
Hari masih gelap saat Dayu keluar dari kamar hotel tempat dia menginap bersama kedua kawannya. Juna dan Brian. Dua orang itu masih lelap tak bergerak sama sekali. Mungkin sedang mimpi jadi batu.
Dayu memeriksa kelengkapan kamera kesayangannya. Pagi ini dia hendak mengabadikan momen matahari terbit di pantai yang terkenal dengan keindahan sunrisenya. Bagi Dayu sunrise selalu istimewa dimanapun dia mengambil foto. Semacam harapan baru yang menyapa umat manusia.
Setelah beberapa saat Dayu menemukan spot yang menurutnya instagramabe. Aesthetic.
Semburat merah sudah mulai nampak, perlahan berubah warna menjadi oranye. Dayu tidak melepaskan moment indah itu. Dengan cekatan dia mengambil banyak foto. Hingga tak sengaja dia menemukan fokus lain. Ada siluet cantik yang duduk diatas pasir pagi yang dingin ini.
Gadis itu.
Dayu segera beraksi, menjadikan gadis itu sebagai model dalam jepretan kameranya. Setelah lumayan banyak, Dayu berjalan mendekat. My destiny, batinnya.
“Mau foto? Sini aku bantu…” ujar Dayu.
Athena menoleh, menatap dengan asing. Tanpa menunggu jawaban Dayu mengambil kamera di tangan Athena dan berjalan mundur. Tanpa memberi aba - aba Dayu mulai cekrak cekrek.
Gadis masih terpaku, sesaat kemudian dia mengerti dan mengambil pose sesuai moodnya.
“Cantik…” ujar Dayu sambil menyerahkan kamera kepada pemiliknya.
__ADS_1
“Hmmmm??” Athena bingung.
“Mataharinya………” lanjut Dayu sambil tersenyum dan kemudian berlalu.
“Terima kasih…” ujar Athena.
Dayu masih sempat mendengar gadis itu berucap terima kasih. Jantungnya tiba - tiba irreguler, berdetak tak menentu. Seperinya aku jatuh cinta, gumam Dayu.
*** *** ***
Kemarin Dayu masih gegana karena tidak berhasil mendapatkan nomer hp Athena. Bahkan saat pulang nampak sekali dia kecewa. Juna dan Brian sampai heran.
Pasti dikatain ga guna punya wajah tampan, nomer hp aja ga bisa dapet. Usaha brooo... terbayang bully-an Juna dan Brian yang suka seenak udelnya.
Senyum Dayu merekah, melihat Athena ternyata satu tempat kerja dengannya. Untung ga ada kupu - kupu lewat, bisa nemplok tuh kupu-kupu saking merekahnya senyuman sampai dikira bunga. Harapannya kembali secerah sunrise saat liburan kemarin.
Hari ini dia terlambat bangun, jadi ga lihat sunrise, tahu - tahu matahari sudah tinggi. Hampir telat kerja. Siapa lagi kalau bukan mamah yang bangunin, alarm paling ampuh sedunia.
Langsung bangun pokoknya.
__ADS_1
*** *** ***
Di sisi lain. Athena nampak menunggu seseorang. Dia menunggu Dayu, menurutnya saat ini Dayu sedang ke HRD dulu setelah itu barulah masuk tim marketing. Tapi hari sudah hampir istirahat siang. Sudah jam 11 lebih. Kenapa anak itu belum muncul juga.
“Halo gais..... “ seru mas Vito, mas manajer marketing yang baru saja balik dari rapat. “Hari ini kita GM baru menggantikan GM yang pindah ke cabang lain.”
“Ganteng ga mas?” tanya Nindi.
“9 dari 10,” jawab Vito. “karena yang kegantengannya sempurna hanyalah aku seorang.”
‘Pret...!” sahut Nindi cepat.
“Orangnya kayak gimana?” tanya Athena.
“Cerdas. Sepertinya dia sudah berpengalaman. Pertanyaan - pertanyaan tentang marketing, operasional, dan juga anggaran sangat detail.”
“Ga papa, yang penting ganteng. GM yang sebelumnya udah bapak - bapak, kalau pas dipanggil, trus kena semprot ga enak banget. Kalau ganteng kan minimal, ga papa deh kena marah sama orang ganteng,” sahut Nindi langsung kena smirk orang satu tim.
"Tetap pertahankan kinerja sesuai SOP ya gais, kita belum tahu di lapangan nanti mas GM akan seperti apa. Tetep semangat, tetep low profil, tetap jaga kekompakan, jangan lupa ide - ide cemerlang untuk promote produk. Sekian pengumuman dari mas Manager ganteng, mari kita makan siang dulu." tutup Vito.
__ADS_1
to be continued...