
Esok paginya, di sekolah. Aku tidak melihat Elina bahkan saat jam pelajaran sudah di mulai. Di kantin, aku bertanya pada Khenzie mengenai Elina, dia pasti tahu karena dia adalah ketua kelas kami.
“Elina kok hari ini nggak ke sekolah ya, Khen?”
“Izin.” Khenzie menjawab pertanyaanku dengan singkat.
“Izin kenapa dia?” aku bertanya sekali lagi pada Khenzie yang melahap bola bakso pesanannya.
“Mamanya sakit.” Khenzie menjawab dengan mulut yang terisi penuh oleh bakso.
“Hah, apa?!” aku mengerutkan hidung ku, aku tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan Brooklyn.
Aku menarik mangkuk bakso Khenzie, membawanya ke dekatku.
“Telen dulu, baru ngomong.” Lanjut ku.
“Mamanya di rumah sakit.” Kali ini suara Khenzie begitu jelas, dia sudah menelan baksonya.
“Serius lo?!” aku memastikan bahwa yang aku dengar dari Khenzie itu benar.
Khenzie mengangguk, mengiyakan.
“Rumah sakit mana?”
Khenzie mengernyitkan keningnya, matanya berputar, mencoba mengingat di mana Mamanya Elina di rawat.
“Rumah Sakit Cinta, kalo nggak salah ya.” Kataku, setelah berhasil mengingat nama rumah sakit, dimana Mamanya Elina di rawat.
“Tempat Abang gue kerja dong, kalo Rumah Sakit Cinta mah.”
“Kita kesana ya, pulang sekolah.” Sambung ku, aku mengajak Khenzie mengunjungi Elina di rumah sakit.
“Gue mau jaga store es krim.”
Aku tahu Khenzie beralasan supaya tidak ikut bersamaku.
“Khen, Elina lagi butuh lo sekarang. Gue tahu hati Elina lagi nggak tenang sekarang, kita harus ada disamping dia.”
“Yeh, kok dia butuh gue? Bukan gue kali yan dia butuhin sekarang.”
"Terus apa?" Tanya ku, aku melihat Khenzie sambil memicingkan mata ku.
"Uang." Jawab Khenzie, sambil memalingkan wajahnya.
“Khen.” aku menggertak Khenzie, geram.
__ADS_1
“Iya,iya. Gue ikut.” Khenzie menghela napas, memutar bola matanya malas.
Khenzie akhirnya setuju untuk pergi bersamaku mengunjungi Elina dan Mama Elina di rumah sakit.
“ Gitu dong.” Aku tersenyum lebar sambil menepuk meja.
“Udah dua hari gue nggak jaga store gue, ntar es krim gue meleleh gimana?” Khenzie terlihat mengkhawatirkan storenya.
“Yaudah, tenang aja.”
“Tenang, tenang... gimana bisa tenang kalo keuangan gue defisit?” dari nada suara Khenzie, terdengar jelas bahwa dia sedang kesal.
Aku menghiraukan Khenzie, aku menyeruput kuah mie instan yang sudah tak lagi hangat.
Setibanya di rumah sakit, kami langsung menemui bagian resepsionis untuk menanyakan di mana Mamanya Elina di rawat.
“Selamat siang,Mbak Dian.” Aku menyapa Mbak yang menjaga meja resepsionis, aku melihat namanya di tanda pengenal yang dia jadikan kalung.
“Siang, ada yang bisa saya bantu?” Mbak Dian bertanya pada kami, sambil tersenyum ramah.
“Saya mau nanya...” aku menghentikan perkataanku karena tiba-tiba aku teringat bahwa aku tidak begitu ingat nama Mamanya Elina, aku melihat Khenzie yang berdiri di sampingku.
“Tahu nama Mamanya Elina,nggak?”
“Nggak lah.”
“El, gue boleh tahu nama nyokap lo nggak?” aku langsung mengajukan pertanyaan begitu Elina menerima panggilanku.
“Buat apa?” Elina balik bertanya.
“Gue sama Brooklyn lagi di Rumah Sakit Cinta ni.”
“Gue di lantai tiga, kamar melati. Kalo lo naik lift, ruangannya ada di sisi kanan paling pojok.” Elina langsung memberita tahu detail dimana ruangan Mamanya di rawat.
“Oke, kami kesana ya.”
“Iya.”
Aku langsung mengakhiri panggilan.
“Terima kasih, Mbak. Saya udah tahu ruangannya.” Kataku pada Mbak Dian.
