KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 12 Dia Bisa Salah Paham


__ADS_3

Pulang sekolah, aku berencana mengajak Elina dan Khenzie untuk pergi ke Mall.


“Main dulu, yuk!” ajak ku pada Elina dan Khenzie, yang sedang membereskan buku-buku mereka.


“Kemana?” tanya Elina.


“Mall, nonton film. Gimana mau nggak?”


“Ayo aja sih.” Sahut Elina, ia melirik Khenzie.


Aku dan Elina menatap Khenzie, Khenzie yang semula sibuk dengan buku-buku tugas yang dikumpulkan oleh murid-murid akhirnya menyadari bahwa kami sedang menatapnya.


“Gue mau jaga store.” Khenzie melihatku sekilas.


“Yaelah sekali ini aja, lo kan punya karyawan Khen. Minta tolong karyawan lo dulu buat jagain store es krim, ya, ya, mau ya.” Pintaku pada Khenzie, aku mengedipkan mataku dengan dagu yang di topang oleh kedua tangan.


Khenzie menghela napas, ia menunduk untuk sepersekian detik, lalu mengiyakan ajakan ku dan Elina, meskipun terdengar terpaksa tapi kami senang Khenzie menyetujui ajakan kami.


Aku dan Elina bersorak senang, begitu Khenzie menyetujui untuk ikut bersama kami. Kami pun berangkat menggunakan busway, di busway kami berdiri karena kursi sudah penuh oleh penumpang.



📷: Pinterest


“Abis nonton mau kemana?” aku bertanya pada Elina yang berdiri di depanku sementara Khenzie berdiri di sampingku, sambil memegang handle dengan erat untuk menjaga keseimbangan.


“Gimana kalo....”


Belum selesai Elina dengan perkataannya tiba-tiba Khenzie menarik tanganku, membuatku bergeser ke samping.


“Cowok tadi hampir nabrak lo.” Jelas Khenzie, begitu melihat reaksiku yang terkejut.


Sejenak aku melirik Elina, dari tatapannya aku bisa merasa Elina sedang cemburu.


“Tadi lo mau bilang apa, El?” aku meminta Elina melanjutkan perkataannya.


“Lupa gue.” Elina menjawab pertanyaan ku dengan senyum tipis di wajahnya.


Sebelum masuk ke studio 2, tempat film yang kami tonton di putar. Khenzie memberikan kami minuman dingin, Khenzie juga memberikan aku popcorn rasa caramel.


Kami masuk ke studio dua, kami duduk di kursi J1, J2, J3. Khenzie duduk di antar aku dan Elina, aku menyandarkan kepala ku di kursi begitu film di mulai.

__ADS_1


“Kalian berdua kok nggak nangis sih? Sedih tahu ceritanya.” Aku melihat Elina dan Khenzie yang fokus memperhatikan filmnya.


“Sedih gimana? Orang pacarnya cuma pergi bertugas.” Sahut Elina, yang menjelaskan bahwa tokoh utama pria pergi bertugas untuk menjaga perairan bali, tokoh pria itu seorang TNI AL.


“Ya kan mereka jadinya LDR.”


“Udah ya , Syan. Tonton aja, nggak usah ke bawa suasana.” Elina nampaknya sangat fokus pada alur ceritanya, tatapan matanya tak teralihkan dari layar lebar yang ada di depan.


“Liat sunset,yuk!” ajak ku begitu keluar dari bioskop,  aku melihat jam di pergelangan tanganku, waktu menunjukkan pukul 5 sore.


Aku membawa Khenzie dan Elina menuju rooftop Mall, dari rooftop Mall yang memiliki 8 lantai ini kami bisa melihat dengan jelas langit berwarna jingga yang begitu menawan terlukis dengan apik di langit sore ini. Kami bertiga duduk di bangku panjang yang ada disana, Elina duduk di samping kanan ku sementara Khenzie duduk di samping Elina, aku tersenyum senang melihat Elina yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat duduk di sebelah Khenzie.


“Masa SMA gue jadi lebih berwarna karena kalian, makasih ya.” Aku mengungkapkan isi hati dengan tersenyum, sambil memandang langit senja.


“Syan.” Elina memanggilku, aku menoleh ke arahnya.


“Boleh minta tolong, nggak?” Elina melanjutkan perkataanya.


“Apa?” aku bertanya karena penasaran.


“Tolong fotoin gue sama Khenzie.” Elina menatap Khenzie dengan senyuman lebar di wajahnya.


