KITA: Kisah Yang Tak Berirama

KITA: Kisah Yang Tak Berirama
Bab 22 Minggu yang Tak Ramah


__ADS_3

Di hari minggu, pukul 07.19 WIB. Aku mendapatkan panggilan telephone dari nomor yang tidak di kenali, aku menerima panggilan telephone itu sambil mendekatkan handphone ku di telinga.


“Hallo.” Kataku, yang baru selesai mencuci wajah.


“Sayang.”


“Brooklyn.” Kedua bola mataku terbuka lebar begitu mendengar suara Brooklyn.


Aku memperhatikan nomor telepon itu dan itu bukanlah nomor telepon Brooklyn, aku memang sudah menghapus nomor Brooklyn tapi aku masih menghapalkannya, sepertinya Brooklyn mengganti nomor telephonenya karena aku sudah memblokir nomornya dari ponselku.


“Jalan, yuk."


“Nggak! Gue nggak mau ketemu sama lo lagi.” Aku langsung menolak ajakan Brooklyn yang mengajakku bertemu dengannya.


“Taman Classic, jam 09.00” sepertinya Brooklyn memintaku untuk menemuinya disana.


“Gue nggak mau!”


“Kamu yang kesini atau aku yang ke rumah kamu?”


Brooklyn memberikan dua pilihan yang sebenarnya tidak ingin aku pilih. Aku mendengus lalu tersenyum sinis.


“Oke, gue kesana!”


Aku menerima ajakkan Brooklyn setelah mempertimbangkan segalanya.


“Makasih, aku tunggu ya sayang.”


Taman Classic terkenal dengan suasananya yang tenang, sehingga merasa aman jika bertemu dengan Brooklyn di sana. Biasanya di hari minggu banyak orang-orang yang berolahraga di sana atau bahkan sekedar menenangkan diri karena di sana juga ada hutan buatan di mana banyak pohon-pohon yang menambahkan kesejukan Taman Classic, aku berharap hari ini Taman Classic ramai di kunjungi oleh orang-orang seperti biasanya.


“Pergi atau enggak, ya?” tanyaku pada diri sendiri, yang tiba-tiba ragu.


Aku duduk di pinggir kasurku sejenak, sambil menggigit kuku ibu jariku. Di tengah keraguan, aku berinisiatif untuk menelpon Khenzie.


“Hallo, Khen.” Tutur ku, begitu Khenzie menerima panggilan dari ku.


“Iya, kenapa?”


“Lagi apa?”


“Sarapan, tumben banget lo pagi-pagi udah nelpon. Kangen ya?”


“Apaan sih?! Khen gue lagi serius.”


“Iya, gue juga kok. Siapa bilang gue bercanda.”


“Ih Khenzie!”

__ADS_1


Khenzie tertawa begitu mendengarku yang berteriak kesal padanya.


“Kenapa? Ada apa sebenarnya ini, Bu Syana?”


“Brooklyn ngajakin gue ketemuan.”


“Jangan pergi! Ngapain?” Khenzie mendadak menjadi serius begitu mendengar bahwa Brooklyn mengajak aku bertemu."


“Kalo gue nggak ke sana, dia ngancem mau ke rumah. Gue takut.”


“Ketemuan dimana?”


“Taman Classic.”


“Oke.” Khenzie mengakhiri panggilan dari ku tanpa menjelaskan maksud dari tanggapannya.


Aku mengambil hoodieku yang ada di lemari, kemudian menemui Brooklyn di Taman Cinta.


“Gue udah di taman ni, lo dimana?” tanyaku, menelpon Brooklyn sesampainya aku di taman cinta.


Tidak seperti biasanya, hari ini aku tidak melihat satu pun pengunjung Taman Cinta selain Brooklyn yang sebentar lagi akan menemui ku.


“Bangku taman, dekat hutan buatan.” Brooklyn menjawab pertanyaan ku tanpa perasaan ragu sedikitpun.


“Hutan buatan?" Aku melihat sekeliling Taman yang begitu sunyi, semilir angin menerbangkan helaian rambut ku.


“Terus, kamu mau dimana?”


“Gue lagi di dekat air mancur, kita ngobrol disini.”


“Oke.”


Aku menyudahi panggilanku pada Brooklyn, kemudian duduk di bangku yang ada di depan air mancur sembari menunggu Brooklyn datang, alasanku mengajak Brooklyn untuk duduk di depan air mancur adalah karena tempat ini sangat dekat dengan jalanan, sehingga membuatku merasa aman.


“Hei.” Brooklyn menyapaku dengan senyuman cerah di wajahnya.


