KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 11 Tamparan


__ADS_3

Redana adalah teman kelasku, dia berasal dari Papua tapi sejak dia kecil keluarganya sudah pindah ke Jakarta, kami cukup akrab dan berberapa kali terlibat dalam satu kelompok yang sama saat mengerjakan tugas. Dia baik, dia sering menyelamatkan aku ketika aku di minta maju untuk mengisi soal kimia yang terkadang tidak aku mengerti meskipun dia sering mendapatkan ujaran kebencian dari orang lain tapi dia tetap berbuat baik kepada orang yang sudah menyakitinya. By the way, aku menilai Redana baik bukan karena Redana dia sering membantu ku, tapi aku bisa jamin dia orang baik.


“Lo lagi baca novel apa?” Redana bertanya padaku, dia melirik novel yang tadi aku baca.


“Post Traumatic Life, karyanya Bebby Liannie.” Jawabku, sambil memperlihatkan sampul buku berwarna ungu muda itu pada Redana.


“Lo mau minjem nggak? Gue udah mau selesai bacanya, mau?” novel itu sudah aku baca lebih dari satu minggu, aku tinggal menghabiskan 3 lembar lagi dari novel itu.


“Dari judulnya udah keliatan berat sih pembahasannya.” Tutur Redana, begitu mendapat tawaran dari ku untuk membaca novel itu.


“Enggak, Ren. Ini tuh ringan banget, bercerita tentang kehidupan pasca trauma dari seorang pengacara... banyak banget yang bisa lo pelajarin disini salah satunya tentang caranya memaafkan.” Aku menjelaskan salah satu pelajaran yang bisa di ambil dari novel karta Bebby Liannie yang sedang aku pegang.


“Mau minjem nggak? Jarang lo gue ngebiarin orang lain megang buku punya gue tapi berhubung bukunya bagus dan gue rasa worth it buat lo baca.” Lanjut ku, mengoyang-goyangkan buku itu di depan Redana.


“Oke, gue pinjem ya.” Redana mengambil novel itu.


Aku melihat Khenzie masuk ke kelas tapi dia kembali ke kelas seorang diri, padahal terakhir kali aku bertemu dengannya, dia sedang bersama Elina.


“Lo kok sendirian, Elina mana?” aku bertanya karena tidak melihat Elina datang bersama Khenzie.


“Nggak tahu.” Khenzie menjawab dengan ekpresi datar, seolah tak peduli.


Aku menyipitkan mataku, melirik Khenzie yang duduk di depanku.


“Muka lo kenapa di tekuk gitu?” tanyaku pada khenzie, yang sedang mencari sesuatu di tasnya.


Khenzie diam, tidak menjawab pertanyaan ku, dia menganggapku seolah angin lalu. Ia kemudian beranjak lalu mendekati papan tulis yang ada di depan sambil membawa spidol.


“Hari ini Pak Burhan berhalangan hadir, untuk itu di mohon mengerjakan tugas Hal. 61 dan kumpulkan di meja saya.” Tulis Khenzie di papan tulis, dengan ukuran font yang besar hampir memenuhi papan tulis.


Selesai menulis Khenzie mengetuk-ngetuk papan tulis dengan spidol yang dia gunakan untuk menulis, ia meminta teman-teman di kelas untuk memperhatikannya.


“Perhatian semuanya, tolong baca tulisan saya.” Perintah Khenzie pada semua murid di kelas.


Khenzie pun kembali ke tempat duduknya, mengambil buku tulis dan buku fisika yang biasanya kami gunakan untuk belajar.


“Jadi ke perpustakaan nggak?” tanya Khenzie pada ku, dia sudah siap dengan buku-bukunya yang akan dia bawa ke perpustakaan.

__ADS_1


“Nanti, nugguin Elina. Bentar ya.” jawab ku, mendongak untuk melihat Khenzie yang berdiri di samping ku.


“Yaudah, kalo gitu gue duluan.” Khenzie melangkah, berjalan melewatiku yang sedang duduk.


“Bareng sih!” seru ku, melihat ke belakang.


“Gue nggak punya waktu buat nungguin orang yang nggak penting.” Ketus Khenzie, melirik aku yang menatapnya kesal.


Aku buru-buru mengambil buku untuk mengerjakan tugas yang di berikan Pak Burhan, aku berlari kecil untuk menyusul Khenzie.


“Ngeselin banget sih!” aku menggerutu kesal, sambil mempercepat langkah.


Di koridor sekolah, di dekat mading yang ada di dekat kelas kami, aku berpapasan dengan Elina.


“El, cepatan ambil buku lo... kita ke perpustakaan sekarang.” Pintaku pada Elina, tergesa.


Elina buru-buru mengambil bukunya, kami menyusul Khenzie yang sudah berjalan lebih dulu.


“Lo abis darimana?” aku bertanya pada Elina, yang berjalan di sampingku. Kami mempercepat langkah, hingga terkesan sedang berlari.