Aku tersenyum sambil beranjak, mengambil ponsel milikku yang ada di dalam tas. Aku berdiri di depan mereka dengan jarak 5 meter, aku mengarahkan kamera ponselku pada Khenzie dan Elina. Aku melihat interaksi mereka dari kamera ponselku, terlihat Elina sedang merapikan baju Khenzie.


“Udah siap,blom?” aku bertanya pada mereka.


Elina tersenyum, mengacungkan jempolnya, mengartikan bahwa dia sudah siap untuk di foto.


“1...2...3.” aku menghitung mundur. Di hitungan kedua, Elina merangkul tangan Khenie sambil tersenyum lebar.


Lima foto mereka berhasil aku abadikan, aku senang melihat Elina yang menunjukkan perhatiannya pada Khenzie.


“El.” Khenzie tiba-tiba memanggil Elina, saat aku menunjukkan foto-foto manis mereka.


Elina menyahut panggilan Khenzie, mengeluarkan suaranya yang lembut, dengan senyuman lebar di wajahnya terlihat rona bahagia terpancar di wajahnya.


“Boleh minta tolong, nggak?” tanya Khenzie pada Elina.


Elina langsung mengangguk, ia terlihat senang menjawab pertanyaan Khenzie, ia tersenyum cerah.


“Fotoin gue berdua sama Syana, ya.” Pinta Khenzie, nada suaranya lugas membuat suasana terasa canggung antara aku dan Elina.

__ADS_1


“Boleh.” Elina mengiyakan permintaan Khenzie setelah terdiam sejenak, senyum di wajahnya perlahan menghilang.


Aku duduk di samping Khenzie, sejenak aku mengernyitkan keningku sambil menatap Khenzie.


“1...2..3.” Elina menghitung mundur, dengan cepat.


Baru saja Elina mulai menghitung, Khenzie langsung merangkul tanganku, aku sontak melihatnya, Khenzie tersenyum melihat ke arah kamera, membuatku sejenak berpikir apakah Khenzie sengaja melakukan itu untuk membuat Elina cemburu supaya dia tahu seberapa serius Elina menyukainya.


“Lo salah sih, Khen. Nggak gini caranya buat ngetes rasa suka cewek.” Gumam ku, menatap Khenzie sambil menggeleng-gelengkan kepalaku tak habis pikir.


Di kamar, aku berbaring sambil melihat-lihat foto yang aku ambil saat di Mall tadi.


“Khen, gue harap suatu hari lo bisa liat kalau Elina benar-benar suka sama lo.” Aku bergumam sambil menatap foto Khenzie dan Elina, kebahagian dan ketulusan terpancar jelas di mata Elina saat menatap wajah Khenzie yang berhasil aku abadikan dalam gambar.


Aku mengeser foto itu, selanjutnya foto aku dan Khenzie yang terlihat. Baru saja aku melihat foto itu, tiba-tiba aku mendapat panggilan video dari Brooklyn. Aku buru-buru beranjak duduk, merapikan rambutku kemudian menerima panggilan vidio dari Brooklyn.


“Sayang.” Aku melambaikan tangan pada Brooklyn, begitu wajah Brooklyn terlihat.


“Kamu lagi apa?” Brooklyn bertanya padaku, layar ponselku terisi penuh dengan wajahnya.


“Besok kayaknya aku nggak sekolah deh.” lanjutnya, suara Brooklyn terdengar berat.


“Kamu sakit?” aku teringat bahwa tadi suhu badan Brooklyn terasa panas, aku bisa merasakan suhu badannya yang panas saat tangan mencengkram tangan ku.


“Enggak sakit sih cuma badan aku capek aja.” Mata Brooklyn terlihat sayu, seperti mengantuk.


“Maafin aku ya, soal tadi siang, aku nggak bisa ngedaliin diri aku.” Aku menyesali perbuatanku pada Brooklyn.


“Gapapa, maaf ya, aku tahu tadi siang nggak seharusnya aku kayak gitu.” Brooklyn tersenyum manis menatapku, dari layar ponsel.


“Pulang sekolah, aku boleh ke rumah kamu nggak?” aku berniat untuk menjenguk Brooklyn karena menurutku dia tidak hanya kecapekan tapi dia sedang sakit.


“Nggak usah, sayang. Aku baik-baik aja kok.”


“Beneran?” tanyaku, memastikan.


“Iya, cuma perlu istirahat aja.” mata Brooklyn terlihat sayu.


“Yaudah, kalo gitu... kamu istirahat ya sekarang.”


“Iya, dah.”

__ADS_1


Brooklyn mengakhiri panggilan


__ADS_2