Aku dan Khenzie naik lift menuju lantai tiga, kami mengikuti sesuai arahan Elina. Kami melihat Elina yang tertunduk sambil duduk di depan sebuah kamar rumah sakit.
“El.” Aku memanggilnya begitu kami di dekatnya.
__ADS_1
Elina mendongakkan kepalanya, ia melihat aku dan Khenzie dengan tatapan sendu, terlihat jelas bahwa ia sedang bersedih.
“Gimana keadaan nyokap lo?” aku bertanya pada Elina.
Elina tak menjawab pertanyaanku, ia kemudian beranjak dan memeluk Khenzie, Khenzie tak bereaksi sedikit pun, tangannya pun terjulur ke bawah, ia tidak menyambut pelukkan Elina yang sedang bersedih.
“Tenangin.” Aku meminta Khenzie menenangkan Elina yang menangis di pelukannya, dengan bahasa isyarat agar tak terdengar oleh Elina.
“Gimana caranya?” Khenzie bertanya dengan cara yang sama dengan yang aku lakukan.
“Tepuk-tepuk pelan punggung atasnya.” Aku menepuk punggungku sendiri dengan pelan, berharap Khenzie mengerti maksud yang coba aku sampaikan padanya.
Khenzie mengerti dengan isyarat yang aku berikan, ia mengangkat tangannya kemudian menepuk-nepuk pelan punggung Elina, perlakuan Khenzie justru membuat Elina semakin menangis tersedu dan memeluk Khenzie lebih erat dari sebelumnya.
“Makasih, Khen.” Elina mengucapkan itu sambil menangis tersedu-sedu, membuat suaranya tersekat.
Aku melihat ke arah lift, terlihat dari kejauhan Bang Aksa berjalan ke arah kami.
“Mampus, gimana kalo dia ngeliat gue ada di sini?” Aku bergumam sambil membalikkan badanku, agar tidak terlihat Bang Aksa, aku menghadap ke dinding.
“Selamat siang, dengan keluarga pasien atas nama Lasma?” suara Bang Aksa terdengar dekat, sepertinya dia bertanya pada Elina.
Aku pura-pura sedang memeriksa dinding, menekan-nekan dinding hingga membuatku seperti orang aneh, aku tidak ingin Bang Aksa melihatku keluyuran dengan seragam sekolah.
“Iya, Dok.” Elina menjawab dengan terbata-bata karena menangis.
“Setelah melihat hasil dari rontgen Bu Lasma, kami melihat terjadi pembengkakkan pada jantung Bu Lasma, akibat dari serangan jantung yang tadi pagi dia alami terjadi pembengkakkan di tungkai dan kaki pasien, hal itu sering terjadi pada pasien yang baru saja mengalami serangan jantung.” Bang Aksa menjelaskan dengan sangat hati-hati, mungkin ia tidak mau menambah kekhawatiran Elina.
“Sekarang saya harus bagaimana, dok?” tanya Elina, khawatir.
“Nanti saya akan meresepkan obat, anda silakan membelinya di apotik rumah sakit.”
“Iya, dok.”
“Saya masuk dulu, untuk memastikan kondisi terbaru pasien.”
Bang Aksa pun masuk ke kamar yang ditempati oleh Mamanya Elina.
“Huh, selamat.” Aku menghela napas lega, begitu mendengar Bang Aksa membuka pintu kamar rawat.
“El, duduk dulu.” Aku menuntut Elina supaya duduk, di bangku panjang yang ada di depan ruangan.
“Nyokap gue, Syan.” Rawut wajah Elina menunjukkan bahwa dia sedang sangat khawatir sekarang.
“Nyokap lo kuat kok, dia bakalan sehat kayak dulu lagi.” Aku menepuk-nepuk tangan Elina, mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Sepuluh menit setelahnya, Bang Aksa pun keluar dari kamar Mamanya Elina. Aku terkejut, aku buru-buru menutupi wajahku dengan rambut lalu menundukkan kepala.
“Kondisi pasien saat ini sudah stabil, detak jantungnya pun sudah kembali normal tapi untuk sekarang pasien sedang dalam pengawasan karena dikhawatirkan akan terjadi serangan selanjutnya, untuk itu saya sarankan supaya pasien di rawat inap.” Bang Aksa menjelaskan mengenai kondisi Mamanya Elina saat ini dan menyarankan agar Mama Elina di rawat inap.