
"Kamu pindah rumah, Na?" tanya Dayu. Keesokan harinya.
"Rencananya begitu..." Jawab Athena, pasti Artha yang nyebarin berita nih.
"Butuh bantuan?"
"Sementara belum, kemarin udah dibantuin Artha pindahin barang-barang yang ga urgent aja. Yang masih aku butuhkan sehari-hari masih di kost."
"Besok-besok aku yang anterin ya, fix. No debat."
Athena smirk, kebiasaan. Maksa.
Dua minggu berlalu, Athena sudah menempati rumah barunya. Dayu makin lengket, ngekor terus. Tinggal iya aja dari Athena, resmi deh.
Athena sendiri merasa nyaman dengan adanya Dayu di sampingnya. Sebagai teman atau mungkin lebih dari sekedar teman. Athena belum bisa memastikan itu.
Kadang teringat Baruna, bagaimana bisa dia tidak pernah telp atau kirim pesan. Macam ga ada salah dan dosa aja. Bahkan ketemu pun belum pernah. Seperti ditelan bumi. Sim salabim abra kadabra, wush..... hilang tak berbekas. Athena juga tak ingin mencarinya. Hanya heran saja.
Hari ini seperti biasa, tugas luar. Dan seperti biasa juga ada mas GM yang ga mau ditinggal, harus nganterin dan kemudian berpesan jangan pulang dulu, nanti aku jemput. Padahal target cuma dikit.
Gadis itu teringat ingin membeli beberapa buku baru dan alat tulis. Akhirnya Athena masuk bookstore.
Tak jauh dari tempatnya memilih buku, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan dia, bahkan sudah mengikutinya sejak tadi.
__ADS_1
Baruna, lelaki itu tiba-tiba teringat masa lalunya. ternyata pergi ke bookstore masih jadi favorit Athena. gadis itu masih suka membaca buku.
Dulu hampir tiap Minggu ke Gramedia, dan sekarang ketemu lagi di bookstore juga.
Baruna mendekat.
"Na... Athena?!" ujar Baruna, saat Athena sedang berada di area novel.
Athena menoleh, memandangnya sesaat lalu kembali ke bacaannya.
"Na, kamu ada waktu sebentar?" ujar Baruna.
Athena diam. Not responding.
Athena tidak menghiraukannya, mempercepat jalannya menuju lobi.
Baruna meraih paksa tangan mantan tunangannya. "Na, please...!"
Athena mengibaskan tangannya. Menghela nafas, memandang Baruna dengan tatapan dingin, dan meneruskan jalannya.
Baruna memburunya. Kali ini berhasil berhenti tepat dihadapan Athena.
"Tidak ada yang perlu aku bicarakan denganmu. Jadi jangan halangi langkahku," ujar Athena.
__ADS_1
Baruna memegang pergelangan tangan Athena dengan kuat.
"Lepas!!" seru Athena.
"Ga, sebelum kamu dengarkan aku," jawab Baruna tak mau kalah. Adegan macam sinetron ini jelas mengundang perhatian pengunjung.
"Tidak ada yang perlu aku dengar dari kamu. Lepas..!!!"
Cengkeraman Baruna begitu kuat, nampak pergelangan tangan Athena memerah.
"Lepas..!!!" seru seseorang sambil mencengkram pergelangan tangan Baruna dengan kuat. Sontak Baruna melepaskan tangan Athena. Kemudian seseorang yang ternyata adalah Dayu segera menikung tangan Baruna sampai kesakitan.
"Jangan pernah ganggu Dia lagi, atau kau berhadapan denganku!" ancam Dayu sambil mendorong Baruna dan melepaskan tangannya. Lalu berbalik ke Athena yang meringis kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya.
"Sakit, Na? Dia ngapain aja sama kamu?" tanya Dayu yang kemudian memeriksa tangan kanan Athena.
"Na... siapa dia? apa saking sakit hatinya kamu terus kamu mau aja sama sembarangan orang?" Baruna mulai meracau. "Athena yang aku kenal ga begini, Athena yang aku kenal tidak pernah bersama orang asing. Murahan sekali kamu."
Dada Athena bergemuruh.
"Na, kamu pengin dia masuk kemana? Masuk rumah sakit atau masuk kuburan?" tanya Dayu.
to be continued...
__ADS_1