KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 23 Taman


__ADS_3

Aku memaki Brooklyn dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki.


“Lyn, tolong. Jangan macem-macem.” Pintaku sekali lagi, memohon agar Brooklyn tidak berbuat nekat.


“Bukannya kamu sendiri yang terus menggoda ku, sayang.” Brooklyn meraba tubuhku sambil duduk di atas perutku, aku berulang kali menepis tangan Brooklyn dan berulang kali juga dia menampar pipiku.


“Kapan? Gue nggak pernah menggoda elo.”


“Saat gue ke rumah lo, pakaian lo yang terbuka sehingga menampilkan dada lo yang terbuka, itu benar-benar membuat gue tergoda.” Brooklyn merabah wajahku kemudian tangannya turun ke leherku.


Kepalaku benar-benar pusing akibat tamparan-tamparan yang dilakukan oleh Brooklyn.


“Gue nggak pernah menggoda, pikiran lo aja yang kotor!” pekikku, kesal.


Brooklyn mengeluarkan gunting dari saku celananya, aku tidak tahu sejak kapan ia membawah gunting.


“Mau ngapain lo?!” aku bertanya dengan perasaan cemas yang berkecamuk.


Brooklyn hanya tersenyum, kemudian mengarahkan gunting itu pada hoodie yang aku kenakan.


“Jangan!” aku terus memohon pada Brooklyn.


“Diam atau gue tusuk perut lo.” Mata Brooklyn melototi ku sambil mengarahkan gunting ke perut ku, seolah hendak menancapkan gunting itu di perutku.


“Khen, lo dimana?” gumamku dalam hati, air mataku terus mengalir di pelupuk mata.


Brooklyn mengunting hoodieku dari bawah ke atas.


“Aku cinta kamu, Syana.” Tutur Brooklyn, tersenyum sambil mengunting hoodie milikku.


“Nggak! Ini bukan cinta namanya." 


"Lo nggak pantes buat dicintai.” lanjut ku, geram.


Saat Brooklyn kewalahan mengunting hoodie ku yang tebal, aku melihat kaki seseorang yang menghantam kepala Brooklyn dengan sangat keras sehingga membuat Brooklyn terjatuh di sampingku.


Aku buru-buru berdiri dan menutupi dadaku dengan hoodie yang hampir terbelah karena di gunting oleh Brooklyn.


“Khenzie!” kataku, begitu melihat wajah orang yang baru saja menghantam Brooklyn.


“Syan, menjauh.” Pinta Khenzie

__ADS_1


Khenzie kembali melayangkan tinjunya di perut Brooklyn, Brooklyn sempat melawan tapi Khenzie berhasil membuat Brooklyn tak berdaya. Khenzie memaki Brooklyn, aku bisa melihat urat-urat leher Brooklyn mengencang dan wajahnya yang memerah.


“Berani-beraninya lo nyakitin Syana.”


“Khen, udah!” aku menahan tangan Khenzie, yang hendak memukul wajah Brooklyn yang sudah membiru.


Khenzie mendengarkan permintaan ku, ia mengalihkan pukulannya di tanah sebagai pelampiasan kemarahannya.


“Lo nggak kenapa-napa kan?” Khenzie bertanya padaku, matanya berbinar, tangan Khenzie bergetar begitu melihat wajahku yang memerah.


Aku menggelengkan kepalaku sembari menahan tangis, Khenzie melepas hoodie miliknya dan memberikan hoodie itu padaku.


“Pakai hoodie gue.”


Aku mengambil hoodie milik Khenzie kemudian berjalan ke belakang pohon untuk mengganti hoodie yang aku kenakan. Setelah selesai memakai hoodie milik Khenzie, aku kembali menemui Khenzie.


“Khen, makasih.” Tuturku pada Khenzie, yang mengamankan Brooklyn agar dia tidak melarikan diri.


Khenzie mendekatiku lalu memelukku, ia mengelus pelan rambutku.


“Syan, maafin gue karena nggak bisa dateng lebih awal. Lo pasti ketakutan menghadapi makhluk seperti dia.” Tutur Khenzie, sambil mengelus rambutku.


“Kami sudah berhasil mendapatkan sabu-sabu yang ada di bagasi mobil saudara Brooklyn.” Tutur polisi yang baru saja datang dengan kedua temannya.


Saat mendengar suara polisi itu, Khenzie langsung melepaskan pelukannya dari ku.


“Dia orangnya Pak, silakan dibawa.” Khenzie menunjuk Brooklyn yang terbaring tak berdaya di tanah setelah mendapat hantaman dari Khenzie.


