
Artha benar - benar mencairkan suasana, ke tiga orang tadi merasa aneh mendengar Athena tiba-tiba bicara panjang lebar. Karena sejak mereka bertemu gadis itu lebih banyak diam.
"Mikirnya ntar aja. sekarang kita makan dulu," Athena bicara lagi. "Laper,"
Artha benar - benar ngakak melihat ekspresi aneh tiga kawan baru mereka.
Bagi Dayu dan kedua temannya memang terasa aneh, tapi mereka tidak ambil pusing dan segera ikut tertawa, laper juga soalnya.
"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Dayu pada Athena. Terlihat jelas sejak tadi Dayu memperhatikan gadis itu.
"Kayaknya mau balik hotel dulu, istirahat. Kalau ga capek balik nanti malam. Tapi kalau capek banget balik besok pagi aja." jawab Athena.
"Oh... kalian bawa mobil sendiri?" tanya Dayu lagi.
"Iya." jawab Athena.
"Kalau ga sih, kita pulang bareng aja. Satu kota kan?" Terlihat wajah Dayu tampak berharap.
"Hehehe Terima kasih."
"Boleh minta no. hp?" ujar Dayu.
Athena terdiam. Tidak berniat memberikan no. ponselnya.
Dayu tersenyum. "semoga kita bisa ketemu lagi...."
Athena tersenyum ragu.
*** *** ***
"Na, si Dayu kamu tolak ya? mukanya asem gitu..." ujar Artha saat berjalan kembali ke hotel.
__ADS_1
"Kagak," jawab Athena.
"Jadi kamu terima?"
"Kagak juga,"
"Loh?!?!"
"Nah, orang dia kagak nyatain cinta, gimana aku harus nerima atau nolak, Artha...."
"Trus, dia ngapain pasang muka ada sesuatu gitu?"
"Minta no telp."
"Kasih ga?!"
"Kagak...!"
"Ya ampun, Naaaa ......!!!" seru Artha. "shining Shimmering, Splendid gitu, minta nope doang ga dikasih???"
"Iya bu guru. Jangan panjang - panjang tausiahnya." Artha kalem.
"Jaman sekarang bu guru ngasih tausiyah juga ya?"
"Kamu mandi dulu deh.... aku mau rebahan bentar." Artha mengalihkan pembicaraan.
"Awas jangan tidur...!" seru Athena sambil beranjak.
Lumayan seger mandi air hotel, sedari tadi badan masih berasa lengket. Dan.... Artha sudah sukses jatuh ke alam mimpi.
Athena tersenyum, lantas meriksa handphone-nya. Mengirim kabar ke Ayahnya, kirim foto liburan juga. semoga Ayah bisa melewati semua ini.
__ADS_1
Athena menatap langit - langit kamarnya. Rasa sakitnya belum hilang tapi sedikit berkurang. Bukan tidak peka bahwa Dayu memberikan perhatian lebih, tapi gadis itu masih belum sanggup menanggalkan rasa sakitnya. masih pilu. Bukan tidak siap untuk bahagia, tapi dia masih enggan beranjak. Sibuk merasa nyeri yang berasal dari tempat yang tidak terjangkau.
"Na, bangun....!!" ujar Artha.
"Hm...." gumam Athena.
"Jadi lihat sunset ga?"
"Jam berapa?"
"Jam 17 nih "
"Ya ampun, belum Ashar." Athena segera beranjak.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berjalan keluar hotel. Mereka hanya perlu menyeberang jalan maka pemandangan laut sudah terhampar di hadapan mereka. Tinggal cari spot yang bagus buat foto-foto.
"Tha, makasih banget ya.... untuk kesabaran kamu, untuk waktu yang kamu luangkan untukku. Sampaikan terima kasih dan juga maafku pada mas Fadhil. Dua Minggu ini aku menyabotase kekasihnya." ujar Athena saat mereka sudah mendapatkan tempat duduk yang nyaman.
"it's okay, Na. Aku seneng bisa berada di samping kamu, nemenin kamu melewati moment yang akan jadi kenangan suatu hari nanti." jawab Artha.
"Iya, suatu hari kita akan mentertawakan kebodohan - kebodohan masa lalu kita. Kita akan tersenyum dan merasa bodoh sekali aku ini, meratapi lelaki brengsek macam dia," Athena tertawa kecil. "Semoga aku segera bisa menanggalkan kegelisahanku. Bukan Baruna atau orang lain. Tetapi akulah yang harus membuat diriku bahagia."
Artha sekuat tenaga menahan air matanya. Merasakan perih luka sahabatnya.
Semoga senja ini menjadi satu-satunya senja yang meluluh lantakkan hati sahabatnya, semoga mentari esok dan seterusnya juga senja hari esok dan seterusnya adalah kebahagiaan. Aamiin. batin Artha.
"Tha, besok kalau kita dah sama - sama married, double date ke sini ya...." ujar Athena. "Love story. menghapus jejak air mata dengan senyuman."
"Orang patah hati sama jatuh cinta emang beda tipis ya...." sahut Artha.
"Hm....?" Athena menoleh.
__ADS_1
"Iya, jadi sok Romantis."
to be continued...