
Seperti biasanya Athena bangun saat adzan subuh berkumandang. Menyelesaikan kewajiban paginya, membuat sarapan untuk dirinya sendiri dan bersiap berangkat kerja.
'Na, mau berangkat sendiri apa aku jemput?' pesan dari Artha.
'Berangkat sendiri aja, udah ready kok ...' balas Athena.
'Okeh...' jawab Artha.
Sebelum jam 07.00 Athena keluar rumah. Buka gerbang, manasin motor, dan... hap!!! ada seseorang yang membekap mulutnya. Athena memberontak, tapi makin dia memberontak makin banyak obat bius yang terhirup dan tak tahu apa-apa lagi.
Saat terbangun gadis itu merasa kepalanya berat. Mencoba membuka matanya lebar-lebar. Belum sempat menyadari keadaannya, sisa kantuk masih menyerang, dan akhirnya tertidur lagi.
"Sayang, bangunlah..."
sayup-sayup Athena mendengar suara seorang laki-laki. Sekuat tenaga gadis itu mencoba membuka mata.
"Kau sudah tidur terlalu lama..."
Deg. Suara Baruna. Athena membulatkan matanya. Mencoba berteriak.
'Apa ini?' batinnya. Saat itu dia baru menyadari. Tangan dan kakinya diikat, mulutnya juga ditutup lakban. 'brengs*k...!'
Baruna tersenyum. Dia mengelus pipi gadis di depannya.
Athena menatap tajam.
__ADS_1
Baruna melepaskan lakban yang menutup mulutnya. Dengan cepat Athena melud*hi wajah Baruna.
"Pengec*t...!" Teriak Athena.
Baruna tertawa, "aku cuma ingin bertemu dan bicara baik-baik, tapi kamu sok jual mahal. Rasakan saja akibatnya. O iya, kamar ini kedap suara. Sekencang apapun kamu berteriak, tidak akan ada yang mendengar."
Athena diam saja, simpan tenaga untuk melawannya nanti saat lengah.
"Nana sayang... Aku sangat merindukanmu, aku benar-benar tidak tahu akan jadi begini. Tolong maafkan aku, Na..."
Athena hanya menatap sengit, lalu membuang muka.
"Na... please. Mumpung aku masih bicara baik-baik. Aku benar-benar menyesal. Aku tidak serius dengan Deasy. Aku hanya terbawa keadaan dan kamu memergokiku. Maafkan aku, Na. Kita balikan ya...?!"
"Aku tidak akan melepaskanmu...!"
"Aku tidak akan pernah menerimamu kembali."
"Na... sekali-kali orang juga bisa khilaf, jangan keras kepala begitu. Kita pernah bahagia. Berarti kita juga bisa bahagia lagi..."
"Tidak!"
Baruna meraih dagu Athena bermaksud menciumnya. Tapi dengan cepat Athena membenturkan kepalanya ke wajah Baruna dengan keras.
Baruna mundur, meringis kesakitan. Hidungnya berdarah. Baruna meraih tissue yg ada di kamar itu dan menutup hidungnya. Rasa nyeri memenuhi kepalanya.
__ADS_1
Dengan jengkel Baruna memasang lakban ke mulut Athena lagi.
"Waktu makan siang sebentar lagi habis. Aku harus kembali ke kantor, dan... tetaplah dirumah. Tunggu aku pulang. Nanti sore kita pergi ke rumah orang tuamu."
Athena hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Tidak sayang, kamu adalah tipe gadis yang lembut, kata-katamu selalu bagus dan sopan. Tidak cocok untuk mengumpat sumpah serapah. Calon istri dan juga ibu dari anak-anakku. I love you, Na." Baruna tersenyum dan keluar. Tak lupa dikuncinya kamar itu dengan benar.
Athena mencoba bergerak. Kedua kakinya terikat, lututnya terikat dan diikatkan di kursi. Pinggang terikat di kursi juga, tangan terikat ke belakang kursi. Mulutnya dibekap.
Gadis itu memandang sekeliling, mencari benda tajam yang mungkin bisa digunakan untuk melepaskan ikatan cinta si Baruna ini.
Kursi kayu ini juga berat sekali, hampir tidak bergerak saat Athena mencoba menggoyangkan badannya ke kanan-kiri. Niat banget si kunyuk itu culik gue, ini mah udah persiapan banget. Kamar udah dibersihkan dari segala kemungkinan yang bisa membuat aku kabur. Ga ada vas bunga yang bisa dipecah. Ga ada gelas, ga ada cutter, apalagi gunting.
Athena seperti mendengar sesuatu di luar pintu. Ini bukan jam pulang kerja. Dan lagi kalau itu si Baruna, dia akan langsung masuk. Wah...
Athena menatap pintu, ada suara-suara kunci pintu sedang berusaha dibuka. Jantungnya berdegup kencang.
Pintu terbuka.
'Dayu...!' batin Athena yang hanya bisa memandangnya. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Athena..." Panggil Dayu sambil mendekat.
to be continued...
__ADS_1