anak saya, saya nggak akan tinggal diam.” Mama seolah sedang mengancam Papa.


Aku melirik Papa sekilas, Papa hanya tertunduk.


“Udah, Ma.” Aku meminta Mama untuk menenangkan dirinya.


Aku meraih tangan Mama lalu mencium tangan Mama.


“Syana, pergi dulu ya.”


“Iya, hati-hati.” Mama mengelus rambutku saat aku menyalami tangannya.


Aku mulai melangkah untuk ke sekolah, saat aku berjalan melewati Papa, aku melihat Papa menjulurkan tangannya tapi aku mengabaikannya.


“Aku akan menjalankan dunia yang baru, mulai hari ini.” Gumamku, dalam hati sambil menatap langit yang cerah pagi ini.


Di busway, aku duduk bersandar sambil memejamkan mataku dengan kedua tangan yang aku lipat di depan dada, berusaha menghilangkan energi negatif yang menyerap ke dalam tubuhku.


“Woi!” suara Khenzie, melengking menusuk rongga telingaku, yang membuatku sontak menutupi kedua telingaku.


Aku melihatnya sejenak kemudian kembali memejamkan mataku, Khenzie duduk di sebelahku dan dia malah terlihat kesal karena sikap acuh yang aku tunjukkan padanya.


“Masih pagi, jangan ngajak berantem.” Kataku pada Khenzie, tanpa sedikitpun melihat ke arah Khenzie.


“Mata lo kenapa?” tanya Khenzie, penasaran.


“Nggak kenapa-napa, gue cuma mau mejemin mata bentar.”


“Bukan, maksud gue kenapa kelopak mata lo bengkak kek gitu? Semalem lo abis nangis ya?”


Aku membuka mataku, melirik Khenzie sejenak.


“Nggak, tadi abis di gigit tawon.” Aku berusaha menyangkal.


“Lo pikir gue percaya gitu aja, nggak ya!”

__ADS_1


“Gue tahu lo abis nangis.” lanjut Khenzie.


“Kata siapa?” tanyaku, menatap serius mata Khenzie.


__ADS_2