KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 34 Lepas Kendali


__ADS_3

Mama terus mendesakku untuk bercerita, tanpa Mama sadari, ia sedang mencengkram lengan ku dengan kuat.


“Jangan diam aja, gimana Mama bisa tahu apa yang kamu rasain sekarang kalo kamu nggak cerita sama Mama.”


Papa, Bang Aksa dan Bang Arsa masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Bang Aksa berteriak memanggil Mama, Mama memberitahu mereka bahwa kami sedang berada di meja makan, Bang Aksa dan Bang Arsa menghampiri kami dengan raut yang khawatir.


“Ada apa ini, Syana kenapa?” tanya Bang Aksa, dia masih memakai jas dokter yang biasa dia pakai saat d rumah sakit.


Aku melirik Papa dengan lirikan tajam, Bang Aksa mengikuti arah mataku yang melirik Papa.


“Kamu kenapa Syan? Kenapa diam aja kayak gini?” Mama merunduk di depanku.


Aku menarik tanganku yang digenggam oleh Mama, lalu menunjuk Papa yang berdiri di samping Bang Arsa, membuat mata semua orang tertuju pada Papa.


“Pria itu udah ngancurin hati Syana, Ma.” Kataku, raut wajahku datar menatap Papa.


“Kamu jelasin semuanya, jangan ngebuat Abang semakin khawatir.” Bang Aksa meminta aku menjelaskan maksud dari perkataanku.


“Pria itu berselingkuh dengan teman Syana.” mataku memerah sambil menunjuk wajah Papa, urat leherku mengencang begitu aku menuangkan kemarahanku.


Bang Aksa mendonggakkan kepalanya untuk sepersekian detik, Bang Arsa mencengkram tangan Papa yang langsung di tepis oleh Papa, sementara Mama memalingkan tatapan lalu menangis begitu mendengar perkataanku.


“Papa rasa kamu sudah cukup besar untuk memahami kehidupan yang sebenarnya.” Papa menatap mataku, aku tersenyum sinis menatapnya.


“Papa sudah bersama Mama kamu selama 30 tahun, sudah tidak ada lagi cinta diantara kami, kami mempertahankan hubungan ini demi kalian. Waktu berjalan dan Papa bertemu dengan Elina, Elina sudah membuat Papa hidup kembali, dia memberikan perhatiaan yang Papa butuhkan dan tidak Papa dapatkan dari Mama kalian.” Lanjut Papa, yang membuat dadaku semakin sesak.


“Perhatian? Perhatian seperti apa yang Papa maksud? Mama selalu menyiapkan sarapan, Makan siang, makan malam, menyetrika baju Papa dan semua kebutuhan Papa. Jadi perhatian seperti apa yang Papa maksud?!” aku berusaha menahan air mataku walaupun usahaku tidak berhasil, air mata terus mengalir di pipiku dan aku berulang kali menyekanya.


“Kamu pasti akan mengerti saat kamu sudah mencintai orang lain, kamu hidup bersamanya dalam waktu yang lama dan pelan-pelan rasa cinta kamu terkikis oleh waktu.” Papa terus membela dirinya sendiri.


“Wah.” Aku bertepuk tangan sambil tersenyum menatap wajah Papa.


Aku berjalan menghampiri Papa tapi Mama menahan tanganku, Mama tidak ingin aku mendekati Papa tapi aku terus melangkah mendekati Papa.


“Aku baru tahu ternyata pikiran Papa sedangkal ini, membela dirinya sendiri dengan dalih sudah terlalu lama menjalin hubungan! Bukan Pa, bukan waktu yang salah... tapi Papa! Hati Papa terlalu sempit untuk menerima satu kekurangan Mama, yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa kurangnya Mama.”


“Mama udah merelakan impiannya untuk menikah sama Papa, memberi Papa kesempatan untuk memimpin perusahaan Kakek sampai sekarang. Tapi, Papa justru melupakan kebaikan-kebaikan Mama. Papa dibutakan oleh cinta perempuan ****** itu, perempuan yang rela menjual dirinya sendiri demi uang!”


“Syana!” Papa membentakku tepat di depan wajahku, membuat kedua mataku terbuka lebar.


“Lihat Ma, dia begitu marah saat aku menghina selingkuhannya tapi dia tidak bereaksi sedikit pun saat perempuan itu nyakitin aku, dia nampar aku, nyeret aku keluar bahkan menghina aku di depan perempuan itu.”