Polisi pun meringkus Brooklyn.


“Kami minta kalian berdua agar ikut bersama kami, untuk kami mintai keterangan.” Pinta Pak Hartawan pada kami berdua, aku mengetahui nama Komandan polisi itu dari nama yang ada di seragamnya.


Pak Hartawan pun mengiring Brooklyn untuk masuk ke dalam mobil dinas kepolisian, Khenzie mengajakku untuk menaikki motor bersamanya, kami pun berangkat menuju kantor polisi. Di perjalanan menuju kantor polisi, Khenzie berulang kali bertanya apakah aku baik-baik saja dan aku berulang kali juga menyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.


“Brooklyn harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.” Kataku, dengan emosional.


“Iya, kali ini Brooklyn benar-benar nggak bisa dimaafin.” Sahut Khenzie, yang mendengar perkataanku.


Di kantor polisi, aku melihat Brooklyn yang sudah berada di dalam kurungan begitu kami berjalan hendak menemui Pak Hartawan di ruang kerjanya.


“Saudari Arsyana, boleh jelaskan detail kronologi yang terjadi.” Pak Hartawan memintaku menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Aku menceritakan semuanya, mulai dari Brooklyn yang menelponku di pagi hari sampai detail yang terjadi di hutan buatan yang ada di Taman Cinta.


“Ini adalah hoodie saya yang dia gunting, Pak.” Tuturku, sembari menahan agar tidak menangis.


Pak Hartawan mengambil hoodieku kemudian menyimpannya di plastik sebagai barang bukti.


“Menurut pengakuan saudara Khenzie, orang yang pertama kali tahu kalau saudara Brooklyn menggunakan obat-obatan terlarang adalah saudari Arsyana. Apakah itu benar?” Pak Hartawan bertanya untuk memastikan kebenaran yang di sampaikan oleh Khenzie.


“Iya Pak, waktu itu saya membawa Brooklyn ke rumah sakit dan dokter yang menangani Brooklyn mencurigai bahwa Brooklyn menderita dehidrasi akibat terlalu banyak menyuntik obat-obatan terlarang. Di dalam darahnya juga terdapat zat yang sama dengan sabu-sabu serta terdapat banyak bekas suntikkan di pergelangan tangannya.” Ungkapku.


“Baik kalau begitu, nanti kami akan mengusut lebih lanjut mengenai kasus pemakaian obat-obatan terlarang yang dilakukan oleh suadara Brooklyn. Saat ini, saudara Brooklyn ditahan atas kasus pelecehan seksual yang dia lakukan pada saudari.” Kata Pak Hartawan.


Dari luar ruangan, terdengar suara seseorang mengetok pintu ruangan Pak Hartawan.


“Silakan masuk.” Kata Pak Hartawan dari dalam ruangan.


“Selamat pagi, komandan.” kata polisi yang baru saja masuk ruangan Pak Hartawan.


“Ada apa, Arief?” tanya Pak Hartawan pada polisi yang menemuinya.


“Kami menemukan handphone, gunting serta anting di lokasi kejadian.” Pak Arief berkata sambil memberikan barang-barang yang sudah ia bungkus di dalam plastik berwarna putih.


Aku meraba telingaku begitu mendengar Pak Arief menyebutkan bahwa ada anting yang jatuh di lokasi kejadian dan benar saja, anting di telinga kananku sudah tidak ada.


“Itu anting saya, Pak.” Kataku, sambil menunjuk pasangan anting yang berbentuk lingkaran kecil.


“Anting yang ada di telinga saudari tidak usah dilepas, anting yang ditemukan oleh Arief bisa menjadi barang bukti.” Tutur Pak Hartawan padaku, yang hendak melepaskan antingku.


“Terima kasih untuk pernyataan dan kerja samanya.” Pak Hartawan mengulurkan tangannya padaku.


Aku langsung menyambutnya dan mengucapkan terima kasih padanya yang sudah menolong ku dari jerat penjahat seperti Brooklyn.


Pak Hartawan melakukan hal yang sama dengan Khenzie. Setelah selesai memberikan pernyataan kami pun keluar dari ruangan Pak Hartawan. Saat hendak pulang, kembali kami melewati Brooklyn yang berada di sel tahanan, aku hanya melihatnya dari ekor mataku.


“Lo udah sarapan?” tanya Khenzie, setelah kami keluar dari dalam kantor polisi.


“Blom.”


“Kita sarapan dulu, ya.”


Aku menerima ajakan Khenzie sembari mengangguk pelan. Khenzie mengajakku sarapan di tenda makanan yang ada di dekat kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2