Aku tersenyum, dengan raut wajar datar.


“Mau ngomong apaan?” tanyaku, setelah Brooklyn duduk di sampingku.


Brooklyn menatap mataku, ia bergeser agar lebih dekat denganku, aku mulai merasa tidak nyaman.


“Jangan macem-macem, ya.” Aku mengancam Brooklyn agar tidak melewati batasnya.


Tangan Brooklyn tiba-tiba merangkul pundak ku, aku langsung beranjak dari tempat duduk.


“Jangan macem-macem lo ya!” aku kembali mengancam Brooklyn.

__ADS_1


Diam-diam aku membuka catatan di handphoneku dan menulis s.o.s disana, untuk menandakan bahwa aku sedang membutuhkan pertolongan.


“Gue nggak akan macem-macem sama orang yang gue sayang.”


Brooklyn beranjak dari tempat duduknya sembari tersenyum menatapku, ia mendekatiku sementara aku terus melangkah mundur untuk menjauhinya.


“Tolong, jangan sakitin gue.” Aku memelas pada Brooklyn, Brooklyn hanya tersenyum menatapku membuat aku bergidik.


Brooklyn menarik tanganku, ia mencengkram tanganku dengan keras.


“Sayang, aku nggak bakal nyakitin kamu. Apa yang akan kita lakukan ada hal yang paling menyenangkan, aku akan memuaskan kamu sampai akhir.” Tutur Brooklyn, dengan cengkraman yang kuat di tanganku.


“Brengsek!” aku memukul dada Brooklyn sekuat yang aku bisa saat ini.


Brooklyn mencengkram tanganku yang aku gunakan untuk memukul dadanya, ia kemudian mengendongku secara paksa. Kali ini aku benar-benar ketakutan dengan apa yang akan terjadi, orang-orang berlalu-lalang tidak memperhatikan kami.


“Tolong jangan sakitin gue, Lyn.” Aku memohon pada Brooklyn, dengan isak tangis.


“Lagi ngapain kalian?” tanya seorang satpam, yang menemui kami saat Brooklyn hendak membawaku masuk ke hutan buatan yang ada di Taman Cinta.


“Biasa Pak, pacar saya lagi marah.” Brooklyn menjawab pertanyaan satpam itu dengan sangat tenang.


Aku menatap satpam itu dengan wajah memelas, berharap dia mengerti bahwa aku sedang membutuhkan bantuan.


“Jangan berantem disini.” Ucap satpam itu, kemudian berlalu.


Brooklyn kembali berjalan begitu satpam itu sudah tidak terlihat.


“Liat, bahkan semesta merestui aku.” Ucap Brooklyn, tersenyum picik.


Aku menjatuhkan handphone ku dengan sengaja, berharap ada seseorang yang mengerti sinyal yang aku berikan lewat wallpaper handphone ku, aku menjadikan catatan S.O.S  sebagai wallpaper handphone dengan harapan handphone ku di temukan dengan secepatnya.


“Sayang.” Brooklyn menurunkan aku dari gendongannya, saat sudah masuk lebih dalam di hutan buatan.


“Sayang.” Brooklyn menurunkan aku dari gendongannya, saat sudah masuk lebih dalam di hutan buatan.


Aku sempat melarikan diri, namun Brooklyn kembali berhasil menangkap ku dengan cengkraman tangannya.


“Jangan sakitin gue, Lyn.” aku memelas pada Brooklyn, yang mengelus wajahku.


Brooklyn tersenyum picik lalu menarik punggungku agar lebih dekat dengannya, Brooklyn mencium bibirku secara paksa, aku langsung mendorong tubuhnya sekuat yang aku bisa saat ini. Brooklyn kembali mendekatiku, aku meludahi wajah Brooklyn, yang membuat Brooklyn marah dan menampar pipiku dengan sangat keras, aku bisa merasakan panasnya pipiku yang ditampar oleh Brooklyn. Brooklyn menarik tanganku, lalu mendorong tubuhku hingga jatuh ke tanah, Brooklyn memeluk tubuhku dengan sangat kuat sampai-sampai aku merasa sesak.


Aku memaki Brooklyn dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki.


“Lyn, tolong. Jangan macem-macem.” Pintaku sekali lagi, memohon agar Brooklyn tidak berbuat nekat.


“Bukannya kamu sendiri yang terus menggoda ku, sayang.” Brooklyn meraba tubuhku sambil duduk di atas perutku, aku berulang kali menepis tangan Brooklyn dan berulang kali juga dia menampar pipiku.

__ADS_1


“Kapan? Gue nggak pernah menggoda elo, brengsek!”


__ADS_2