Mama menatap mataku, merapikan rambutku yang berantakkan, Mama memelukku, aku tahu kalo Mama berharap aku bisa menenangkan diriku.


“Udah berapa lama Papa berhubungan dengan Elina?” aku menatap mata Papa, berusaha mengontrol emosiku.


“6 bulan.” Bang Aksa menjawab pertanyaan yang aku ajukan pada Papa.

__ADS_1


Jawaban Bang Aksa membuatku terkejut, aku melihat Bang Aksa, dia tidak berani menatap mataku.


“Mereka udah pacaran selama 6 bulan.” Lanjut Bang Aksa.


“Bang.” Panggilku, pelan.


Bang Aksa memegang tanganku, ia menatap wajahku.


“Maafin Bang Aksa, Syan. Kami sudah lama tahu tentang perselingkuhan Papa.”


“Kami?” aku melihat Bang Arsa dan Mama, yang hanya tertunduk diam.


Badanku terhuyung ke belakang, aku menarik rambutku sendiri.


“Kenapa cuma aku yang nggak tahu? Kenapa?!” pekikku.


Bang Arsa memegang bahuku.


“Dengerin Abang, kami takut....”


“Stop!” aku menghentikan Bang Aksa, yang hendak memberikan penjelasan.


Air mata membanjiri kelopak mataku, tanganku bergetar.


Bang Aksa hendak meraih tanganku tapi aku langsung menepisnya.


“Kalian masih nganggep aku keluarga nggak sih?!”


“Kenapa semuanya harus kayak gini?” gumamku dalam hati, menangis terisak.


Malam harinya, Khenzie menelponku.


“Are you okay?” Khenzie langsung bertanya begitu aku menerima telponnya.


“Ya.”


“Syan besok kita mau ulangan, latihan buat UN.”


“Ulangan apa?”


“Matematika.”


“Kok mendadak?”


“Iya, gue baru dapet kabar dari Pak Burhan. Gue kirim contoh-contoh soalnya, ya.”


“Iya, makasih.”

__ADS_1


“Sama-sama, udah kirim tuh lewat WA.”


Aku membuka WA dan melihat contoh-contoh soal yang Khenzie kirim.


“Udah masuk, blom?”


“Udah.”


“Jangan lupa belajar, ya. Inget kita bentar lagi mau UN.”


“Iya.”


“Selamat belajar.”


“Iya, dah.” Aku mengakhiri panggilan Khenzie.


Meskipun berat, aku berusaha melangkahkan kakiku ke meja belajar, membuka catatan matematika yang aku tulis selama ini.


“Kenapa jawabannya nggak ada sih?” aku menggerutu kesal begitu tidak berhasil memecahkan soal persamaan kuadrat dengan akar berlawanan yang aku dapat saat kelas 10 padahal hanya angkanya yang berubah.


Aku beralih ke soal median.


“Aaak!” aku melempar buku tulis, aku tetap tak mendapat jawabannya.


“Kenapa soal segampang itu gue nggak bisa?!”


Aku melempar semua buku yang semula tersusun rapi di meja belajarku, buku-buku itu terhempas ke lantai bahkan ada yang mengenai jendela kamarku.


“Syana, kenapa?” Bang Aksa masuk ke kamarku, ingin terkejut melihat buku-buku yang berserakan di lantai.


Bang Aksa menenangkan aku yang menangis karena kesal, ia menepuk-nepuk bahu ku.


“Kamu kenapa lagi, Syan?”


Aku menatap mata Bang Aksa, lirih.


“Aku nggak bisa fokus belajar, Bang.”


“Syan, maafin Bang Aksa ya.”


Aku menggeleng, tidak setuju.


“Bukan salah Bang Aksa.”


“Bang Aksa nggak ngasih tahu kamu lebih awal, maafin Bang Aksa untuk itu.”


Aku melihat Mama, Bang Arsa dan Papa berdiri di depan kamarku, mereka masuk ke dalam kamarku. Aku beranjak dari tempat dudukku, aku menatap Papa dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Berhenti disana.” Aku meminta Papa untuk tidak masuk ke dalam kamarku, ia pun menghentikan langkahnya di bawah bingkai pintu.


Aku berjalan mendekati Papa.


__ADS_2