KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 25 Murka


__ADS_3

Setelah Khenzie selesai menceritakan segalanya, Bang Aksa langsung beranjak sambil menggebrak meja dengan sangat keras, yang membuat seluruh pembeli yang ada disana terkejut tak terkecuali aku dan Khenzie.


“Dimana bajingan itu?!” Bang Aksa bertanya dengan tangan yang sudah terkepal dengan yang kuat.


“Sel tahanan, Bang.” Jawab Khenzie, singkat.


Bang Aksa pun bergegas menuju kantor polisi, dengan wajah yang semakin memerah.


“Gue harus ngehentiin Bang Aksa.” Kataku, tergesa.


Khenzie menahan tanganku, menghentikan langkahku.


“Jangan! Bang Aksa berhak buat marah.” wajah Khenzie mengencang.


“Terus gue harus gimana sekarang? Gue nggak mau Bang Aksa ditahan karena melakukan kekerasan, nama baiknya sebagai dokter bisa hancur gitu aja, Khen!”


“Sebentar.”


Khenzie membawaku menemui Pak Haji, Khenzie merogoh dompet di saku celananya, ia mengeluarkan uang sebanyak 30 ribu untuk membawa makanan kami.


Aku dan Khenzie berlari menuju kantor polisi, mengejar Bang Aksa yang sudah sangat jauh.


“Gue nggak rela kalo Bang Aksa sampai ditahan.” Aku berkata kepada Khenzie, sambil berlari menuju kantor polisi.


“Lo harusnya tahu, kenapa Bang Aksa melakukan hal seperti itu.” Tutur Khenzie, dengan napas yang terengah-engah akibat sedang berlari.


“Kenapa?”


“Karena dia menyanyangi lo, bagi seorang Kakak laki-laki nggak ada yang lebih penting daripada kehormatan adik perempuannya. Lo liat, Bang Aksa bahkan nggak memikirkan reputasi dia, bagi dia sekarang adalah elo, adik perempuannya.” Jawaban Khenzie membuatku benar-benar tersentuh, aku tahu bahwa Bang Aksa begitu menyayangiku tapi aku juga tidak mau dia terkena masalah dan menghancurkan karirnya sendiri.


Aku melihat Bang Aksa yang menemui Arief (Bawahan Komandan Hartawan), sempat terlintas di dalam benakku kalau Bang Aksa sudah memukul Brooklyn tapi hal itu dipatahkan begitu aku melihat Brooklyn yang masih ada di dalam sel tahanan dan terlihat baik-baik saja.


“Bang.” Panggilku, begitu kami mendekati Bang Aksa.


Bang Aksa pun beranjak, begitu pun dengan Arief. Bang Aksa dan Arief berjalan mendekati sel tahanan dimana Brooklyn ditahan, aku dan Khenzie mengekor di belakang mereka.

__ADS_1


“Mau ngapain, Bang?” aku bertanya pada Bang Aksa, yang sedang menatap serius wajah Brooklyn.


Bang Aksa tidak menjawab pertanyaanku, aku melihat tangan Bang Aksa yang bergetar, hal ini sering terjadi saat Bang Aksa mencoba menahan emosinya yang sedang memuncak.


“Bang tenang ya.” Bisikku pada Bang Aksa, aku mengelus tangan Bang Aksa.


Arief pun membuka pintu sel tahanan dan Bang Aksa langsung masuk ke dalam sel tahanan. Begitu masuk ke sel tahanan, Bang Aksa langsung menghantam kepala Brooklyn dan memukul perut Brooklyn.


Bang Aksa memukul Brooklyn sambil meneriakkan makian pada Brooklyn , membuat Brooklyn tersungkur ke lantai, Bang Aksa meludahi lantai yang hampir saja mengenai wajah Brooklyn.


“Udah Bang, udah.” Kataku, aku menarik tangan Bang Aksa, memintanya keluar dari sel tahanan.


Bang Aksa mendonggakkan kepalanya ke atas lalu menghela napas.


“Udah ya, kita pulang sekarang.” Lanjutku, menatap wajah Bang Aksa yang berkeringat.


Bang Aksa menatapku untuk sepersekian detik kemudian dia duduk di hadapan Brooklyn yang sedang terbaring sambil memegang perutnya.


“Lo harus bersyukur karena ini kantor polisi, kalo enggak? Mungkin saat ini lo udah dijemput sama malaikat maut.” Pungkas Bang Aksa pada Brooklyn, matanya memerah menatap Brooklyn.


Bang Aksa beranjak dan menarik tanganku, kami meninggalkan Brooklyn.


“Makasih, Rief. Udah ngizinin gue buat masuk ke sel tahanan.” Kata Bang Aksa pada Arief.


“Iya, Sa. Sama-sama.” balas Arief.


“Lo harus bawa dia ke rumah sakit tapi jangan ke rumah sakit gue, gue nggak tahu apa yang akan terjadi nantinya kalau gue ketemu sama dia lagi.” Tutur Bang Aksa, melirik Brooklyn yang terduduk lemas.


“Iya, iya.”


“Gue pulang dulu. Inget, lo harus menghukum dia seadil-adilnya, gue nggak mau mendengar kabar dia keluar dari penjara begitu aja.”


“Iya, gue yang jamin.”


“Makasih, ya.” Kata Bang Aksa pada polisi itu, sambil menepuk bahu Arief kemudian berlalu.

__ADS_1


Aku pun pulang bersama Bang Aksa, sementara Khenzie pulang ke rumah seorang diri.


“Bang Aksa kenal sama polisi tadi?” tanyaku pada Bang Aksa, yang sedang fokus menyetir.


Bang Aksa melirikku yang ada di sampingnya.


“Siapa? Arief?"


Aku mengangguk pelan.


“Dia teman Bang Aksa waktu SMA.” jelas Bang Aksa.


Suasana terasa hening untuk beberapa saat, hingga saat lampu merah, Bang Aksa menatap wajahku dengan tatapan sendu.


“Abang nggak bisa banyangin betapa mengerikannya kejadiaan yang kamu alami.” Tutur Bang Aksa, mata Bang Aksa berkaca-kaca menatap mataku.


“Bang Aksa jangan nangis dong, Syana nangis juga jadinya.” Suaraku mulai bergetar


Bang Aksa menyeka air mata yang mengalir di pipinya.


"Nggak, Bang Aksa nggak nangis kok." Kata Bang Aksa, mengelak.


“Kita ke psikiater ya, sekarang.” Bang Aksa mengajakku menemui psikiater.


“Ngapain?” aku bertanya kenapa Bang Aksa mengajakku menemui psikiater.


“Konsultasi soal keadaan kamu dan minta obat supaya kamu lebih tenang.” Jelas Bang Aksa padaku, dengan wajah yang serius menatapku.


“Nggak, Syana nggak mau ke psikiater. Syana perlu istirahat aja.”


“Kamu yakin?” tanya Bang Aksa, memastikan.


“Iya, yakin.” Jawabku, memastikan bahwa aku hanya perlu istirahat.


“Oke.”

__ADS_1


__ADS_2