KRISNA (JODOH PILIHAN AYAH)

KRISNA (JODOH PILIHAN AYAH)
3. Kandas


__ADS_3

Baruna, perkenalannya terjadi 3 tahun lalu, setahun kemudian resmi pacaran, dan setelah satu setengah tahun naik tingkat jadi tunangan, dan dua minggu lagi rencana menuju next level.


Pernikahan.


Tapi malam ini. Kandas.


Athena tak ingin mendengar apapun. Apa yang dilihatnya sudah cukup. Perselingkuhan tak pernah bisa diterima. Tak perlu dimaafkan. Sekali selingkuh, jika dimaafkan akan terulang lagi. Tapi belum tentu juga si Baruna akan minta maaf atau setidaknya menyesal dan ingin bertahan. Lihat saja. Ponselnya sepi. Tak ada telp tak ada chat. Tak ada inisiatif untuk menjelaskan pertunjukan macam apa tadi.


Athena geleng-geleng kepala, aku terlalu percaya diri, sakit memang. Tapi aku perlu alasan kenapa dia berkhianat seperti ini. Apakah ini kesalahanku atau memang dia yang tidak bisa dipercaya.


Sudah berulang kali gadis itu merubah posisi tidurnya, berkali-kali membolak-balik ponselnya.


Seminggu berlalu, yang menelponnya bukan si mantan. Tapi Ayah.


Satu Minggu ini tidak ada kabar dari Baruna, tidak ada telpon juga.


Entah masih hidup atau sudah berbeda alam.

__ADS_1


Apa mungkin dia masuk rumah sakit gegara cedera punggung akibat bantingannya.


Entahlah.


Siang tadi, Athena menerima notifikasi bahwa WO sudah dibatalkan. Catering sudah dibatalkan. Undangan yang seharusnya sudah diantar ke rumah juga cancelled. Athena tidak ingin mengambil undangan itu, biar dihancurkan di percetakan saja. Terserah mereka.


Dan malam ini Ayah menelpon. Apa yang harus aku katakan??? batin Athena.


Ponselnya berdering lagi, Athena terkejut dan reflek menerima panggilan itu. Dan sekarang gadis itu termangu….


“Assalamu’alaikum, Ayah….” ujarnya terbata.


“Iya, sebentar lagi. Ayah apa kabar?” Athena masih berusaha tenang.


“Ayah baik - baik saja nak, bagaimana denganmu?”


“Aku juga baik, yah………..”

__ADS_1


“Sabar ya, nak. Ayah percaya, Tuhan akan memberimu jodoh yang lebih baik. Bersyukurlah, kejadian ini tidak terjadi di hari pernikahanmu, sehingga kau tidak harus menanggung malu yang teramat sangat…..”


“A… ayah sudah tahu?”


“Tadi keluarganya datang, mereka dengan sombongnya mengatakan bahwa ini bukan masalah besar, dan mereka siap membayar ganti rugi dengan sejumlah uang.”


“Apakah Ayah terima uang itu?”


“Harga diri Ayah lebih tinggi dari berapapun mereka mampu membayarnya.”


“ Terima kasih, Yah.”


“Kau tenangkan dirimu dulu, ambilah cuti beberapa hari. Ajak temanmu, siapa itu namanya, Artha, untuk berlibur mencari udara segar. Urusan keluarga di sini adalah urusan Ayah, tidak usah cemas, tak perlu terbebani. Baik - baiklah di situ. Istirahat yang cukup, makan yang benar, tetaplah kuat, dan jangan lupa berdoa. Assalamu’alaikum…” tanpa menunggu jawaban salamnya, Ayah sudah menutup telpon.


‘Wa’alikumsalam, terima kasih, Yah. Ayah juga, jaga kesehatan, makan yang benar, tetaplah kuat untukku, aku pasti sanggup menghadapi semua ini. Ayah jangan terlalu khawatir." jawab Athena.


Dia tahu, puluhan kilometer di luar sana, Ayahnya pasti sedang menangis, tidak kuasa menahan sakit yang diderita putri kesayangannya.

__ADS_1


Airmata Athena luruh juga, seminggu ini tak tahu apa rasanya. Menangispun tak bisa. Dan malam ini air matanya mengalir deras. Bukan karena Baruna, tapi karena kasih sayang Ayahnya. Gadis itu sangat takut memikirkan bagaimana keluarganya akan menghadapi semua ini. Teramat sakit, gadis itu menangis hingga dadanya terasa sesak. Tidak ada yang ingin dia lakukan. Tidak tahu harus bagaimana.


to be continued...


__ADS_2