Aku melirik rok Elina yang sedikit basah, seperti terkena cipratan air keran. Aku mengangguk, mengerti.



📷: Pinterest


Di perpustakaan, Khenzie sudah sampai lebih dulu dari kami, nampaknya dia sudah fokus mengerjakan tugas.


Aku menarik pelan kursi yang ada di samping Khenzie, aku takut menganggu anak-anak yang lain, yang sedang fokus belajar. Tapi, tiba-tiba Elina duduk di kursi yang tadi aku tarik, Elina mengambil tempat duduk ku tanpa permisi, aku hanya menghela napas melihat tindakan Elina.


Aku mengalah, aku menyeret kursi yang ada di hadapan Khenzie lalu membawanya ke samping Khenzie dan aku duduk di sana.


Kami mengerjakan tugas dengan tenang, hingga ketenangan itu sirna ketika Brooklyn menghampiri kami,  entah Brooklyn tahu darimana kalau aku sedang ada di perpustakaan bersama Elina dan Khenzie.


“Keluar bentar.” Pinta Brooklyn, mencengkram lengan kanan ku, membuat buku ku tidak sengaja tercoret.


“Ngapain?” aku bertanya dengan suara yang sangat pelan tapi di tekan, aku melihat ke sekeliling.

__ADS_1


“Keluar atau aku tarik kamu dengan paksa?” Brooklyn memberiku dua pilihan.


Mata Brooklyn terlihat merah, urat-uratnya terlihat jelas, menghijau di keningnya yang mengencang.


Aku terpaksa beranjak dan mengikuti Brooklyn keluar perpustakaan. Brooklyn menarik ku ke samping perpustakaan, dia membuatku punggung ku menempel pada dinding dengan tangan kiri yang di tekan olehnya ke dinding.


“Udah berapa kali aku bilang jangan dekat-dekat sama Khenzie!” bentak Brooklyn di depan mataku, suaranya seolah menusuk telinga ku.


Kedua mataku terbuka lebar begitu mendengar Khenzie membentakku, padahal Brooklyn tahu betul bahwa aku tidak suka saat orang lain membentak ku.


“Kamu ini kenapa sih?! Kamu baru aja bilang nggak akan cemburu sama siapapun, kenapa cepat banget kamu berubahnya?”tanyaku, geram.


“Siapapun, kecuali Khenzie!” tegas Brooklyn, menatap tajam mataku.


Aku mendengus kesal, tersenyum palsu.


“Iya kenapa, kasih tahu aku alasannya?!” aku menuntut Brooklyn untuk memberi tahu ku apa alasan dia tidak mau aku dekat-dekat dengan Khenzie.


“Aku benci dia. Kamu dan tubuh kamu hanyalah milik aku.” Perkataan Brooklyn membuat mataku terbelalak, aku tidak habis pikir dengan perkataan Brooklyn.


Brooklyn menatap wajahku sementara aku menatapnya dengan tatapan tajam, aku benci begitu Brooklyn mengatakan hal yang seperti itu. Brooklyn melingkarkan tangannya di punggung ku lalu menarik punggungku, Brooklyn mencium bibirku, aku langsung mendorong tubuhnya untuk menjauh kemudian menampar pipinya.


Aku memaki Brooklyn sambil menampar pipinya, aku benar-benar kehilangan kendali, aku sudah benar-benar jengah dengan sikap Brooklyn yang cepat sekali berubah tidak seperti biasanya.


“Aku emang pacar kamu tapi tubuhku bukan milik kamu, camkan itu!” aku menunjuk wajah Brooklyn dengan telunjuk ku, hanya dengan mendengar nada suaraku, aku yakin Brooklyn tahu bahwa aku sedang sangat marah saat ini.


Aku berlalu meninggalkan Brooklyn yang masih memegang pipinya. Aku kembali ke perpustakaan, menemui Khenzie dan Elina yang sedang mengerjakan tugas.


“Kenapa?” Khenzie bertanya padaku, begitu melihat aku kembali duduk di sampingnya dan dengan emosi yang masih tertinggal dari raut wajahku.


“Hah, nggak kenapa-napa?" Aku tidak ingin Khenzie tahu tentang pertengkaranku dengan Brooklyn, apalagi kalau sampai dia tahu penyebab pertengkaran kami karena kecemburuan tak beralasan Brooklyn kepadanya.


Setelah menenangkan diri, aku baru sadar tamparan ku di Brooklyn begitu keras hingga tangan ku memerah, aku yakin pipi Brooklyn terasa sangat panas bahkan saat ini telapak tanganku masih terasa panas.


“Brooklyn lagi sakit kah?” aku bertanya pada diri sendiri, dalam hati.


“Ah udahlah.” Aku berusaha mengabaikan perasaan bersalahku pada Brooklyn dan kembali mengerjakan tugas.

__ADS_1


__ADS_2